Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Pukul 4 sore Zaki pulang dari kantor, Zaki memikirkan mobilnya di garasi rumah, lalu Zaki masuk kedalam dan di sambut oleh sang istri dengan wajah bahagianya.


"Assalamualaikum sayang," Zaki memberikan salam pada sang istri.


"Waalaikumsalam bang," jawab Mutiara menyalami punggung tangan sang suami.


Mutiara mengambil alih tas kerja sang suami, lalu mengajak Zaki duduk di ruang tengah. Zaki melihat ayah dan bunda yang tak kelihatan.


"Sayang, ayah sama bunda kemana? kok gak ada," ucap Zaki.


"Ada di taman belakang bang, lagi menikmati sore," jawab Mutiara.


"Abang, mau aku buatin kopi?" tanya Mutiara.


"Boleh sayang, abang juga lagi haus," ucap Zaki.


"Abang tunggu di sini ya, aku mau buatkan abang kopi dulu," ucap Mutiara, yang mendapat anggukan dari sang suami.


Mutiara pergi ke dapur, Mutiara membuatkan kopi untuk sang suami. Mutiara sudah menyiapkan kejutan ada sang suami nanti, ya itu tentang kehamilan nya.


Tak berselang lama Mutiara kembali dari dapur, dengan membawa kopi yang ia buat untuk sang suami.


"Ini bang, di minum aku bikin gak terlalu panas kok," ucap Mutiara.


"Makasih ya sayang," ucap Zaki mengambil cangkir kopi itu.


Zaki dan Mutiara mendengar obrolan ayah dan bunda yang baru saja masuk ke dalam.


"Nak, kamu sudah pulang?" tanya ayah yang ikut bergabung bersama putra dan sang menantu.


"Iya ayah," jawab Zaki, lalu melihat sang bunda yang sedari tadi hanya tersenyum melihat Zaki.


"Bunda, ada apa?" tanya Zaki melihat sang bunda.


"Tidak apa-apa sayang," ucap bunda.


Zaki lalu melihat sang istri yang hanya tersenyum manis juga, seperti ada sesuatu yang membuat mereka senang.


"Sayang, ada apa, jangan bikin abang penasaran dong," ucap Zaki memandang sang istri.


"Abang tanya sama ayah deh," ucap Mutiara melempar pada sang ayah mertua.


Zaki pun dengan cepat melihat sang ayah, lalu Zaki langsung bertanya pada pria yang ia amat sayangi itu.


"Ayah, jangan bikin Zaki penasaran, ada apa ini?" tanya Zaki menanti jawaban sang ayah.


"Boy, ayah sama bunda akan mau punya cucu lagi dari kalian," ucap ayah dengan senyum haru melihat sang putra.


"Apa? ayah serius kan, sayang ayah benar?" tanya Zaki melihat sang istri.


"Iya bang," ucap Mutiara tersenyum bahagia.


"Nak, istri kamu lagi hamil sekarang," ucap bunda dengan senyum bahagia juga.


Zaki langsung memeluk sang istri dengan begitu erat, Zaki bahagia karena mendengar kabar gembira kalau sang istri kini sedang mengandung anak mereka.


"Iya abang, aku juga begitu bahagia," ucap Mutiara membalas pelukan sang suami.


Sedangkan ayah dan bunda tersenyum haru, melihat pasangan suami dan istri itu terlihat senang dan sangat bahagia.


"Yang membuat istri kamu akhir-akhir ini malas ngapa-ngapain, itu karena lagi ngidam sayang," ucap bunda lagi.


"Sayang sekali lagi makasih ya, abang sangat bahagia," ucap Zaki lagi.


"Iya abang," ucap Mutiara.


"Besok kan hari weekend, kita ke rumah ibu sama bapak ya, buat kasih tau kabar bahagia ini," ucap Zaki melihat sang istri.


"Iya, kalian pergilah ke sana, pasti bapak sama ibu kalian juga senang mendengar kabar bahagia ini nak," ucap ayah.


"Iya ayah, terimakasih ya," ucap Mutiara tersenyum melihat ayah dan bunda mertuanya.


"Iya nak," jawab ayah dan bunda sambil tersenyum juga.


Tak lama mengobrol bersama ayah dan bunda, Zaki mengajak sang istri ke kamar. Karena ia harus membersihkan diri, hari sudah mulai sore dan gak lama lagi akan magrib.


☘☘☘


Di rumah keluarga Gunawan, Zahra menceritakan kabar baik yang di sampaikan sang bunda tadi lewat telpon.


Zahra dengan begitu antusias menceritakan pada sang suami tentang kehamilan kaka iparnya itu, saat ini mereka sedang mengobrol di balkon kamar mereka sambil menunggu azan magrib tiba.


"Alhamdulillah sayang, mas juga senang dengar nya," ucap Iqbal mengusap kepala sang istri.


"Iya mas, aku akan mau punya ponakan," ucap Zahra lagi.


Iqbal lalu mengusap perut buncit sang istri, dan berkat dengan lembut.


"Sayang, kamu akan punya adik," ucap Iqbal, lalu mencium perut buncit sang istri berulang-ulang kali.


Zahra tersenyum melihat kelakuan sang suami, akhir-akhir ini Iqbal memang sering mencium perut buncit Zahra, entah itu menjadi kesukaan sang suami apa memang bawahan calon bayi mereka.


Zahra lalu melihat ke arah matahari yang mulai terbenam di ujung barat sana, begitu indah di pandang. Zahra lalu memanjatkan doa dalam hatinya.


"Ya Allah, terimakasih karena engkau telah menghadirkan suami yang begitu baik, dan mau menerima hamba mu ini apa adanya," ucap Zahra dalam hati sambil melihat matahari yang berada di ujung barat itu.


"Kenapa heemm?" tanya Iqbal, yang melihat sang istri hanya diam saja.


"Gak papa kok mas, aku hanya senang saja," ucap Zahra menatap sang suami sambil tersenyum manis.


Iqbal lalu membalas senyum manis sang istri dan mencium kening sang istri sedikit lama, lalu membawa sang istri ke dalam dekapannya.


"Terimakasih untuk semuanya sayang," ucap Zahra lagi.


"Mas, sudah janji sama ayah dan bunda juga bang Zaki, untuk selalu membuat putri kesayangan mereka ini dengan bahagia," ucap Iqbal, mengusap punggung sang istri.


Tak alam kemudian suar Azan berkumandang , pertanda kalau sekarang sudah masuk waktu sholat Magrib.