Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
Masakan Bunda Enak



Tiara sedang membantu bunda untuk menata menu makan siang mereka, sedangkan Zahra di minta duduk manis di kursi meja makan.


Zahra tersenyum melihat sang sahabat yang dengan lincah nya membantu sang bunda.


"Bunda, Ra kenapa sih kalian nyuruh aku duduk aja, aku kan pengen juga bantu kalian" ucap Zahra.


"Udah kamu duduk manis aja, kamu itu harus banyak istirahat Zah" ucap Tiara sambil tersenyum melihat sang sahabat.


"Bentar lagi selesai kok sayang" ucap bunda.


Zahra lagi-lagi hanya bisa menggeleng kepala melihat bunda dan sang sahabat yang melarangnya ini, itu.


"Selesai deh" ucap Tiara.


"Ayo sayang sekarang kita makan siang" ucap bunda.


Zahra bersiap akan mengambil menu makan siang, tapi bunda melarangnya dan bunda yang mengambilkan menu itu pada sang putri.


"Bunda ini udah berlebihan" ucap Zahra.


"Gak papa sayang, mumpung kamu lagi di rumah jadi biar bunda ya" ucap bunda, karena ia tau sang putri dan suaminya secepatnya akan kembali ke kediaman Iqbal sang suami.


Zahra mengerti apa maksud sang bunda, karena ia dan Iqbal akan segera kembali ke rumah sang suami beberapa hari lagi.


Sedangkan Tiara hanya tersenyum melihat bunda dan sang sahabat.


"Zahra janji akan sering-sering menginap di sini bun" ucap Zahra tersenyum.


"Iya sayang, ayo sekarang makan duku pasti cucu bunda udah laper" ucap bunda.


"Nak ini lauknya" ucap bunda pada Tiara.


"Iya bun ini udah ada kok bun, masakan bunda enak" ucap Tiara memuji masakan bunda.


"Makasih sayang" ucap bunda


Bunda, Zahra dan Tiara pun makan siang bersama, sesekali ketiga nya tertawa karena obrolan yang tercipta di meja makan.


☘☘☘☘


Sedangkan di sisi lain Zaki dan Mutiara saat ini sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju restoran langenan mereka untuk makan siang.


Zaki melihat wajah sang kekasih yang sedari tadi hanya melihat ke luar jendela, Zaki tau apa yang membuat gadis berhijab itu diam membisu.


"Masih marah?" tanya Zaki masi tetap fokus dengan menyetir mobil.


"Kenapa sih kamu harus mecat mereka, kan kasian" ucap Mutiara melihat Zaki.


Zaki menghela nafasnya dengan kasar, karena setiap hal yang akan mereka bahas pasti itu-itu terus.


"Aku gak mau ada orang jahat bekerja di kantor aku, dan aku gak mau ada orang yang nyakitin kamu" ucap Zaki tegas.


Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Zaki tiba di parkiran restoran, keduanya turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam restoran.


Terlihat Vani sahabat dari Mutiara sudah menunggu di salah satu meja, Zaki dan Mutiara pun mendekati Vani.


"Van maaf ya udah nunggu lama" ucap Mutiara duduk di salah satu kursi, begitu pun dengan Zaki.


"Gak papa ko santai aja" ucap Vani tersenyum melihat Zaki dan Mutiara.


Vani melihat Zaki dan Mutiara yang baru sampai itu, Vani melihat tak biasanya keduanya diam-diaman gitu kalau ketemu Vani, Vani dan Mutiara pun mulai memesan makanan siang mereka, sedangkan Zaki hanya diam saja sambil memainkan ponsel miliknya.


☘☘☘☘


Iqbal dan Dimas saat ini sedang menunggu pesanan makan siang mereka, Dimas sudah memesankan dari via aplikasi online.


Iqbal mengambil ponsel miliknya dan menghubungi sang istri.


"Holla sayang lagi apa, udah makan siang belum?" tanya Iqbal setelah sambungan telpon terhubung.


"Ini mas lagi ngobrol sama Tiara, iya kita udah makan kok" jawab Zahra.


"Tiara udah ada ya" tanya Iqbal.


"Iya mas, mas udah makan siang belum" tanya Zahra.


"Ini mas lagi nunggu makanan yang di pesan oleh Dimas" ucap Iqbal.


"Iya mas, jangan telat makan ya" ucap Zahra dari seberang telpon.


"Iya istri ku" jawab Iqbal.


Setelah itu panggilan telpon pun mati, Iqbal meletakan ponsel miliknya di atas meja, dan terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Dimas pergi untuk membuka pintu, yang ternyata adalah kurir yang mengantar makanan pesanan mereka.


"Mas Dimas ya?" tanya kurir itu.


"Betul pak" ucap Dimas.


"Ini pesanannya mas" ucap kurir.


"Iya makasih ya pak" ucap Dimas dan kembali menutup pintu dan masuk ke dalam.


"Bos ini makan siangnya" ucap Dimas meletakan kota makan siang di atas meja.


Iqbal pun beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa dekat Dimas, Iqbal membuka menu makan siang yang di pesan oleh Dimas.


Dimas dan Iqbal pun mulai makan siang, karena sehabis ini mereka akan segera melanjutkan pekerjaan.


Bersambung....