Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Iqbal dan Zahra keluar dari ruangan Iqbal, saat ini keduanya berjalan ke arah lift.


"Mas, itu mas Dimas" ucap Zahra menunjuk ke arah Dimas.


Iqbal melihat ke arah yang di tunjuk oleh sang istri, Dimas berjalan pelan ke arah ruangannya.


"Dim" panggil Gilang, membuat Dimas melihat ke arah sang bis.


"Bos, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dimas mendekati sang bos dan sang istri.


"Gak papa, saya udah mau pulang sama istri saya, kamu tolong nanti letakan saja berkas yang tadi di ruangan saya ya" ucap Iqbal.


"Iya baik bos" jawab Dimas.


"Kalau kamu sudah selesai kerja pulanglah cepat istirahat" ucap Iqbal menepuk punggung sang sahabat dengan pelan.


"Baik bos" ucap Dimas.


"Kalau gitu kami duluan ya" ucap Iqbal.


"Baik bos, hati-hati ya" ucap Dimas.


"Iya" ucap Iqbal dan Zahra, lalu masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai bawa.


Sedangkan Dimas masuk ke dalam ruangannya dan mengambil berkas yang di minta sang bos, lalu membawa ke ruangan Iqbal seperti permintaan Iqbal tadi.


"Mas, mampir makan batagor ya di tempat biasa" ucap Zahra memeluk lengan sang suami.


"Iya sayang" ucap Iqbal mencubit hidung sang istri.


"Iih mas" ucap Zahra, dan Iqbal hanya tersenyum melihat sang istri.


"Ayo silahkan masuk istri ku" ucap Iqbal membukakan pintu untuk sang istri.


"Makasih mas" jawab Zahra masuk ke dalam mobil, begitu pun dengan Iqbal yang masuk ke kursi kemudi.


"Sini mas bantu pasang sabuk pengaman" ucap Iqbal.


"Kok di cubit sih?" tanya Iqbal.


"Kenapa gak suka?" tanya Zahra.


"Suka kok, tapi mas lebih suka di cium" ucap Iqbal sambil tersenyum.


"Ish mas ini" ucap Iqbal.


Mobil lalu keluar dari lobby kantor Gunawan, Iqbal mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Iqbal sesekali melirik sang istri yang duduk di dekat nya.


"Mas nanti mas juga ikut makan ya sama aku" ucap Zahra menatap sang suami.


"Ita sayang nanti mas ikut makan ya" ucap Iqbal mengusap kepala sang istri yang tertutupi kerudung.


Zahra lalu mengusap perut nya yang sudah mulai membesar itu dengan lembut, membuat Iqbal yang duduk sambil mengemudi mobil tersenyum senang melihat itu.


20 menit kemudian mobil yang di kendarai oleh Iqbal tiba di depan gerobak penjual batagor kesukaan sang istri.


"Ayo sayang turun" ajak Iqbal.


"Rupanya usah sampe ya mas?" ucap Zahra melihat keluar jendela.


"Iya sayang, ayo turun?" ajak Iqbal.


Iqbal dan Zahra turun dari dalam mobil, dan langsung mendekati gerobak penjual batagor itu.


"Eh neng Zahra sama mas Iqbal" sapa pak penjual dengan ramah karena sudah mengenali Zahra dan Iqbal.


"Iya pak, batagornya dua ya pak biasa" ucap Iqbal mengajak sang istri duduk di kursi.


"Oke siap neng, mas tunggu bentar ya" ucap pak penjual.


Dan Iqbal dan Zahra hanya tersenyum melihat semangat pak penjual itu dalam melayani mereka, Iqbal membantu sang istri duduk di salah sagu kursi, lalu Iqbal duduk di dekat Zahra.


Sambil menunggu batagor sedang di buat oleh pak penjual, Iqbal terlihat merapikan hijab sang istri yang terlihat sangat miring, membaut pembeli lain melihat ke arah pasangan suami dan istri itu.