Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Zahra terlihat begitu senang mendapat telpon dari sang bunda, mengatakan kalau kaka iparnya saat ini sedang mengandung ponakan nya.


"Alhamdulillah ya bunda, Zahra ikut senang dengar nya," ucap Zahra, yang saat ini sedang mengobrol bersama sang bunda melalui telpon.


"Iya sayang, bunda sama ayah juga sangat bahagia, kalau kita akan punya cucu dua," ucap bunda tak kalah bahagianya, dari seberang sana.


"Abang udah tau belum bun?" tanya Zahra.


"Belum sayang, abang kamu udah ke kantor pas bunda meminta kaka ipar kamu buat tes mengunakan tes peck," ucap bunda dari seberang sana.


"Aku yakin deh bunda, pasti abang sangat bahagia akan menjadi seorang ayah," ucap Zahra lagi.


"Iya sayang, apa lagi abang kamu sudah melarang kaka ipar kamu bekerja sekarang," ucap bunda lagi dari seberang telpon.


Cukup lama ibu dan anak itu saling mengobrol, sampai bunda menyudahi obrolan mereka, karena bunda ingin membantu sang suami mengambilkan sesuatu.


Senyum tak pernah pudar dari bibir wanita yang saat ini sedang hamil, Zahra mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit itu dengan lembut.


"Sayang, kamu akan punya saudara," ucap Zahra seorang diri sambil mengeluh perutnya itu.


Zahra lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena hari saat ini sudah mulai beranjak siang.


☘☘☘☘


Tepat pukul 9 pagi, Erik menjemput calon istrinya untuk pergi ke butik fighting baju pengantin mereka. Mobil Erik memasuki gerbang rumah sang calon istri.


Kedatangan Erik di sambut dengan ramah oleh mama Tiara, mama Tiara mengajak sang calon mantu duduk di ruang tamu, dan meminta bibi untuk membuatkan teh untuk Erik.


"Gak usah repot-repot tan," ucap Erik.


"Gak papa nak, sambil kamu nunggu putri tante, sambil minum teh juga," ucap mama Tiara.


"Iya tante makasih ya," ucap Erik.


"Iya nak, kalau gitu tante tinggal dulu ya, tante mau panggilin Tiara nih lama banget," ucap mama Tiara.


"Iya tante," ucap Erik.


"Di minum ya teh nya nak," ucap mama Tiara, sebelum beranjak dari ruang tamu.


Erik pun meminum teh yang di buatkan oleh bibi, sedangkan mama Tiara menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamar sang putri berada.


Clekk..


"Sayang, kok lama banget sih? nak Erik udah nunggu loh di bawa," ucap mama Tiara melihat sang putri.


"Iya ma, sabar napa ini Tiara lagi mili hijab yang cocok sama tunik yang Tiara pake," ucap Tiara melihat-lihat kerudung di dalam lemari miliknya.


Mamat Tiara hanya menggeleng kepala melihat sang putri, lalu wanita paru baya itu mendekat ke arah lemari dan memilihi hijab yang cocok buat sang putri.


"Ini cocok sayang, pake yang ini aja," ucap mama Tiara.


"Iya, cepat turun ya, mama mau liat nak Erik dulu, kasian sendirian di bawa," ucap mama Tiara.


"Iya ma, selesai ini Tiara langsung turun kok," ucap Tiara memakai hijab miliknya.


Di lantai bawa, tepatnya di ruang tamu mama Tiara dan Erik sedang asik mengobrol. Tak berselang lama Tiara menuruni anak tangga ke lantai bawa.


Tiara langsung pergi ke ruang tamu, di sana sang calon suami sedang asik mengobrol bersama sang mama.


Erik melihat Tiara sambil tersenyum, lalu Tiara mendekat dan duduk di sofa dekat sang mama.


Erik pun dengan cepat menghabiskan teh nya, lalu mengajak Tiara segera pergi ke butik, Erik dan Tiara pamit pada mama Tiara.


"Ma kita pamit ya, tan kita pamit ya," ucap Tiara dan Erik.


"Iya sayang kalian hati-hati ya," ucap mama Tiara.


"Iya ma, iya tante," ucap Tiara dan Erik bergantian menyalami punggung tangan mama Tiara.


Kemudian Erik dan Tiara pun berlalu dari ruang tengah, sesampainya di depan mobil Erik, Erik membukakan pintu untuk Tiara sang calon istri.


"Makasih ya kak," ucap Tiara masuk ke dalam mobil.


"Iya sama-sama calon istri ku," ucap Erik lalu memutari mobil dan masuk duduk di kursi kemudi.


Setelah Tiara selesai memaki sabuk pengaman, Erik pun menjalankan mobilnya keluar dari jalan rumah Tiara.


"Kak, kita langsung ke butik kan?" tanya Tiara melihat pria yang sedang menyetir mobil.


"Iya sayang, nanti habis dari butik aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Erik sambil tersenyum minat sang calon istri.


"Kemana kak?" tanya Tiara penasaran.


"Rahasia dong, ini kejutan jadi gak boleh di kasih tau sayang," ucap Erik.


"Ya, kaka udah pake rahasia an ya," ucap Tiara memasang wajah cemberutnya.


Sedangkan Erik hanya tersenyum melihat wajah cemberut gadisnya itu, Tiara sangat terlihat lucu kalau sedang cemberut gitu.


"Udah gak usah cemberut ya, nanti cantiknya berkurang loh," goda Erik.


"Biarin aja, habis kaka main rahasia sih," ucap Tiara, masi dengan wajah cemberutnya.


"Ya namanya juga kejutan sayang, kalau udah di kasih tau sekarang bukan kejutan lagi dong namanya," ucap Erik melihat sang gadis sekilas.


"Iya-iya deh," ucap Tiara.


Tak berselang lama, mobil yang di kendarai oleh Erik memasuki parkiran salah satu butik di jalan xx, Erik turun duluan dan membukakan pintu untuk calon istrinya itu. Lalu keduanya masuk ke dalam butik bersama, dan di sambut dengan rama oleh karyawan butik.