Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Iqbal terlihat sedang mengambilkan sarapan sang istri, tapi Zahra seperti sedang menahan sesuatu, membaut Mami Sisil mendekati sang menantu.


"Sayang ada apa?" tanya mami Sisil.


"Mi, perutnya Zahra sakit benget mi," ucap Zahra.


"Bukan kram kan sayang?" tanya Mami Sisil.


"Gak mi, Mas perut aku sakit banget mas," ucap Zahra.


"Bi, siapkan semuanya ya, kita ke rumah sakit sekarang, perutnya Zahra sudah sakit," ucap mami Sisil.


"Baik nya," ucap bibi.


"Ayo biar mas bantu sayang," ucap Iqbal.


Iqbal membantu sang istri dengan pelan, keluar dan langsung masuk ke dalam mobil dengan pelan.


"Sayang sabar ya, kita akan ke rumah sakit, mi tolong cepat mi," ucap Iqbal dari dalam mobil.


"Iya sayang, sabar ya. Ayo bi cepat taru di dalam bagasi mobil ya," ucap mami Sisil.


Setelah semaunya sudah siap, pak sopir langsung mengemudikan mobilnya, Iqbal duduk di kursi belakang untuk menemani sang istri. Sedangkan mami Sisil berada di kursi depan bersama pak sopir.


"Mas, sakit," ucap Zahra.


"Iya sayang, sabar ya gak lama lagi kita akan sampai sayang," ucap Iqbal mencoba menenangkan sang istri dengan lembut.


Iqbal terlihat mengusap perut sang istri dengan lembut, untuk membuat sang istri sedikit tenang, karena tak lama lagi mereka akan segera sampai di rumah sakit.


Mami Sisil sudah menghubungi sang suami, dan papi Mario akan menghubungi sang sahabat. Ayah dari Zahra.


Tak berselang lama, mobil yang membawa Zahra pun memasuki gerbang rumah sakit, Iqbal masi terlihat menenangkan sang istri dengan lembut.


Iqbal membantu sang istri keluar dari dalam mobil, suster datang membawa kursi roda untuk Zahra.


"Duduk sini mbak," ucap suster.


"Terimakasih sus, dokter Nabila sudah tiba kan?" tanya Iqbal melihat suster.


"Iya pak, Dokter Nabila sudah tiba sedari tadi," ucap seorang suster.


Zahra langsung di bawa ke ruang bersalin, mami Sisil di minta untuk menunggu di luar, sedangkan Iqbal ikut masuk bersama sang istri.


"Sabar ya sayang, kita udah sampai di rumah sakit sekarang," ucap Iqbal mencium kening sang istri.


"Suter siapa kan semuanya," ucap dokter Nabila yang baru saja masuk.


"Baik dok," ucap suster.


Zahra sudah di baringkan di ranjang, Iqbal setia menunggu di dekat sang istri, sambil menguatkan Zahra, Iqbal terus membisikkan kata sayang untuk sang istri.


Dokter Nabila memeriksa kondisi Zahra, lalu memulai bersalin nya, karena air ketuban sudah pecah.


"Tarik nafas dengan pelan ya bu Zahra, lalu buang dengan pelan," ucap dokter Nabila.


"Lakukan seperti itu terus ya bu," ucap dokter Nabila.


Peluh terlihat membasahi seluruh wajah Zahra, Iqbal mengusap peluh itu dengan sayang.


"Ayo bu Zahra sedikit lagi bu, ayo," ucap dokter Nabila.


"Mas," ucap Zahra di selah berjuang melahirkan anak pertama mereka.


"Iya sayang, mas ada di sini," ucap Iqbal.


"Ayo bu Zahra sedikit lagi beby akan segera lahir bu," ucap dokter Nabila.


Zahra pun mengumpulkan sisa kekuatannya, lalu Zahra mulai menguat dan...


Oouueekkk... Ooouueekkk...


Suara tangisan bayi memenuhi ruangan bersaling, dokter Nabila tersenyum melihat bayi cantik itu, lalu menyerahkan pada suster untuk di bersihkan.


Iqbal terlihat mengucapkan banyak syukur dan banyak terimakasih pada sang istri, yang sudah mau berjuang melahirkan anak pertama mereka.


"Selama anak kalian perempuan, dan dia begitu cantik seperti mama nya," ucap dokter Nabila.


Di luar sana bunda dan ayah Adrian barus saja tiba, kedua orang tua Zahra pun langsung menghampiri besan mereka.


"Rio, bagaimana keadaan Zahra," tanya Ayah Adrian.


"Ini kita juga lagi nunggu Yan, tapi tadi kita udah dengan suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin," ucap Papi Mario melihat sahabatnya itu.


"Ya Allah, semoga putri baik-baik saja dan juga anak mereka," ucap bunda.


"Sabar bun, kita tunggu mereka ya," ucap Ayah Adrian.


Tak berselang lama, pintu terbuka, dan Iqbal keluar dengan senyum senang menyapa orang tua mereka.


"Sayang, bagaimana keadaan istri kamu, semaunya baik-baik aja kan nak," tanya mami Sisil melihat sang putra.


"Iya mi, semaunya baik-baik saja ko, Alhamdulillah cucu kalian lahir dengan selamat," ucap Iqbal memeluk sang mami.


Semau yang ada di situ mengucapkan syukur, lalu Iqbal memberitahu kalau cucu mereka adalah perempuan, bunda begitu senang mendengarnya.


"Pasti cucu papi begitu cantik seperti istri kamu," ucap papi Mario.


"Iya pi, cantik banget," ucap Iqbal sambil tersenyum.


Tak berselang lama, Zahra sudah di pindahkan ke ruang VVIP, saat ini semau para orang gua juga sudah berada di ruangan itu, untuk melihat cucu mereka.


"Sayang, ini gak mirip Zahra tapi ini mirip kamu," ucap mami Sisil.


"Masa sih mi?" tanya Iqbal yang duduk di dekat ranjang sang istri.


"Iya nak, ini gak mirip Zahra tapi mirip kamu," ucap bunda juga.


"Tuh, bunda aja buang gitu, kita gak mungkin salah kok," ucap mami Sisil.


"Gak papa mi, kan anak aku," ucap Iqbal sambil tersenyum.


"Nak, apa kamu sudah memberikan nama pada putriku?" tanya papi Mario.


"Belum pi, tapi aku udah punya nama buat putri kami pi," ucap Iqbal melihat sang istri.


"Siapa nama nya sayang," ucap ayah Adrian.


"Zahira Azzahra Gunawan," ucap Iqbal.


"Nama yang bagus sayang," ucap Bunda.


"Semoga anak kalian akan menjadi anak yang soleha," ucap bunda mencium kening bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Eemm cucu oma, nanti cepat besar ya main sama om," ucap bunda.


Zahra tersenyum melihat sang bunda mengajak putri kecil mereka mengobrol, Iqbal yang berada di dekat sang istri pun ikut tersenyum melihat itu.


"Nanti sore abang kamu sama istrinya akan ke sini, dia gak sabar pengen liat ponakan nya," ucap bunda.


"Iya bun, aku juga udah kangen sama abang," ucap Zahra.


Zaki begitu senang mendapat kabar kalau sang adik sudah melahirkan dengan normal, karena harus bekerja, Zaki hanya bisa melihat adik dan ponakan nya itu sore nanti, pas sepulang kantor.


"Sayang kayaknya Zahira haus deh pengen asi," ucap bunda.


"Sini bunda," ucap Zahra.


Bunda pun memberikan beby cantik itu pada sang mama, karena harus di kasi asi oleh Zahra.


"Haus ya sayang, sini kita minum ya nak," ucap Zahra.


Bayi kecil itu meminum asi dengan kuat, seolah menunjukan pada semuanya, kalau ia begitu haus.


"Ya ampun, sampe segitunya mimi nya sayang," ucap mami Sisil.


"Iya mi, haus banget ya sayang," ucap Zahra mengajak sang beby berbicara.


Tapi beby kecil itu hanya menanggapi dengan kedipan mata lucu ala bayi-bayi kecil, membuat Zahra dan yang lain tertawa melihatnya.


"Ih lucu banget sih kamu," ucap mami Sisil.


Selesai meminum asi, beby kecil itu kembali di gendong sang oma ya itu mami Sisil.