YUMNA

YUMNA
Episode 156



Sore itu Paman datang menemui Yumna di rumah sendirian .


” Paman . ” Sapa nya sembari menghampiri .


” Yumna .. Maaf Paman datang lagi . ”


” Aku senang Paman kesini . Kenapa ? Apa bibi masih keras kepala ? ”


” Bukan itu . Yumna , Dennis bersedia memberikan pinjaman dana lagi untuk kantor . Paman tau Nak .. ini pasti kamu kan ? Kamu yang memintanya untuk membantu Paman ? ” Lontarnya haru .


” Aku cuma sedikit curhat pada Mas Dennis . Aku ingin meminta izinnya untuk bisa mendapatkan uang supaya bisa bantu Paman . ”


” Kamu tidak perlu melakukan itu Yumna . ”


” Paman adalah orang tua ku .. Bagaimana aku bisa diam saja saat Paman mendapatkan kesusahan . Suamiku tidak ingin aku bekerja , Dia memutuskan untuk membantu Paman satu kali lagi . ”


” Bagaimana dia akan membiarkanmu bekerja. Kamu mau nyari apa , Uang suamimu lebih dari cukup . ”


” Apa Paman tau berapa banyak uangnya ? Setiap hari dia bekerja keras . Aku jadi gak enak kalo dia menjadi capek-capek buat aku . ”


” Dia harus melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan kamu .. Terimakasih . Tolong sampaikan pada suamimu dari Paman . ”


” Sampaikan sendiri aja . Aku panggil ya .. dia lagi kamar . ”


" Enggak usah Na . Takutnya dia lagi istirahat . ”


” Dia lagi memeriksa berkas . Diminum teh nya Paman . ”


” Iya makasih . Gimana dengan kandungan kamu ? ”


” Alhamdulillah Paman kandungan aku sehat . ”


” Syukurlah .. Jangan capek-capek ya .. istirahat yang cukup . ”


” Iya . Oya Paman .. aku pengen ziarah ke makam nenek ibu dan Ayah . Kayaknya udah lama sekali aku gak kesana . ”


” Kapan .. Paman juga mau . Ayo kita pergi bersama . ”


” Nanti aku telepon ya kalo aku mau kesana . ”


" Siap . Kalo gitu Paman pamit pulang ya . ”


” Buru-buru amat sih Paman . ”


” Paman meninggalkan Sinta dan Bibi .. mereka kan lagi enggak saling bicara . Paman pulang . Assalamualaikum . ”


" Waalaikum salam .. Hati-hati ya . ”


Paman pun pergi Meninggalkan rumah Yumna dengan mobilnya .


30 menit sudah berlalu , Paman keluar dari mobil dan mendengar nada bicara istrinya yang sedang meneriaki Sinta putrinya .


Paman pun bergegas masuk ke dalam rumah .


” Ibu . ” Teriak Sinta sembari terisak dihadapan ibunya .


” Tidak perlu sok perduli denganku .. Aku tidak berarti apa-apa untukmu . Aku mati atau tidak apa urusanmu . ” Cecar ibu .


” Bu .. hentikan .. Kenapa kamu harus seperti ini kepada putrimu . Lihat Nayla kamu membuatnya takut .” Kata Paman .


” Aku sudah tidak sanggup lagi . Aku tidak ingin hidup lagi .. Apa gunanya hidup ini ... Darah daging ku sendiri tidak perduli . ”


" Sinta ada apa ? Kenapa kamu membuat ibumu menjadi seperti ini ? ” Tanya Ayah khawatir.


” Tadi aku melihat ibu mau meminum sesuatu . Aku mengambil obat itu dengan paksa . Ibu bilang dia akan mengakhiri hidupnya ayah . ” Jawab Sinta dengan nada bicara yang gemetar .


” Kamu ingin mati ? Kamu mau meninggalkan aku dan kedua Putrimu ? Baiklah lakukan .. Kamu bahkan tidak perduli kalo aku lagi mengalami kesusahan . Apa tidak bisa kamu bersabar sedikit ? Kenapa kamu bereaksi seperti ini ? Matilah jika itu kemauan mu .. Jangan pikirkan aku ataupun kedua Putrimu .. ” Lontar ayah putus asa .


Ibu merampas botol obat di tangan Sinta dan dengan segera dia menelan obat tersebut dengan sekejap .


” Anggun .. Apa yang kamu lakukan ? " Teriak ayah kepada istrinya .


" Ayah .. ”


Lalu ayah mengangkat badan ibu dan segera memasukkannya ke dalam mobil menuju rumah sakit .


Ibu mulai tak sadarkan diri saat ayah berusaha dengan cepat membawanya ke rumah sakit .


" Ibu .. Cepat ayah . ” Tangis Sinta tak kuasa melihat ibunya .


Dengan nafas yang tidak karuan dan tangan yang gemetar , Ayah berusaha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia segera tiba di rumah sakit .


1 Jam kemudian , Dokter keluar dari ruangan ibu .


” Dokter bagaimana keadaan ibuku ? " Tanya Sinta khawatir .


” Dia sudah siuman . Kami berhasil mengeluarkan racun yang ibumu teguk . untunglah kalian cepat membawanya kesini .. Jika terlambat mungkin ibumu bisa tiada . ” Mendengar perkataan dokter membuat Sinta terluka .


Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk menopang , Dia merasa sudah melukai ibunya.


” Sin .. Dia baik-baik saja . Ayo kita temui ibumu . ” Ajak ayah sembari memegang bahu putrinya yang sudah tidak bisa berdiri kokoh disampingnya .


Ayah membantu Sinta masuk kedalam ruangan ibunya .


” Kenapa kalian membawa ku kesini ? Aku ingin mati . ” Teriak Ibu saat melihat suami dan anaknya masuk membuka pintu kamar ruangan nya .


” Kendalikan dirimu anggun . Kenapa kamu senekat itu . Lihat Sinta , Dia sangat ketakutan dengan apa yang kamu lakukan . ” Lontar ayah .


” Bukankah jika aku mati itu bagus . Tidak ada lagi penghalang antara kamu dengan kekasihmu itu .” Lontar ibu semakin melukai Sinta .


” Aku akan dengar semua mau ibu . Aku akan meninggalkan kak Natan . Tapi tolong jangan berbuat hal itu lagi Bu .. Aku tidak bisa kehilangan ibu . ” Lontar Sinta masih dengan air mata yang mengalir.


” Sinta . ” Kata ayah haru .


” Sekarang kemauan ibu bertambah satu lagi . Apa kamu sanggup ? ” Lontar ibu dengan tatapan yang dingin .


” Apapun Bu .. Apapun itu akan aku lakukan . ”


” Nikahi Kenan . ”


Mendengar ucapan ibunya , Sinta merasa sesak .. dia hanya menarik nafas perlahan Sebelum menjawab permintaan dari ibu yang terasa makin berat baginya .


” Bu .. Jangan seperti ini . Kenapa kamu tega menekan putrimu seperti ini . ” Lontar ayah sedih .


” Jawablah . Jika kamu tidak mau .. ”


” Aku mau Bu . " Kata Sinta cepat memotong ucapan ibu .


” Sin kamu yakin ? " Tanya ayah ragu .


Sinta hanya mengangguk saat ayah menatap dirinya .


” Bagus .. itu berarti kamu masih perduli dengan ibumu ini .. Wanita yang sudah melahirkan dan menjagamu dengan segenap hatiku . " Lontar ibu lagi .


Sinta keluar dari ruangan , Ia masih tidak sanggup mendengar semua ucapan ibunya.


” Apa dengan mempertaruhkan nyawamu seperti ini adalah jalan satu-satunya untuk mencapai keinginan kamu Bu ? ” Kata ayah kecewa .


” Tadinya aku ingin pasrah . Tapi aku sadar aku tidak akan dapat apapun hanya dengan berdiam diri . Jika dia tidak mau dengar ucapan ku .. Maka jalan satu-satunya adalah siasat . Siasat untuk kebaikan dirinya .. Kamu tau Yah , aku belajar dari Dennis .. Dia mendapatkan segalanya dengan uangnya .. Tapi aku , Aku mendapatkan satu keinginan ku dengan nyawaku . Jika aku pun harus tiada aku tak perduli . Biar Sinta tau .. Jika aku tidak merestui nya hingga aku mati . ”


" Jadi maksudmu .. Jika kamu mati .. Kamu puas karena Sinta merasakan penyesalan karena menentang kamu Bu ? Kamu sudah berubah banyak .. aku tidak tau kenapa kamu menjadi seperti ini . ” Lontar ayah Lagi semakin kecewa .


" Aku melakukan itu untuk kebaikan putriku . ”


” Ya .. lagi-lagi aku lupa kalo aku tidak punya hak apapun atas dirinya . Dia bukan darah daging ku , Kamu yang berhak atas dirinya . ” Kata ayah lalu pergi meninggalkan istrinya .


Sementara itu ibu menangis karena telah melukai suaminya . Dia merasa tidak pernah ingin melakukan hal itu .. dengan segera dia menghapus air mata nya .