
Tiara tiba di kediaman sang sahabat, Zahra yang mengetahui kedatangan sang sahabat pun langsung bersorak senang, Zahra menyambut kedatangan Tiara.
"Assalamualaikum" ucap Tiara.
"Waalayikumsalam" ucap Zahra menjawab salam dari Tiara.
"Zahra" peluk Tiara pada sang sahabat.
"Aku kangen banget tau gak sama kamu" ucap Zahra membalas pelukan Tiara.
"Sama aku juga kangen, sendirian di kampus gak ada teman" ucap Tiara cemberut.
Zahra yang melihat sang sahabat pun hanya tersenyum, Tiara memang selalu mengemaskan kalau lagi cemberut gitu.
"Ayo masuk, di dalam ada bunda" ucap Zahra mengajak Tiara.
"Ayo" ajak Tiara.
Zahra dan Tiara masuk ke dalam, terlihat bunda sedang menonton di rumah TV, Tiara pun langsung memberi salam dan menyalami punggung tangan bunda.
"Sayang kok kamu jarang sih ke sini" tanya bunda.
"Jangan sering-sering bunda, kan Zahra udah punya suami" ucap Tiara tersenyum melihat Zahra.
"Kamu kapan nyusul" tanya bunda.
"Inya Allah bun, doain aja ya" ucap Tiara sambil tersenyum.
Sedangkan Zahra dan Tiara saling pandang dan tertawa melihat Tiara yang malu-malu, Zahra juga sudah tau kedekatan gadis itu dengan Erik, kalau di tanya dari mana Zahra tau ya dari sang suami, karena Erik sering menceritakan pada Iqbal.
"Gimana kabar kedua orang tua kamu nak" tanya bunda.
"Alhamdulillah sehat bun, iya mama titip salam buat bunda sama Zahra" ucap Tiara.
"Waalayikumsalam,, salam balik buat mama kamu ya nak" ucap bunda dan Tiara hanya mengangguk kepalanya.
Ketiganya larut dalam obrolan, sesekali Tiara menanyakan keadaan kandungan Zahra yang masi sangat muda itu.
"Zah, kamu masi suka mual?" tanya Tiara.
"Alhamdulillah,, udah gak terlalu Ra" ucap Zahra.
Kedua sahabat itu melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, biasanya keduanya akan bertemu dan menghabiskan waktu di kampus, tapi karena Zahra yang saat ini sedang hamil mudah, membuat Zahra harus cuti kuliah dulu dan Tiara tak memiliki sahabat dekat selain Zahra.
☘☘☘☘
Clekk...
Pintu ruangan Zaki terbuka, Mutiara masuk karena mendapat telpon dari sang bos, Zaki yang sedang fokus dengan lap top miliknya di atas meja, mendengar suara pintu terbuka Zaki pun mendongak kepalanya melihat ke arah pintu.
Mutiara berjalan ke arah depan meja sang bos, Zaki pun meminggirkan lap top miliknya dari hadapannya.
"Nanti siang makan bareng ya" ucap Zaki.
"Ya udah sekalian aja ajak teman kamu, beres kan" ucap Zaki.
"Apa gak papa" tanya Mutiara.
"Gak papa kok" ucap Zaki.
"Oke lah, nanti aku kasih tau Vani" ucap Mutiara.
"Ada yang bisa di bantu lagi?" tanya Mutiara.
"Buatkan aku kopi ya" ucap Zaki.
"Iya aku buat kan dulu" ucap Mutiara berbalik dan hendak keluar.
Sedangkan Zaki memandang punggung sang kekasih sambil tersenyum, Zaki gak nyangka kalau dia akan jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri, Zaki menggeleng-geleng kepalanya sendiri dan kembali menaruh lap top miliknya di depan.
Mutiara sampai di dapur dan membuatkan kopi untuk sang bos, tapi tiba-tiba Mutiara mendengar suara obrolan dari balik dinding.
"Aku gak suka sama si Mutiara itu, kita harus bisa bikin dia keluar dari kantor ini" ucap salah satu wanita.
"Iya, dia tuh sering banget sama sih bos" ucap wanita yang satunya.
"Kita harus bikin renjana buat dia di pecat" ucap wanita yang satu.
"Kamu benar" ucap wanita yang satunya.
Sedangkan Mutiara hanya menggeleng kepala mendengar obrolan itu, ada saja orang yang gak suka sama dia di kantor.
Mutiara tak memperdulikan itu, selesai membuat kopi untuk Zaki, Mutiara kembali lagi ke ruangan Zaki untuk mengantar kopi yang di minta oleh Zaki.
Mutiara langsung masuk tampa mengetuk pintu, Mutiara melihat sang bos sudah kembali fokus lagi dengan lap top miliknya.
Mutiara meletakan kopi yang ia bawa di dekat sang bos, lalu Mutiara menghela nafas panjang dan melihat Zaki.
"Aku kembali bekerja lagi ya" ucap Mutiara.
Bukanya menjawab Zaki mala melihat sang kekasih yang wajahnya terlihat murung, membuat Zaki mengernyit kening heran.
"Kamu kenapa, sakit lagi?" tanya Zaki.
"Aku gak papa ko, aku kembali bekerja lagi ya" ucap Mutiara memaksakan tersenyum.
"Jangan bohong sama aku" ucap Zaki tegas.
Mutiara pun menceritakan pada Zaki soal percakapan dua karyawan yang ia dengar tadi di dapur, Zaki yang mendengar cerita sang kekasih menjadi marah dan emosi.
Mutiara yang melihat Zaki mulai emosi pun langsung menenangkan nya, Mutiara gak mau Zaki nanti marah-marah pada para karyawan itu cuma karena dirinya.
Bersambung....