
Ayah dan bunda saat ini sedang bersiap-siap untuk pulang ke bandung.
"Ayah, ko tiba-tiba perasaan bunda gak enak gini ya" ucap bunda pada ayah.
"Berzikir Bun, biar hati tenang" kata ayah menenangkan istrinya.
Sejujurnya ayah juga punya perasaan yang gak enak seperti apa yang bunda rasakan.
******
Zahra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang hari ini dia ada kelas pagi.
Zahra tiba di kampus dan dia melihat Iqbal berjalan mendekati mobilnya.
Tukk...Tukk...
Iqbal mengetuk kaca mobil Zahra dan langsung di buka sama yang punya mobil.
"Ntar malam ada waktu gak" tanya Iqbal.
"Gak ada kak" jawab Zahra.
"Ntar jam 7 malam aku jemput, aku gak mau dengar penolakan" ucap Iqbal thu dhe poin.
Zahra hanya melongo mendengar perkataan Iqbal barusan.
Lalu Iqbal membukakan pintu untuk Zahra hal itu membuat Zahra terdiam dengan sikap manis Iqbal.
"Aku ke kelas dulu kak, 5 menit lagi dosen masuk" ucap Zahra.
"Iya hati-hati jangan lupa ntar malam" ucap Iqbal.
Zahra hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban lalu pergi ke dalam kelasnya.
Dari ke jauhan Erik dan Aldo yang melihat sahabatnya sedang memperjuangkan seorang gadis hanya menggeleng-geleng kepala, bagai mana tidak seorang Casanova seperti Iqbal bisa sebucin ini pada gadis yang bernama Zahra'tul Syita.
Iqbal yang melihat ke dua sahabatnya berjalan mendekati mereka.
"Ngajakin kencan bro" ledek Erik.
"Udah mulai bucin nih" ledek Aldo lagi.
Iqbal tidak menanggapi omongan kedua sahabatnya, Iqbal mala berjalan menuju kelas mereka.
Dari ke jauhan seorang wanita tersenyum jahat pada Iqbal, dia sudah menyusun rencana untuk menghancurkan mereka.
Di kelas Zahra dan Tiara sedang mengobrol.
"Zah, kamu beneran suka sama Iqbal" tanya Tiara.
Zahra langsung menjawab dengan anggukan kepala, dia tidak bisa berbohong kalau di juga mempunyai perasaan untuk Iqbal.
"Ntar malam dia ngajak keluar" ucap Zahra tiba-tiba.
"Aku cuma bisa dukung kamu, kalau sampai dia sakitin kamu aku orang pertama yang akan nyakar-nyakar mukanya dia" ucap Tiara yang membuat Zahra tertawa.
******
Tiga orang preman kini sedang menunggu targetnya.
Zahra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia baru saja mendapatkan kabar kalau kedua orang tuanya kini baru tiba di rumah dan hal itu membuat Zahra senang karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya.
Mobil Zahra saat ini melintas di jalan yang sedikit sepi tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang karena Zahra memili jalan yang lain untuk menghindari kemacetan.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang datang dan langsung menghadang mobil Zahra, Zahra langsung berhenti mendadak dan membuat jidatnya membentur stir mobil.
Zahra merigis memegang jidatnya yang terluka sedikit mengeluarkan dara, dia melihat mobil yang menghadangnya itu lalu keluar orang-orang yang tidak di kenalnya.
Orang-orang itu menggedor-gedor kaca mobil milik Zahra, Zahra menjadi panik dan takut Tampa pikir lagi Zahra mengambil ponselnya untuk menelpon kedua orang tuannya tapi terlambat salah satu preman itu langsung membuka paksa pintu mobil Zahra lalu menarik paksa Zahra masuk ke mobil mereka.
"Siap kalian, kalian mau apa" ucap Zahra berteriak ketakutan.
"Diam kamu" bentak bos preman itu.
"Tolong lepaskan saya, saya mohon" ucap Zahra dengan berlinang air mata.
"Tolonggggg... Toolonngg" teriak Zahra.
"Percuma kamu teriak manis tidak ada yang mendengarkan mu" ucap bos preman.
Mulut Zahra di tutup mengunakan lakban, dia tidak bisa berteriak lagi, dia hanya berharap ada yang bisa menolongnya saat ini.
Mobil yang membawa Zahra saat ini berhenti di sebuah rumah tua di pinggiran hutan.
Preman-preman itu membawa Zahra masuk kedalam sebuah kamar lalu menguncinya.
Zahra hanya bisa menangis dengan mulut yang di bekap, samar-samar Zahra mendengar preman itu menelpon seseorang.
"Hallo, bos kami suda menculik gadis itu" ucap si preman.
"........"
"Baik bos" ucap preman itu.
Di seberang sana seorang wanita tersenyum puas karena rencananya berjalan mulus tinggal menunggu kehancuran Zahra.
******
Di kediaman rumah Zahra...
"Ayah ko Zahra belum sampai juga" Bunda berucap dengan raut wajah kwartir.
"Sabar Bun mungkin kena macet" jawab ayah menenagi istrinya.
"Coba Ayah telpon dulu" ucap bunda.
Ayah langsung menelpon putrinya, panggilan pertama tak di jawab panggilan kedua sama tak di jawab juga.
"Gak di jawab Bunda" kata ayah mulai kwartir.
"Coba ayah telpon Tiara" ucap bunda.
Ayah menelpon Tiara dan langsung di angkat oleh Tiara.
"Hallo, Assalamualaikum,, Om" ucap Tiara dari seberang telpon.
"Waalayikumsalam,, Tiara apa Zahra masi di kampus" Tanya Ayah.
"Zahra uda pulang dari 1 jam yang lalu om, Zahra bilang sama Tiara dia balik duluan karena om sama tante udah ada di rumah" jawab Tiara.
"Sampai sekarang Zahra belum ada" ucap ayah dengan kwartir.
Hal yang sama pun di rasakan oleh Tiara, setelah telpon dari ayah sahabatnya terputus Tiara langsung menelpon nomor Zahra masuk tapi tidak di angkat.
******
Tiga pria kini sedang mengendap-gedap dari belakang rumah tua itu, mereka bertiga melihat preman-preman itu sedang minum-minum di dalam tapi mereka bertiga tidak melihat Zahra.
Ia ketiga pria itu adalah Iqbal dan kedua sahabatnya, pada saat perjalanan pulang Iqbal melihat mobil Zahra di hadang oleh para preman karena hanya seorang diri Iqbal menelpon kedua sahabatnya dan di sinilah mereka sekarang di rumah tua tempat Zahra di sekap.
"Gue rasa Zahra ada di dalam kamar itu" ucap Erik.
"Iya benar kata Erik" kata Aldo.
"Kita bertiga harus bisa mengelabui para preman itu" ucap Iqbal
Mereka bertiga mulai menyusun rencana, lalu Erik dan Aldo mematahkan sebuah ranting kayu untuk membuat preman-preman itu keluar.
"Suara apa itu" ucap salah satu preman.
"Sepertinya ada orang bos" kata preman yang satunya.
Lalu preman-preman itu keluar untuk melihat apakah ada orang atau tidak.
Setelah semua preman keluar, Iqbal dengan cepat masuk kedalam rumah tua itu, Iqbal mencari kamar yang menyekap Zahra, Iqbal membuka satu kamar yang sedikit gelap Iqbal mendengar suara isak kan yang tertahan, Iqbal mengedarkan pandangannya dan melihat Zahra meringkuk di sudut lemari usang dengan menutup kedua matanya, Iqbal langsung mendekati Zahra lalu memeluk gadis itu.
Zahra yang merasa ada seseorang yang memeluknya menjadi gemetar, tapi Zahra mengenali bau parfum itu, Zahra membuka kedua matanya lalu melihat orang yang memeluknya adalah Iqbal, Zahra membalas pelukan Iqbal air matanya tak henti-hentinya mengalir dari kedua pipi mulusnya.
Iqbal melonggarkan pelukan mereka dan melihat wajah gadis yang dia cintai, Iqbal melepas lakban yang menutupi mulut Zahra.
Iqbal lalu menghapus air mata yang mengalir dari pipi mulus Zahra, pandangan Iqbal terfokus pada jidat Zahra yang terluka, Iqbal lalu mengusapnya dengan lembut lalu mengusap jidat Zahra, Zahra memejamkan matanya merasakan jemari Iqbal mengusap jidatnya yang terbentur tadi.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Jangan lupa Lik, Comen dan Votenya ya, biar aku makin semagat nulisnya๐๐