Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Zaki menuntun sang istri dengan pelan masuk ke dalam restoran itu, karena saat ini kondisi Mutiara sedang jamil, Mutiara pun hanya mengunakan sendal saja.


"Mas, kenapa sih mata aku pake cara di tutup gini," ucap Mutiara.


"Mas punya kejutan buat kamu sayang," ucap Zaki sambil tersenyum, walaupun sang istri tidak melihat itu.


Zaki mengajak sang istri masuk ke dalam restoran, restoran yang sudah di sulap sebagus mungkin, terdapat beberapa balon di sudut ruangan, dan kue ulang tahun yang bertuliskan nama sang istri di atas meja.


Zaki menuntun sang istri berdiri di depan meja, yang terdapat kue ulang tahun. Teman Mutiara vani sudah menunggu di sana juga bersama yang lain.


"Mas buka ya," ucap Zaki pelan.


"Iya mas," ucap Mutiara.


Zaki mulai membuka penutup mata sang istri, dengan pelan Mutiara membuka kedua matanya, dan melihat sekeliling nya.


Mutiara melihat ada beberapa orang di sana dan ada sang sahabat juga Vani.


"Selamat ulang Tahun istri ku," ucap Zaki menatap sang istri dengan manis.


"Mas, kamu yang bikin ini semua?" tanya Mutiara melihat sang suami.


"Iya sayang, kok bisa lupa sih hari ulang tahun?" tanya Zaki.


"Hehheee, maklum mas udah makin tua," ucap Mutiara sambil tersenyum geli.


"Ayo sekarang tiup lilin," ucap Zaki memasang kan lili yang ada di atas kue ulang tahun Mutiara.


Vani dan yang lain pun bernyanyi, Mutiara pun bersiap meniup lilin nya, tapi Zaki meminta sang istri untuk berdoa terlebih dahulu.


Mutiara memanjatkan berdoa pada Allah SWT, untuk selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan.


Ffuufff...


Lili mati di tiup oleh Mutiara, semua yang adab di sana memberikan selamat untuk ibu hamil itu, Mutiara terlihat begitu bahagia dalam pelukan sang suami.


"Selamat ulang tahun ya, doa terbaik untuk kamu istriku," ucap Zaki mencium kening sang istri cukup lama.


"Duuhh, pamer keromantisan terus nih," ucap Vani sambil tersenyum.


"Makannya cepat nikah Van," ucap Mutiara sambil tersenyum melihat sang sahabat.


"Iya-iya deh yang udah halal," ucap Vani sambil cemberut.


Membuat semua yang ada di sana tersenyum melihat wajah kesal Vani, tapi mereka tau kalau Vani hanya lah bercanda saja.


****


Seorang bocah kecil baru saja pulang dari sekolah, bocah kecil itu terlihat begitu antusias memasuki rumah besar mereka.


"Assalamualaikum,, kaka cantik, emon pulang nih," ucap emin dari arah ruang depan.


"Kaka cantik, kok gak ada ya," ucap bocah kecil itu seorang diri.


Emon pergi ke kamar untuk mencari kaka cantiknya, sebelum ketemu bocah kecil itu tidak akan berhenti.


Clekkk...


Emon membuka pintu dan melihat kaka cantik sedang berbaring di atas ranjang, Emon pun mendekati kak Tiara.


"Yah kaka cantik lagi bobo, gimana ya Emon kan mau nunjukin sesuatu sama kaka cantik," ucap bocah kecil itu.


"Emon tunggu aja deh sampai bangun," ucap Emon, ikut berbaring di dekat kaka iparnya itu.


Tidak di sangka bocah kecil itu juga ikut ter tidur, sambil memeluk bantal guling yang ada di dekatnya.


Di lantai bawa sang mama sudah panik mencari sang anak yang ia pikir belum pulang sekolah.


"Bi, bibi emon ke mana ya kok gak ada di kamar sih?" tanya mama Erik.


"Bibi juga gak liat nya, tadi bibi seperti dengar suara den Emon deh nya," ucap bibi.


"Apa di kamar kaka nya ya, kan dia sering ke atas. Tapi kok seragam nya gak ada di kamar sih," ucap mama Erik.


"Kita coba periksa aja nya." ajak bibi.


"Ayo bi," ucap mama Erik naik ke lantai dua bersama bibi.


Sesampainya di depan pintu kamar Erik dan Tiara, bibi mengetuk pintu terlebih dahulu, karena tak mendapat sahutan, mama Erik pun membuka pintu kamar dengan pelan.


Clekk...


Mama Erik dan bibi saling pandang melihat Emon yang masi mengunakan seragam sekolah, sedang tertidur nyenyak di dekat kaka iparnya itu, Emon terlihat begitu nyenyak di alam mimpi.


"Nya, den Emon lagi tidur, sama non Tiara tuh," ucap bibi dengan berbisik pelan.


"Ya sudah bi, biarkan saja ayo kita turun, bentar lagi pasti mereka bangun," ucap mama Erik kembali menutup pintu itu.


☘☘☘☘


"Mas, bangun mas udah siang," ucap Zahra me manggil kan sang suami.


"Sayang, dikit lagi mas masi ngantuk," ucap Iqbal kembali memeluk guling nya.


"Gak mas, ini udah siang katanya mau rapat," ucap Zahra membuat Iqbal bangun dengan cepat.


"Udah jam berapa sayang?" tanya Iqbal sambil mengucek kedua matanya.


"Tuh liat, udah telat dari tadi hp mas bunyi, kayaknya mas Dimas deh yang nelpon," ucap Zahra.


"Ya sudah mas mandi dulu ya, kalau Dimas telpon lagi, tolong di angkat ya sayang," ucap Iqbal beranjak turun dari ranjang.


"Iya, sana mas cepat mandi," ucap Zahra.


Zahra hanya menggeleng kepala melihat sang suami, Zahra lalu beranjak turun juga dari ranjang, siang ini Iqbal ada rapat bersama para rekan bisnis. Tapi rapat online, Iqbal bisa bertatap muka dengan anggota rapat melalui lap top dan bisa dari rumah, begit