Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Mami Sisil dan Zahra keluar dari ruang dokter Nabila, senyum tak pernah pudar dari bibi manis wanita berhijab itu.


"Sayang kita mampir ke kantor ya" ucap mami Sisil.


"Iya mi, aku juga mau kasih kejutan buat mas Iqbal" ucap Zahra.


"Iya sayang pasti suami kamu senang" ucap mami Sisil.


Pak sopir masih menunggu mami Sisil dan Zahra di tempat parkir.


"Bu, sudah selesai?" tanya pak sopir.


"Sudah mang Ujang, kita ke kantor ya" ucap mami Sisil.


"Siap bu bos" ucap mang Ujang.


"Silahkan masuk bu bos, neng Zahra yang cantik" ucap mang Ujang membukakan pintu mobil untuk mami Sisil dan Zahra.


"Terimakasih mang Ujang" ucap Zahra.


"Sama-sama neng Zahra" ucap mang ujang, lalu masuk me dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Mobil yang di kendarai oleh mang Ujang keluar dari parkiran rumah sakit, Zahra mengusap perutnya ya g sudah terlihat membuncit itu.


"Kita ke kantor ayah ya anak" ucap Zahra sambil mengelus perut.


Mami Sisil melihat sang menantu sedang mengajak sang calon cucu mengobrol.


Tak berselang lama, mobil yang di kendarai oleh mang Ujang memasuki lobby kantor. Mami Sisil dan Zahra turun dari dalam mobil, mereka berjalan di lantai dasar dan banyak para karyawan yang menyapa.


"Bu Sisil, bu Zahra" sapa para karyawan dengan hormat.


Senyum terbit di bibir Zahra menyapa sapaan para karyawan itu, mami Sisil dan Zahra masuk ke dalam lift.


Ting...


Sampai di lantai tujuan, pintu lift terbuka, mami Sisil dan Zahra keluar dari dalam lift.


"Sayang sini ikut mami" ucap mami Sisil menarik tangan sang menantu dengan pelan.


"Ada apa mi" tanya Zahra.


"Kita kerjain suami kamu" ucap mami Sisil.


Zahra dan mami Sisil saat ini sedang berdiri di depan pintu ruangan kerja Iqbal, mami Sisil mengetuk pintu membuat Iqbal yang ada di dalam melihat ke arah pintu.


"Masuk" ucap Iqbal dan kembali lagi fokus dengan lap top miliknya.


Tokk..


Tokk...


Pintu ruangan kerja Iqbal kembali di ketuk, padahal Iqbal sudah menyuruh nya masuk.


"Siapa sih, di bilangin masuk malah ngetuk pintu terus" ucap Iqbal seorang diri.


Took..


Tokk...


"Masuk" ucap Iqbal lagi.


Tokk...


Lagi-lagi pintu di ketuk, membuat Iqbal kesal dan beranjak dari kursi kerjanya untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sedang mengetuk pintu berulang kali.


Tokkk..


"Siapa sih yang ngetuk pin..." ucapan Iqbal terhenti melihat sang istri dan mami Sisil sedang tertawa melihat ekspresi wajah Iqbal yang baru saja membuka pintu.


"Sayang, mami" ucap Iqbal.


"Istri datang kok gak di sambut sih" tanya mami Sisil melihat sang putra.


"Maaf sayang habis aku kaget sih, kenapa gak bilang kalau mau ke sini sayang" ucap Iqbal memeluk sang istri.


"Mau kasih kejutan mas" ucap Zahra tersenyum.


"Ayo masuk sayang, mi" ajak Iqbal.


"Makasih mas" ucap Zahra.


Zahra dan mami Sisil masuk ke dalam ruangan Iqbal, mami Sisil melihat banyak pekerjaan yang ada di atas meja sang putra.


Sedangkan Iqbal sudah mengajak sang istri duduk di sofa yang di ruangan itu.


"Mas, aku punya sesuatu buat mas" ucap Zahra.


"Apa sayang" ucap Iqbal.


Iqbal mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, lalu memberikan pada sang suami.


Foto USG tadi di berikan Zahra pada Iqbal, Iqbal mengambil kertas yang di kasih oleh sang istri, Iqbal tau kalau kertas itu adalah hasil USG hari ini.


"Kata dokter Nabila beby sehat-sehat mas" ucap Zahra tersenyum senang.


"Syukurlah mas senang dengar nya sayang" ucap Iqbal juga tersenyum senang.


"Mas udah makan siang belum?" tanya Zahra.


"Belum sayang, dari tadi aku sibuk dengan kerjaan" ucap Iqbal melihat sang istri.


"Nanti kalau mas sakit gimana, udah sekarang mas harus makan ya, aku akan pesankan makan siang buat mas" ucap Zahra melihat sang suami.


"Kenapa sayang" tanya mami Sisil yang barus saja keluar dari kamar mandi.


"Mas Iqbal belum makan siang mi" ucap Zahra.


"Astaga sayang udah jam berapa ini, nanti kalau maag kamu kambuh gimana?" tanya mami Sisil melihat sang putra.


"Iya mi ini istri aku udah mau mesan aku makan siang kok)" ucap Iqbal.


Sambil menunggu pesanan makan siang datang, Iqbal, Zahra dan mami Sisil mengobrol di ruangan Iqbal.


Tok..


Tokk...


"Masuk" ucap Iqbal.


Dimas masuk dan langsung menghadap sang bos, Dimas mengatakan kalau 30 menit lagi rapat akan segera di mulai.


Iqbal mengiyakan perkataan Dimas, lalu Dimas undur diri dari ruangan itu, tak alam kemudian pesanan Iqbal juga sudah datang.


Bersambung...