
Zahra dan Iqbal tiba di rumah sakit, Iqbal membantu sang istri untuk turun dari mobil.
"Pelan-pelan sayang" ucap Iqbal.
"Masi pusing" tanya Iqbal.
"Dikit mas" ucap Zahra.
"Ayo pelan-pelan aja jalannya ya" ucap Iqbal.
Sampai di dalam Iqbal mengambil nomor antrian dan menulis nama sang istri, sedangkan Zahra menunggu di kursi tunggu yang sudah di sediakan di depan ruangan dokter kandungan.
Zahra melihat banyak ibu-ibu hamil yang sedang, menunggu nama mereka di panggil. Zara melihat seorang ibu hamil besar keluar dari ruangan dokter kandungan dengan di temani sang suami.
"Sayang" panggil Iqbal.
"Mas udah" tanya Zahra.
"Udah sayang, kita tinggal tunggu nama kamu di panggil" ucap Iqbal.
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya nama Zahra di panggil oleh seorang suster.
"Ibu ZahraTul Syita mari bu silahkan masuk" ucap seorang suster.
"Ayo sayang" ajak Iqbal menuntun sang istri masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
"Iqbal" panggi seorang wanita yang berjas puti, yang ternyata adalah seorang dokter kandungan.
"Nabila" ucap Iqbal.
"Silahkan duduk, ini istri kamu?" tanya Nabila yang ternyata adalah sahabat SMA Iqbal.
"Iya" ucap Iqbal sambil tersenyum.
"Cantik" ucap Nabila tersenyum melihat wanita berhijab yang duduk di sebelah Iqbal.
"Istri siapa dulu dong" ucap Iqbal dengan bangga.
"Kamu tuh ya gak berubah dari dulu" ucap Nabila sambil tertawa melihat gaya sahabat SMA nya.
"Iya-iya, kita periksa istri loh dulu" ucap Nabila menyudahi percakapan mereka.
Dokter Nabila meminta Zahra untuk berbaring ranjang pasien, dengan di bantu seorang suster, dokter Nabila pun memulai USG nya.
Iqbal yang berada di dekat sang istri menggenggam erat tangan sang istri, Iqbal dan Zahra melihat ke arah monitor di mana dokter Nabila menjelaskan.
"Ini kondisi janin yang ada di dalam kandungan bu Zahra, saat ini usia kandungan bu Zahra baru memasuki minggu ke dua" ucap dokter Nabila menjelaskan.
"Jadi istri gue beneran hamil Nab?" tanya Iqbal sekali lagi.
"Iya loh akan jadi bapak, di dalam perut istri loh ada Iqbal, atau kalau Zahra junior" ucap dokter Nabila.
"Iya mas Alhamdulillah" ucap Zahra dengan senyum bahagia juga.
Suter kembali membantu Zahra bangun, dan Iqbal menuntun sang istri kembali duduk di kursi depan meja dokter Nabila.
"Ini vitamin penghilang mual, kalau bu Zahra merasakan mual ya" ucap dokter Nabila.
"Iya dok, terimakasih ya dok" ucap Zahra.
"Sama-sama bu, buat pak Iqbal tolong ya di jagain istrinya jangan sampai kecapean karena usia kehamilan bu Zahra masi sangat mudah" ucap dokter Nabila melihat sang sahabat.
"Siap dok, saya akan menjaga istri dan calon anak kami" ucap Iqbal menatap penuh cinta pada sang istri.
Sedangkan dokter Nabila hanya menggeleng kepala melihat sahabatnya itu, Nabila gak nyangka kalau Iqbal akan menemukan jodoh wanita soleha seperti Zahra.
Usai memeriksa kandungan sang istri, Iqbal pun mengajak Zahra pulang. Karena Zahra harus banyak istirahat seperti apa kata dokter Nabila.
Iqbal akan menunggu kondisi sang istri stabil dulu, baru mereka akan kembali ke rumah Gunawan, nanti Iqbal akan memberitahu kedua orang tuanya perihal kehamilan sang istri.
Saat ini pasangan suami dan istri itu sudah berada di dalam mobil, senyum terus terukir di bibir kedua pasangan suami dan istri itu, kemudian mobil Iqbal keluar dari area parkiran rumah sakit.
"Sayang kamu gak pengen apa-apa?" tanya Iqbal melihat sang istri, karena Iqbal tau orang hamil banyak mau nya.
"Gak mas, aku cuma pengen cepat pulang dan istirahat" ucap Zahra dan Iqbal hanya mengangguk kepala nya.
Mobil Iqbal tiba di halaman rumah Zahra, keduanya langsung di sambut antusias oleh bunda, karena bunda juga jangan mengharapkan kabar gembira itu dari kedua anaknya.
"Assalamualaikum bunda" ucap Iqbal dan Zahra.
"Waalayikumsalam sayang, gimana hasilnya" tanya bunda.
"Alhamdulillah bunda, bunda akan segera punya cucu" ucap Iqbal tersenyum senang.
"Alhamdulillah terimakasih Ya Allah" ucap bunda mengucapkan syukur nya.
Membuat Iqbal dan Zahra ikut senang melihat bunda bahagia, apa lagi ayah dan abang Zaki dan juga kedua orang tua Iqbal pasti senang banget.
"Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat ya sayang, gak boleh kecapean" ucap bunda.
"Iya bunda kata dokter juga gitu" ucap Zahra.
"Iya, nak Iqbal ajak istri kamu ke kamar ya" ucap bunda pada sang menantu.
"Iya bunda, ayo sayang" ajak Iqbal.
Bunda melihat pasangan suami dan istri itu sambil tersenyum, sekarang mereka sudah menjadi orang tua.
Bersambung....