Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Zahra bangun pagi-pagi, lalu Zahra turun ke lantai bawa. Zahra melihat sang bunda sedang membuat sarapan pagi untuk mereka.


"Bunda" panggil Zahra.


"Sayang, kamu udah bangun" tanya bunda melihat ke arah sang putri.


"Iya bun, bunda lagi bikin sarapan apa?" tanya Zahra.


"Bunda, bikin nasi goreng sama sama roti sayang" ucap bunda.


"Zahra bantuin ya bunda" ucap Zahra.


"Boleh, tapi kamu ceplokin telur aja ya sayang" ucap bunda.


"Iya bunda" ucap Zahra.


Zahra mengambil telur yang ada di dalam kulkas, Zahra juga mengambil baskom yang akan mengisi telur yang sudah ia pecahkan.


"Bunda Zahra langsung goreng aja ya" tanya Zahra.


"Boleh sayang, pakai minyak ini aja ya" ucap bunda.


"Iya bunda" Zahra pun langsung mencoreng telur yang tadi ia pecahkan.


Di lantai atas Iqbal baru saja bangun, tapi sudah tak mendapatkan sang istri di dekatnya.


Iqbal turun dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan sang istri. Iqbal turun ke lantai bawa dan lanang mencari sang istri ke dapur.


"Mas, udah bangun?" tanya Zahra.


"Iya sayang, sayang sama bunda lagi buat sarapan apa?" tanya Iqbal.


"Biasa mas" ucap Zahra sambil tersenyum.


"Ya udah kalau gitu mas mandi dulu ya sayang" ucap Iqbal.


"Iya mas, nanti selesai ini aku ke atas ga" ucap Zahra.


"Ia sayang" jawab Iqbal berlalu dari dapur, dan kembali naik ke lantai atas.


"Sayang kapan kamu dan suami kamu kembali ke rumah mertua kamu?" tanya bunda.


"Kata mas Iqbal tunggu ayah pulang dari rumah sakit bunda" ucap Zahra.


"Bunda, ini udah selesai Zahra ke kamar dulu ya mau diapain baju kantornya mas Iqbal" ucap Zahra.


"Iya sayang, nanti kita sarapan bersama ya" ucap bunda.


"Iya bunda" ucap Zahra, kembali naik ke lantai atas.


Bunda kembali menata menu sarapan di atas meja, bunda juga mengisi sarapan buat Zaki. Sambil menunggu Zahra dan Iqbal, bunda menyiapkan pakaian kantor Zaki, karena Zaki akan pergi ke kantor langsung dari rumah sakit dan bunda akan membawa baju kantornya.


☘☘☘☘


Zaki terlihat baru saja keluar dari kamar mandi, Zaki melihat sang ayah masi tertidur pules di ranjang pasien.


Cclekk...


Pintu kamar rawat ayah terbuka, masuklah seorang perawat yang akan memeriksa kondisi ayah Adrian.


"Iya sus, silahkan" ucap Zaki duduk di sofa.


Zaki membalas pesan dari sang kekasih, Mutiara mengatakan kalau ia berangkat ke kantor bersama dengan sang sahabat Tiwi.


Selesai memeriksa infus pak Adrian, suster itu lalu kembali keluar, dan kini tinggalkan Zaki dan juga ayah yang masih tertidur pules.


☘☘☘☘


"Ma, mama" panggil Emon dari balik pintu kamar.


"Ada apa sayang kok teriak sih?" tanya mama Erik.


"Ma, Emon gak usah sekolah ya, Emon mau ikut kaka aja" ucap bocah kecil yang sudah dengan seragam sekolah itu.


"Loh, kenapa?" tanya mama Erik.


"Emon mau ketemu sama kaka cantik ma, Emon gak usah sekolah ya" ucap Emon lagi.


"Kaka kan mau ke kantor, bukan mau ketemu kakak cantik sayang" ucap mama Erik.


"Gak ma, tadi Emon dengar sendiri kalau kaka mau jemput kaka cantik" ucap Emon, membuat mama Erik kehilangan akal.


Pas Emon mau ke kamar sang kaka tadi, bocah kecil itu sempat mendengar obrolan sang kaka dengan Tiara di telpon, itu lah membuat bocah kecil itu tak mau pergi sekolah.


"Terus sekolahnya gimana kalau ikut kak" tanya mama Erik.


"Mama ijin aja sama bu guru, bilang Emon lagi ada urun penting" ucap Emon, membaut mam Erik kaget.


"Urusan apa sayang, Emon kang cuma ikut kaka" tanya mama Erik.


"Tapi Emon pengen ikut kaka ma" ucap bocah kecil itu ngotot.


"Nanti mama ngomong ya sama kaka" ucap mama Erik.


"Iya ma" ucap Emon.


Mama Erik pergi ke kamar sang putra, mama Erik melihat Erik sedang bersiap akan turun ke lantai bawa.


"Sayang mama mau ngomong sama kamu" ucap mama Erik.


"Mau ngomong apa ma?" tanya Erik.


"Adik kamu gak mau ke sekolah, dia mau ikut kamu yang mau jemput Tiara" ucap mama Erik.


"Emon tau dari mana ma" tanya Erik.


"Tadi dia gak sengaja dengar obrolan kalian" ucap mama.


"Sekarang kamu bujuk deh, biar dia pergi sekolah" ucap mama Erik.


"Iya ma, biar erik yang bujuk Emon" ucap Erik, turun ke lantai bawa bersama sang mama.


Erik melihat Emon sedang duduk di meja makan bersama sang papa, bocah kecil itu sedang menunggu sang kaka.


Bersambung...