
Iqbal melihat sang istri yang sedang duduk dengan gelisah di sofa, saat ini jam masi menunjukan pukul 2 siang, tapi Zahra terlihat begitu gelisah. Membuat Iqbal beranjak dari kursi kerjanya untuk menghampiri sang istri.
"Sayang ada apa?" tanya Iqbal.
"Mas kepala aku kok pusing banget ya" ucap Zahra melihat sang suami.
Iqbal meletakan telapak tangannya di kening sang istri, Iqbal merasa kondisi badan Zahra sedikit hangat pertanda kalau sang istri sedang demam.
"Sayang badan kamu panas" ucap Iqbal.
"Kita pulang yuk" ajak Iqbal.
"Tapi kerjaan mas gimana?" tanya Zahra.
"Udah gak papa. nanti mas kerjakan besok lagi ya" ucap Iqbal.
"Ya udah" ucap Zahra.
Iqbal mengajak sang istri keluar dari dalam ruangannya, Iqbal memanggil Dimas di ruangannya untuk mengantar mereka pulang.
Setelah tiba di lobby, Iqbal membukakan pintu untuk sang istri, lalu Iqbal juga ikut masuk. Sedangkan Dimas duduk di kursi depan karena ia yang akan menyetir mobil.
Mobil yang di kendarai oleh Dimas keluar dari parkiran kantor, Zahra terlihat bersandar di pundak sang suami, Iqbal terus memeluk sang istri dengan erat.
Dimas yang sedang fokus menyetir, sesekali melihat ke arah kaca spion dan melihat sang bos bertapa perhatiannya pada sang istri yang sedang kurang sehat itu.
30 menit kemudian mobil yang di kendarai oleh Dimas memasuki gerbang rumah besar Gunawan, setelah mobil berhenti Iqbal membantu sang istri turun dari dalam mobil.
"Dim, kamu bawa saja mobilnya ya" ucap Iqbal.
"Siap bos, sayang langsung permisi bos" ucap Dimas.
"Iya Dim, makasih ya" ucap Iqbal pada asisten sekaligus sahabat nya itu.
"Iya bos sama-sama" ucap Dimas kembali masuk ke dalam mobil.
"Ayo sayang kita masuk, kamu harus istirahat" ucap Iqbal.
Iqbal pun mengajak sang istri masuk, Zahra masi dalam pelukan sang suami, tiba di dalam mami Sisil melihat kedatangan putra dan menantunya pun langsung mendekat.
"Sayang kalian udah pulang" tanya mami Sisil.
"Iya mi, istri aku demam" ucap Iqbal kuatir.
"Demam kok bisa, ayo mami bantu ke kamar ya" ucap mami Sisil.
"Iya mi" ucap Iqbal.
Mami Sisil dan Iqbal membantu Zahra ke kamar, Sampai di atas Iqbal membaringkan sang istri di atas ranjang.
"Mami Ambil air sama handuk ya" ucap mami Sisil buat mengompres sang menantu.
Dan Alhamdulillah panasnya udah sedikit mendingan, Zahra saat ini gak bisa sembarangan memakan obat, karena saat ini ia sedang hamil, akan sangat bahaya kalau bukan dengan resep dokter.
"Sayang ini handuk sama airnya" ucap mami Sisil.
Iqbal dengan cepat menaruh handuk kecil dalam air, dan memeras sedikit lalu meletakan di jidat sang istri.
"Makasih ya mi, mas" ucap Zahra.
"Iya sayang sama-sama" ucap mami Sisil duduk di dekat sang menantu.
"Sayang mas ganti baju dulu ya" ucap Iqbal.
"Iya mas" jawab Zahra.
Iqbal pergi masuk ke ruang ganti untuk mengganti baju kantornya menjadi baju rumah, lalu kembali keluar lagi menghampiri mami Sisil dan juga sang istri.
☘☘☘☘
Setelah puas seharian bermain di wahana permainan, Emon tertidur pules di dalam mobil. Dengan kepala di atas paha Tiara, saat ini Tiara duduk di kursi belakang untuk menemani bocah kecil itu.
Sedangkan Erik di kursi depan, karena ia harus menyetir mobil, sesekali Erik melirik ke belakang di mana Tiara dan Emon berada.
"Kamu capek gak Ra?" tanya Erik.
"Gak kok" ucap Tiara melihat ke arah Erik.
"Emon emang gitu kalau gak tidur siang dia pasti tidur sore, karena itu mami sering minta dia tidur siang" ucap Erik.
"Kok kalian beda jauh sih, maksud aku jarak umur kalian?" tanya Tiara.
"Iya, pas umur aku 19 tahun mami aku hamil lagi" ucap Erik mengingat 5 tahun lalu.
"Aku pikir mami hanya bercanda bilang kalau aku mau punya adik, ternyata gak aku beneran punya adik" ucap Erik tersenyum melihat Tiara.
"Tapi aku gak marah sama mami dan papi karena itu adalah pemberian sang pencipta, aku malah sangat bersyukur punya adik sekarang" ucap Erik lagi.
"Pasti asik ya punya saudara?" tanya Tiara.
"Asik banget, ada teman di ajak ngobrol ya walaupun kadang ngeselin" ucap Erik sambil terkekeh.
Erik melihat sang adik yang masi tertidur pules, lalu melihat ke arah Tiara yang mengusap kepala Emon dengan sayang, membuat Erik bertambah mencintai gadis itu.
"Ra" panggil Erik.
"Iya" ucap Tiara.
"Nikah yuk" acap Erik spontan membuat Tiara melotot ke arah pria itu.
Bersambung....