
Lampu-lampu kota Jakarta dan pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang membuat Kania merasa sangat takjub.
Aneh, bahkan Kania hampir setiap hari melewati jalanan Jakarta yang penuh dengan gedung bertingkat dan hiruk-pikuk, akan tetapi kali ini Kania merasa jatuh cinta dengan kota Jakarta.
"Siti, beginikah perasaanmu ketika melihat sesuatu yang indah? Masyaallah, begitukah kata-kata yang harus diucapkan ketika kita takjub?" ucap Kania di dalam hati.
"Sayang, kapan kita akan menikah?" tanya Alex tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Kania.
"Apa?" Kania kaget, ia menatap wajah Alex dengan tatapan syok dengan mata terbelalak.
"Nggak apa-apa, Sayang, lupakan saja kata-kata yang keluar dari mulut pangeranmu ini," ujar Alex dengan wajah tertunduk namun terdengar kecewa.
"Iih..., Sayang apa-apaan sih, becandanya bikin syok."
"Maaf, Sayang, sebentar ada telepon."
Alex segera mengangkat telepon genggamnya, sembari menatap ke arah Kania kemudian ia menyerahkan HP-nya kepada Kania.
"Siapa?" tanya Kania dengan isyarat.
"Ngomong aja," balas Alex juga dengan isyarat dan mimik wajah.
"Nona Kania lagi dimana? Apa kita bisa bertemu?" Dari suaranya saat ini terdengar jelas seperti Pak Adrian, salah satu investor terbesar di perusahaan keluarga Kania, orang yang beberapa kali pernah bertemu Kania pada acara pertemuan perusahaan.
"Pak Adrian? Ini Bapak bukan? Saya lagi di Monas, saya sedang menenangkan diri," jawab Kania singkat namun penuh dengan sejuta tanda tanya dan penasaran tentang maksud pak Adrian menghubunginya.
"Ibu, apa kita bisa bertemu? Kalau boleh saya akan menyusul ke sana. Jadi, ibu jangan ke mana-mana dan tunggu saja di sana, saya akan segera sampai di sana," ucap pak Adrian yang langsung di setujui oleh Kania karena ia yakin ini adalah kesempatan besar untuk Kania mengembangkan perusahaannya lagi tanpa harus menikah dengan om Galih.
"Nona Kania, boleh tolong berikan lagi HP-nya ke Alex? Saya ingin berbicara sama beliau," jelas pak Adrian.
"Baik." Kania mengulurkan HP itu kepada Alex.
Sepertinya pak Adrian bernegosiasi dengan Alex tentang pertemuan bisnis, karena Alex memang terkadang bersikap sebagai seorang sekretaris bagi Kania, dan Kania memang telah diajarkan papanya untuk berbisnis sejak ia baru menginjakkan kaki di bangku SMA.
Setelah selesai menelpon, Alex tidak berkata apa-apa lagi kepada Keyla, ia hanya memperhatikan Kania yang tengah menikmati indahnya saat malam di Monas. Mandang malam di Jakarta hari ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya, hingga membuat Kania takjub dengan kebesaran Allah Sang Pencipta.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
"Sayang, apa kamu ingin turun dari mobil? Memandang Monas dari luar secara langsung jauh lebih menyenangkan dari pada hanya dari mobil saja," jelas Alex.
Alex mencoba meyakinkan Kania kalau dunia luar itu jauh lebih indah dan menakjubkan dari pada hanya sekedar berkurung di dalam mobil.
Alex membuka pintu mobil dan menggandeng tangan Kania berjalan di sekitar Monas.
Alex membawa Kania duduk di sekitar area Monas sembari menikmati es cendol dan kue kering yang menambah keasyikan ketika menikmati pemandangan malam.
"Sayang, apapun yang terjadi kamu harus berbagi denganku, jangan pernah menangis lagi ya! Hiduplah bahagia dan tersenyumlah seceria dulu." Alex menatap Kania dan terlihat sangat tulus mengucapkannya dan dalam beberapa detik tatapan Alex berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
"Terima kasih banyak, Sayang, kamu selalu ada dalam hidupku dan menjagaku dengan sangat tulus," ucap Kania sembari memeluk Alex dengan senyuman merekah yang ia perlihatkan.
"Sama-sama, Sayang, kamu adalah kekasihku dan calon istriku, jadi tidak mungkin aku membiarkanmu bersedih atau mengeluarkan air mata," ujar Alex sembari menepuk-nepuk punggung Kania dengan lembut.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Sayang." Senyum Kania terlihat ramah dan sangat tulus.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Kamu tidak apa-apa 'kan? Aku khawatir, aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa?" pertanyaan beruntun yang keluar dari lisan Alex membuat Kania tidak tahu akan menjawab yang mana duluan. Sehingga Kania memilih diam dan membisu.
"Sayang, ceritakanlah!" ucap Alex lembut.
"Sayang, maafkan aku!" Kali ini wajah sendu Kania membuat Alex semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang, tatap aku!" nada suara Alex terdengar parau.
"Sayang, maafin ku. Maaf karena aku belum siap menikah denganmu!" Mata Kania mulai berkaca-kaca dan kali ini terlihat benar-benar menyedihkan di telinga.
"Kenapa tidak bisa? Bukankah kita saling mencintai? Aku tahu kita masih SMA tapi kita bisa menikah setelah tamat SMA bukan?" jawab Alex terdengar penuh harap.
"Karena saat ini aku sedang menyelesaikan masalah yang tidak bisa aku selesaikan dalam waktu singkat," jelas Kania.
"Apa yang menjadi masalahmu itu? Apakah kamu tidak bisa berbagi denganku? Apakah hubungan kita tidak bisa saling berbagi?"
Alex terlihat kesal dengan keanehan sikap Kania, ia tidak suka jika Kania menyembunyikan sesuatu darinya, karena Alex sangat ingin sekali berbagi suka duka dan kesulitan bersama.
"Maaf, Sayang, aku hanya tidak tahu akan memulainya dari mana," jelas Kania dengan wajah sedih.
"Iya, dimaafkan!" jawab Alex singkat.
"Kalau dimaafin kenapa jawabnya singkat gitu, Sayang?" Kania mendekatkan wajahnya kepada Alex sembari membesarkan mata dan memanyunkan mulutnya.
"Jelek!" puji Alex.
Alex merasa sangat gemas dan terhibur melihat tingkah Kania yang lucu hingga membuat Alex tertawa lepas.
"Iih, apaan sih, kenapa malah ketawa-ketawa, jelek tahu!" protes Kania yang semakin kesal melihat tingkah Alex.
"Jelek-jelekkan sayang juga."
"Enggak ya, ngapain sayang sama cowok yang nggak sayang sama kita." Kali ini Kania semakin memukul punggungnya Alex.
"Siapa yang nggak sayang, aku malahan sayang banget sama kamu, Kania."
"Trus ngapain ngejek-ngejek gitu? Senang gitu ngelihat aku?"
"Kamu ngambek, Sayang?"
"Enggak, ngapain juga ngambek!" kali ini Kania memukul Alex dengan tenaga.
"Aduh, aduh, Sayang sakit!" Teriak Alex dengan wajah kesakitan.
"Mana yang sakit, Sayang?" Kania langsung menghentikan pukulannya dan memeriksa punggung kekasih hati yang sangat dicintainya itu.
Alex menatap Kania dengan tatapan berkaca-kaca, dia memegang tangan Kania dan meletakkan di dadanya. Kania merasakan detak jantung Alex bergetar sangat kencang.
"Hatiku yang sakit, Sayang. Aku terluka jika kamu terluka. Aku janji akan melindungimu dan tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti dan melukaimu," ucapan Alex membuat Kania luluh, hingga gadis cantik itu langsung memeluk kekasih hatinya.
"Aku minta maaf sama kamu, aku janji nggak akan ngecewain kamu lagi."
"Iya, Sayang, aku juga minta maaf karena membuat kamu khawatir."
Kania merasakan dekapan dan pelukan Alex semakin erat.
"I love you, Sayang."
Kania merasakan sesuatu mendarat di keningnya hingga membuat matanya langsung terpejam karena terhanyut dalam lautan asmara.
"I love you too, Sayang," jawab Kania dengan ucapan tulus dari hati terdalam.
Kini tidak hanya di kening, perlahan pesawat itu mendarat lembut di bibir Kania, hingga untuk sesaat Kania dan Alex terhanyut dalam gelora di dada yang telah memucak. Di bawah langit senja, di Monas mereka berdua saling jatuh cinta.
"Astagfirullahalazim!" Kania sadar, dan langsung melepaskan pelukan Alex. Sementara Alex kaget dengan mulut ternganga.
"Kenapa, Sayang?" Alex kembali mendekati Kania dan berusaha memeluk Kania lagi, tapi kali ini Kania mengelak.