
Kania sadar, kalau ia belajar banyak dari keteladanan Siti, karena dalam kesulitan dan keterpurukan sekalipun Siti tetap patuh dan menghormati kedua orang tuanya, ia membantu dan tidak ingin menjadi beban orang tuanya karena tugas seorang anak adalah berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Sayang, Papa dan perusahaan baik-baik saja, yang penting sekarang kamu fokus sembuh dan biarkanlah urusan perusahaan Papa dan Papanya Alex yang mengurusnya," ucap papa Haris.
Papa Haris sekarang tidak ingin membebani anaknya sama sekali, beliau bertanggung jawab layaknya seorang ayah kepada putrinya. Ya, ternyata kejadian besar dimana kaburnya Kania di hari pernikahannya dan menyebabkan kecelakaan besar membuat papa Haris sadar kalau apa yang ia lakukan salah, bahwa tidak seharusnya ia menjual anak kesayangannya hanya untuk melepaskan hasrat dan keinginan yang tidak pernah merasa puas dari dalam batinnya.
"Pa, Kania adalah anak Papa satu-satunya, jika bukan Kania siapa lagi yang akan membantu Papa? Lagian bagaimana mungkin Kania akan membiarkan Papa berpikir keras sendirian sementara ada Kania disini," jelas Kania panjang dan lebar, berharap sang ayah luluh dengan apa yang disampaikannya.
"Nak, Papa tidak ingin menyakiti dan melukai kamu lagi, Nak, karena sekadang tugas kamu adalah sekolah yang benar dan tinggi-tinggi dimanapun yang kamu mau asalkan kamu senang dan bahagia, Nak!"
"Pa, Kania sayang sama Papa, Kania ingin Papa bahagia juga, apakah kita bisa bahagia bersama-sama, Pa?"
Mata Kania berkaca-kaca, ia ingin papanya memberikan ia kesempatan untuk berbakti, menjadi anak yang berguna dan bermanfaat untuk sang papa walaupun dengan cara berbeda. Kania ingat pengalamannya kembali ke masa lalu, kalau keluarga Siti menyelesaikan masalah dengan cara duduk bersama untuk mencari solusi terbaik, bahkan jika solusi terbaik tidak di dapatkan setidaknya sesama keluarga bisa saling menguatkan.
"Nak, kamu hanya perlu berdoa dan menyemangati Papa karena Papa dan Papanya Alex akan berjuang untuk membuat perusahaan kita bangkit lagi."
Mata papa Haris berkaca-kaca dan Kania paham sekali kalau saat ini papanya sedang menanggung kesedihan sendiri, tidak ingin membagi dan merepotkan putri kesayangannya karena urusan perusahaan dan om Galih adalah urusan orang dewasa.
"Pa."
Kania membentangkan kedua tangannya, ia ingin memeluk sang papa.
Ya, papa Haris mendatangi dan memeluk putrinya yang saat ini masih duduk lemah di atas ranjangnya.
Ayah dan anak itu saling berpelukan dengan penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus.
Kania menepuk-nepuk lembut pundak papanya, mengatakan kepada beliau kalau semua akan baik-baik saja.
"Nak, terima kasih banyak, kamu adalah penguat dan penyemangat Papa, kamu adalah salah satu orang yang membuat Papa ingin bertahan dan bangkit kembali," ucap papa Haris.
Air mata yang tadinya dibendung akhirnya tercurahkan juga, papa Haris meluapkan isi hatinya lewat tangisan dan air mata.
Dada lelaki paruh baya itu terasa sesak, nafasnya cepat dan matanya tidak henti-hentinya mengeluarkan kristal bening. Beliau merasa bersalah dan sangat berdosa karena putri yang selama ini ingin dijualnya malah menjadi pelipur laranya.
"Papa, ada Kania disini dan Kania akan menemani Papa selamanya."
Kania berusaha menghibur papanya, mengeluarkan kata-kata terbaik yang membuat perasaan papanya menjadi lebih baik.
"Papa sayang sama kamu, Nak, terima kasih telah menjadi anak Papa."
Ucapan tulus dari suara parau itu akhirnya meluluhkan Kania, air mata juga jatuh membasahi pipinya, ia akhirnya merasakan kembali ketulusan hati papanya, pelukan hangat seorang ayah yang Kania rindukan, pelukan yang terasa sama dengan pelukan abak, membuat kerinduan Kania kepada abak terobati.
'Ya Allah, terima kasih banyak, terima kasih karena Engkau telah mengembalikan Papa kepadaku, aku berayukur dan merasa sangat bersyukur sekali karena kehidupanku telah berubah seperti dahulu, aku bahagia.'
Kania membatin, mengungkapkan betapa ia merasa sangat senang dan bahagia atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
Kring ..., Kring ..., Kring ....
Kania mendengar suara ponselnya bergetar, ia sangat tahu dan yakin sekali kalau itu adalah panggilan dari Alex karena hanya ada kontak Alex dan papa Haris yang ada di ponsel itu.
Papa Haris paham dan sangat mengerti tentang kerinduan putri kesayangannya itu kepada kekasihnya, sehingga beliau melepaskan pelukannya dari Kania, memberi ruang untuk sang putri melepaskan rindu untuk sang kekasih yang sangat dicintai dan disayangi dengan segenap hati dan perasaannya.
Kania bergegas mengangkat ponsel itu, dengan keadaan tubuh yang bergetar hebat, Kania menyapa sang kekasih dengan suara lembutnya.
[Assalamualaikum] ucap Kania dengan nada suara kaku seolah baru mengenal Alex dan baru menelpon untuk pertama kalinya.
[Waalaikumsalam, Sayang]
Jantung Kania berdebar luar biasa kencangnya, kerinduan memuncak itu akhirnya tertumpahkan dengan hanya mendengarkan suara lelaki yang sangat disayangi dan dicintainya dengan segenap hati dan perasaannya.
[Sayang, kamu apa kabar? Kamu sudah bangun?]
Ada rasa khawatir dari nada suara Alex, ada juga rasa bahagia dan lega karena kekasih yang sangat ia sayangi akhirnya bisa bangun kembali dari tidur panjangnya.
[Aku merindukanmu!]
Tidak ada kata-kata lain yang Kania sampaikan selain sebuah kerinduan untuk kekasih hati yang sudah lama tidak ia temui walaupun di dalam mimpi selalu ada Alex dan Syamsul di sana.
Alex terdiam mendengarkan ungkapan kerinduan Kania, nafasnya menjadi cepat, karena apa yang dirasakan olehnya sama dengan yang dirasakan oleh Kania.
[Sayang, kenapa kamu diam? Apakah kamu tidak merindukanku?]
Kania bertingkah sangat agresif dan bergerak duluan, karena ia tidak sanggup menahan gejolak di dalam hatinya.
[Bu-bukan seperti itu!] ungkap Alex gugup.
Alex tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Kania, ia sangat merindukan Kania bahkan kerinduan memuncak yang ditanggungnya telah menggunung, bahkan rasa itu seperti gunung apa yang akan meledak dari dalam dadanya.
"Nia, Papa ingin berbicara dengan Alex!"
Papa Haris mengulurkan tangan kanannya, meminta Kania memberikan ponsel itu kepadanya, wajah beliau terlihat tegas dan sangat kaku, hingga Kania merasa ragu untuk memberikan ponsel itu kepada papanya. Ya, Kania bukannya tidak percaya kepada papanya, hanya saja ia ingin berjaga-jaga agar sang papa dan kekasihnya tidak membuat keributan yang membuat sakit kepalanya.
"Ini, Pa," ucap Kania dengan nada suara lemah sembari memberikan ponsel itu ke tangan papanya.
"Terima kasih, Nak."
Papa Haris mengambil benda pipih itu dari tangan Kania kemudian beliau meletakkan ponsel itu di telinganya.
[Alex, apa saya bisa bicara?]
[Iya, Om, silahkan!]
Suara Alex terdengar parau dan sangat ketakutan, seperti kerupul yang tersiram oleh air, mental Alex ciut berhadapan dengan papa Kania.
[Bagaimana keadaan kamu sekarang, Alex?]
[Alhamdulillah saya merasa lebih baik dan lebih sehat, Om]