YUMNA

YUMNA
Episode 41



Dennis tiba dirumah dengan wajah lelah,Ibu datang membawa segelas air putih..


''Nih ..capek ya,putraku sudah terlalu banyak kerja..pergilah refreshing, jangan kerja melulu.''


''Kerjaan banyak Bu.''


''Kamu mau apa lagi,semua udah kamu punya jadi jangan stres-stres.''


''Belum Bu satu lagi?''


''Apa?''


''Yumna.''


Ibu langsung tertegun dengan jawaban Dennis.


''Dennis.''


''Dia sedang melarikan diri,dia sudah melewati 3 bulan ini, Aku tidak tau apa sekarang kemarahannya sudah berkurang..yang jelas dia tidak tahu waktu 3 bulan betapa sulit bagiku melewatinya..''


''Lupakan dia, Kita bahkan tidak tau Yumna dimana?''


''Jika melakukannya mudah, Aku sudah melakukanya dari dulu.''


''Terus kamu mau apa, Kamu mau cari Dia, berharap lagi.. Dennis dia udah sangat benci sama kamu,jadi udahlah didunia ini masih banyak wanita .. jangan kayak gini.''


''Aku tidak akan menikahi wanita lain.''Dennis pergi meninggalkan Ibunya.


''Apa ? bunuh saja Ibumu ini daripada terus kamu siksa begini.''Teriaknya kesal.


Dennis tak menghiraukan ibunya sama sekali,karena dia begitu malas dan bosan mendengarkan ibunya yang selalu menyuruhnya untuk melupakan Yumna.


Saat Ibu meratapi kesedihannya,Ayah Dennis pulang dari kantor.


''Sekarang apalagi,kenapa dengan wajah dan rambutmu?''


''Aku bisa gila karena putramu,sudah berusia 27 tahun dia masih belum juga punya pendamping,dia bahkan terus saja menunggu Yumna.''Keluhnya sambil menangis.


''Dia pulang kesini?tumben kenapa dia gak pulang ke rumahnya.''


''Dia putramu,kenapa pertanyaan mu seperti itu?''


''Jangan menangisi dia,dia sudah dewasa ..santai saja.''


''Santai bagaimana,dia putraku satu-satunya ..dia tergila-gila dengan satu wanita,yang sampai detik ini enggan beralih..Kita bahkan tidak tau dimana Yumna,,pergi temui dia nasehati putramu,dia harus menjalani hidupnya...''


''Kamu ibunya,dia lebih mendengarmu daripada aku.''


''Aku sudah menasehatinya tapi dia tidak mau dengar.''


''Kalo kamu tidak dengar,bagaimana dia akan mendengarku .''


''Kalau begitu pikirkan sesuatu untuk putramu.. jangan terus mengurusi perusahaan,anakmu lebih penting,aku tidak mau tau ..ayah harus mencari jalan keluar dari semua persoalan ini..kalo enggak ..lebih baik aku mati saja.''


''Mati tidak akan menyelesaikan masalah kita ,, Serahkan padaku, Aku akan bicara dengannya, banyak-banyak berdo'a sana agar putramu yang keras kepala itu mendengarku.''


''Ayah, Aku mengandalkanmu.''


''Ngomong-ngomong kenapa kita tidak membawanya ke orang pintar,siapa tau kan.''


''Memangnya masih ada hal-hal yang kayak gitu..ngelantur sih Yah.''


''Aku sebagai Ayahnya bingung harus berbuat apalagi.''


1 Jam berlalu,Dennis duduk dimeja makan dengan baju tidurnya.


''Tumben kamu pulang,Rumahmu tidak kebanjiran?''


''Aku ingin makan disini,apa aku sudah tidak diterima?''


''Ya saat putraku pergi,membangun perusahaan sendiri dan menjadi orang hebat melebihi ayahnya,aku pikir kesombonganmu bertambah seratus kali lipat..jadi aku pikir kamu tak butuh kebersamaan kita.''


''Orang tua harus bangga melihat putranya sukses melebihi orang tuanya,jadi jangan terus mencemooh,,sesombong apapun aku ini tetap putramu ..''Lontar Dennis sembari menyendokkan nasi.


''Kalian sedang makan,kenapa masih perang adu mulut ..''Lontar ibunya kesal.


''Lihat ibumu wajahnya penuh dengan keriput,badan semakin kurus,dia terus memikirkan putranya yang belum juga punya pasangan..''


''Apa yang ibu khawatirkan,,aku masih muda .''


''Muda bagaimana maksudmu??''


''Apa yang membuat ibu gelisah ? Apa mau Ibu ?"


''Bukalah hatimu untuk gadis lain dan menikah.''


''Hanya itu ? Aku akan melakukannya..tenang saja Bu aku akan menikah dan memberimu cucu,tolong sabar sedikit.''


''Sabar-sabar,Aku ini sudah hampir gila karenamu.''


''Percaya padaku.''


''Kamu gak sedang merencanakan hal yang aneh-aneh kan Dennis??''Tanya Ayah curiga.


''Apasih,,Nanti juga Ayah dan Ibu tau.''


''Jangan bikin orang penasaran,awas kalo Kamu macam-macam.''


''Siip.''Dennis santai menghadapi kedua orangtuanya.


Ibu dan ayahnya begitu heran dengan Dennis yang keras kepala,sejak Yumna pergi darinya,hati Dennis tak lagi Lunak..dia bahkan melakukan segalanya untuk mencapai semua obsesi.


Sementara lain dengan Yumna,dia hidup dengan egonya, memutuskan melupakan Dennis dan hidup sederhana.


Keesokan Harinya,Yumna pergi menemui Randy disebuah restoran.. Randy bersikukuh memaksa untuk mentraktirnya makan.


''Lama nunggu ya.''


''Oh enggak kok,duduk kamu mau pesan apa?''


''Sebenarnya ini tidak perlu lho,aku gak berbuat apapun untuk nolong kamu..hanya meminjam HP membuat kamu tidak enak.''


''Yaa kalo Hp-ku hilang gimana aku butuh data-data nya..''


''Semua orang tidak akan keberatan kalo hanya meminjamkan Hp.''


''Yaa tetap saja.. Aku belum tau Namamu.''


''Namaku Yumna.''


''Boleh.''


''Kalo kita jadi teman boleh ??''


''Boleh..''


''Kalo aku mengajakmu makan lagi lain kali boleh?''


''Wah aku keenakan dong ditraktir makan terus..boleh saja.''


''Hahahaa Gak apa-apa .''


''Ngomong-ngomong kamu kerja atau gimana?''


''Aku ..kerja di restoran .''


''Oh gitu.. restoran apa namanya?''


''Restoran Sendok Mas.''


''Oh iya aku tau,bagian apa?''


''Aku pelayan.''


''Oh..''


''Kamu gak keberatan berteman dengan pelayan?''


''Enggak kenapa emang..''


''Syukurlah tadinya aku pikir.''


''Apa yang salah dengan pekerjaanmu ?"


''Dari tadi aku ngajak ngobrol terus sampe lupa mesen makanan,Mbak..''Rendy memanggil pelayan.


''Kamu mau pesen apa?''


''Nasi goreng kambing enak kali ya..mbak saya minta es jeruk juga.''


''Saya juga satu..minumnnya es teh manis aja.''


''Baik..,ditunggu pesanannya.''Pelayan pun segera pergi dari mereka.


Saat mereka asik mengobrol,Natan datang dengan siasatnya.


''Mbak..kok disini?''Tanyanya berpura-pura.


''Aku lagi mau makan, Kamu juga disini sama siapa?''


''Sendiri,aku juga lagi pengen makan.. kebetulan banget ya..''


''Oya kenalin ini temen aku Rendy.''


Kesan pertama mereka bertemu,Rendy memandang sinis kepada Natan,


''Ren ini temen aku juga..''


''Natan.''Natan mengulurkan tangannya,Rendy sedikit terdiam dan menyalaminya.


''Rendy.''Mereka saling menatap lalu melepaskan tangan mereka.


''Oya kamu gabung aja kalo gak ada temen.''Lontar Yumna sembari tersenyum,Rendy sangat keberatan saat Yumna menyuruh Natan bergabung.


''Emang gak apa-apa Mbak?''


''Enggak apa-apa,malahan tambah asik dong kita bertiga bisa ngobrol bareng.''Sikap Yumna begitu Tulus kepada Natan,Rendy melihat itu dan dia berpikir jika Natan juga berusaha mendekati Yumna..


''Oya kamu mau makan apa?''


''(Yumna nih apa-apaan sih,malah nyuruh dia makan bareng..)''Gumam Rendy dalam hatinya


Natan tau benar jika Rendy tak suka dengannya,tapi dia tidak perduli ini adalah pekerjaannya..menjauhkan Yumna dari pria mana pun.


''Aku ketoilet dulu ya sebentar.''


Yumna beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet


Kini tinggallah mereka berdua


''Kamu tidak suka dengan keberadaan saya disini?''


''Kalo tau pergi sana.''


''Sayangnya saya gak perduli.''


''Siapa Lo sebenarnya,Lo juga mau deketin Yumna?''


''Hanya berteman baik dengannya.''


''Lo pikir gue percaya.''


''Kalo iya kenapa?''


''Pergi jauh-jauh,percuma.''


''Kenapa..anda tidak punya hak untuk itu.''


''Berapa uang yang bisa bikin Lo menjauhi Yumna?''


''Sayangnya itu tidak akan saya ambil ..''


''Lo mau macem-macem sama gue??''


''Gak lah,cuman kita harus bersaing sehat aja.''


''Lo yakin bisa bersaing sama gue?''


''Kenapa enggak?''


Rendy tersenyum sinis,


''Buang-buang waktu ngomong sama Lo.''


Yumna kembali dan duduk


''Kamu udah pesen?''