Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Zaki tiba di kantor, suasana kantor juga sudah mulai rame, Zaki masuk ke dalam lift menuju lantai atas.


Ting...


Zaki keluar dari lift, dan melihat sudah ada Mutiara di balik meja kerjanya.


"Assalamualaikum" ucap Zaki.


"Waalaikumsalam pak" ucap Zaki.


"Udah dari tadi ya, maaf ya aku gak bisa jemput kamu" ucap Zaki berdiri di depan meja.


"Iya bang, gak papa kok aku ngerti, gimana keadaan ayah bang" tanya Mutiara.


"Alhamdulillah, kondisi ayah sudah mulai besok atau lusa ayah sudah bisa pulang" ucap Zaki.


"Alhamdulillah,, aku senang dengar nya bang" ucap Mutiara.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya, nanti makan siang pesan online ya, kita makan bareng" ucap Zaki.


"Iya bang" jawab Mutiara.


Zaki lalu masuk ke dalam ruangannya, Zaki melihat berkas yang sudah di siapkan oleh Mutiara.


Zaki duduk di kursi kerjanya, dan mulai membuka lap top miliknya, Zaki kembali fokus dengan pekerjaannya, karena tinggal 2 minggu lagi ia dan Mutiara akan melangsungkan pernikahan.


☘☘☘☘


Kedua orang tua Iqbal baru saja tiba di rumah saki, papi Mario dan mami Sisil ingin membesuk besan mereka yang sedang kurang sehat itu.


"Rio, kamu gak ke kantor?" tanya ayah Adrian melihat sang sahabat.


"Gak, Yan aku sama istri aku pengen jenguk kamu" ucap papi Mario.


"Kami ini, aku besok atau lusa udah bisa pulang kok, udah kembali sehat lagi" ucap ayah Adrian.


"Alhamdulillah, aku senang dengarnya Yan" ucap papi Mario.


Sedangkan mami Sisil dan bunda juga Zahra mengobrol di sofa yang ada di ruangan itu, mami Sisi menanyakan kondisi Zahra dan juga beby yang ada di dalam perut Zahra.


"Sayang, kamu udah gak mual-mual kan" tanya mami Sisil.


"Udah gak kok mi" ucap Zahra sambil mengelus perutnya.


"Ini mami sama papi tadi mampir beli kue buat kamu" ucap mami Sisil memberikan plastik berisi kue.


"Mami kok tau si kue Kesukaan Zahra" ucap Zahra membuka plastik dan melihatnya.


"Iya mami tau dari suami kamu" ucap mami Sisil.


"Makasih ya mi, Zahra makan sekarang ya" ucap Zahra.


"Iya sayang" ucap mami Sisil.


Bunda dan mami Sisil mengobrol tentang kondisi ayah Adrian, sedangkan Zahra sudah melahap kue yang di berikan oleh mami Sisil.


☘☘☘☘


Iqbal dan Dimas saat ini baru saja keluar dari ruangan rapat, Iqbal yang sedang berjalan di depan Dimas mencoba menghubungi nomor sang sahabat.


"Lagi sibuk mungkin bos" ucap Dimas.


Tiba-tiba seseorang memanggil Iqbal dari kejauhan, membuat langkah Iqbal terhenti.


Haikal berjalan mendekati Iqbal, sambil membawa alat bersih-bersih.


"Kak Iqbal," panggil Haikal lagi.


"Iya Kal, ada apa" tanya Iqbal.


"Kak, besok sore aku mau undang kak dan yang lain, salah satu adik kita ulang tahun, kita ngerayain kecil-kecilan dan mau ngundang kak" ucap Haikal.


"Iya kaka sama yang lain pasti datang kok" ucap Iqbal.


"Alhamdulillah,, makasih ya kak" ucap Haikal senang.


"Iya sama-sama" ucap Iqbal.


"Kalau gitu aku lanjut kerja lagi ya kak" ucap Haikal.


"Iya" ucap Iqbal.


Haikal kembali bekerja, sudah 3 bukan pria berumur 15 tahun itu bekerja sebagai OB di kantor milik Iqbal, dan Haikal sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan itu, ia bisa menyekolahkan adik-adiknya sekarang, apa lagi sekarang mereka sudah punya rumah sendiri.


Iqbal tersenyum melihat kepergian Haikal sambil membawa alat bersih-bersih.


"Semangat banget ya bos" ucap Dimas.


"Iya, sekarang dia sudah bisa bantu adiknya sekolah dengan gaji yang ia dapat" ucap Iqbal.


"Ku juga kadang kasian di umur yang masi remaja gitu udah jadi tulang punggung" ucap Dimas.


"Tapi aku bangga sama Haikal, di orangnya gak mau terima belas kasihan orang, dia maunya berusaha" ucap Iqbal.


"Ya sudah ayo ikut ke ruangan ku ya" ajak Iqbal.


"Siap bos" ucap Dimas.


Iqbal dan Dimas lalu masuk kedalam ruangan Iqbal, Iqbal duduk di kursi kebesarannya.


"Dim, ini tolong kamu periksa ya" ucap Iqbal memberikan satu berkas.


"Siap bos, kalau gitu saya pamit keluar dulu ya bos" ucap Dimas.


"Iya" ucap Iqbal.


Setelah Dimas keluar dari ruangan Iqbal, Iqbal kembali menghubungi sang sahabat. Tapi lagi-lagi Erik tak mengangkat telpon dari Iqbal.


"Lagi ngapain sih ni Erik, di telponin gak mau angkat" ucap Iqbal.


Iqbal lalu memutuskan untuk mengirim pesan pada Erik, mungkin saja saat ini Erik memang lagi sibuk di kantor.


Setelah mengirim pesan pada Erik, Iqbal kembali melanjutkan pekerjaan yang masi menumpuk di atas meja.


Bersambung....