
Kania kaget, ia tidak menyangka kalau ia akan mendapat telepon dari papanya.
'Ah tidak mungkin!'
Kania mengabaikan panggilan telepon itu sampai beberapa kali, namun kerinduan kepada sang papa membuat Kania akhirnya mengangkat panggilan itu.
Kania mendengar suara serak dari lelaki separuh baya yang ia panggil papa. Suara yang sangat ia rindukan dan salah satu orang yang ingin ia peluk dan mengatakan kalau ia sangat mencintai papanya.
"Nia, kamu dimana, Nak?" ucap Haris dengan suara serak, terdengar seperti orang sakit.
Kania terdiam untuk beberapa saat, ia merasa tidak yakin suara papanyalah yang ia dengar saat ini. Hingga air mata jatuh membasahi pipi Kania.
"Kania, kamu dengar Papa, Nak?" Papa butuh bantuanmu, Na ...," teriak Haris sebelum panggilan teleponnya beralih kepada Galih.
"Papa ...!" teriak Kania memanggil-manggil papanya, namun tidak ada lagi jawaban atau balasan teriakan lagi dari papanya.
"Kania, sekarang kamu dengarkan baik-baik, saya akan melepaskan Papamu dan mengembalikan semua aset yang kalian miliki dengan syarat, kamu harus menikah dengan saya!"
Ucapan tegas yang keluar dari lisan lelaki tua bangka itu membuat Kania sangat muak dan benci. Jikalau lelaki yang dihadapinya adalah Datuak Maringgih dari masa lalu, ia akan melawannya dengan segenap kemampuan yang ia miliki. Tapi ini berbeda, Kania saat ini berhadapan dengan om Galih, milyarder yang memiliki banyak relasi dan anak buah di mana-mana sehingga tidak akan ada orang yang bisa melawannya.
Uang?
Uang memang bukanlah segalanya, akan tetapi semuanya bisa dibeli dengan uang, termasuk harga diri seseorang dan itu terjadi baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Akan tetapi, tidak semua orang menyukai uang dan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh uang salah satunya Kania. Ya, walaupun saat ini Kania membutuhkan uang untuk dibawa ke masa lalu, tapi ia tidak akan dengan mudah menyerahkan dirinya sebagai barang yang dibeli oleh om Galih.
Kania adalah gadis yang biasa hidup dan dibesarkan dikeluarga kaya yang bergelimang harta dan berkecukupan. Akan tetapi Kania tidak ingin tua bangka itu menginjak-injak harga dirinya.
Kania akan mempertahankan apa yang menjadi haknya dan Kania akan berjuang kembali merebut apa yang seharusnya memang menjadi miliknya.
"Kania, apa kamu mendengarkan saya?" hardik Galih dengan suara sangat lantang dan keras.
Kania terkejut dan ia merasa sangat ketakutan. Jantung Kania juga terasa seperti akan copot, akan tetapi Kania berusaha bersikap tenang.
"Astagfirullahalazim," ucap Kania di dalam hati.
Kania terus melafazkan zikir dan istigfar untuk menjaga hati dan emosinya agar tidak meledak, seperti yang diajarkan oleh bundo.
'Aku harus sabar dan mengendalikan emosiku, aku tidak boleh terpengaruh dengan jebakan Om Galih,' ujar Kania sembari mengurut-urut dadanya yang terasa sangat sesak.
"Ni-, Kania, tolong Papa, Nak!" Kali ini Kania mendengar suara isak tangis dari papanya yang terdengar pemah dan tidak berdaya.
Hati Kania merasa sangat iba sekaligus hancur mendengarkan isak tangisan papanya.
Kania benar-benar tidak tega dengan semua yang terjadi kepada papanya.
"Om, jangan sakiti Papa saya!" ucap Kania lantang dan sangat tegas.
Kania tidak ingin memperlihatkan ketakutannya dan ia ingin memperlihatkan kepada om Galih kalau ia bukanlah gadis yang lemah yang dengan mudahnya ditindas.
Persoalan hidup yang sangat pelik, baik di masa lampau maupun di masa sekarang membuat Kania belajar untuk menjaga dirinya sendiri. Ia harus kuat untuk merubah nasip hidupnya agar tidak tertindas oleh orang yang kedudukannya lebih tinggi darinya.
"Kania, kalau kamu ingin papa kamu selamat maka kamu harus datang ke tempat yang akan saya kirimkan pada pesan pribadi setelah ini. Jika kamu tidak datang maka nyawa Papa kamu yang akan menjadi tantangannya!" ucap om Galih sembari memutus panggilan teleponnya.
Suara lantang yang berisi ancaman itu benar-benar membuat Kania geram.
"Dasar tua bangka sialan, awas lo!"
Kania mengepalkan kedua tangannya dan meninju dinding kamar tanpa mengenal sakit sedikitpun.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Kania harus menemukan srategi dan cara yang tepat agar nyawa papanya tidak menjadi korban, ia juga harus berusaha menemukan cara supaya om Galih tidak ingin menikah dengannya.
Negosiasi?
Ya, dalam berbisnis seorang pengusaha akan memikirkan untung dan ruginya, jika sesuatu hal menguntungkan untuk mereka maka mereka akan menerimanya, begitu sebaliknya ketika sesuatu itu tidak menguntungkannya maka ia akan melakukan perlawanan.
Tidak ada istilah rugi dalam berbisnis, begitulah pemikiran licik dari Galih dan Kania harus bisa menemukan solusi terbaik yang menguntungkan Galih, namun tidak merugikan Kania sama sekali.
"Dasar tua bangka, enak sekali kamu memintaku menjadi istrimu. Bukannya memperbanyak amal ibadah tapi masih saja memikirkan dunia," ujar Kania kesal.
Kania mengumpag om Galih dan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk lelaki yang tidak tahu diri itu. Namun, Kania teringat akan kebaikan hati Bundo dan Abak yang mengajarkan kebaikan kepadanya.
Siti, Abak, Bundo, mereka yang berada dalam masa lalu itulah yang saat ini Kania pikirkan. Ya, jika saat ini Kania kembali ke masa lalu mungkin saja ia akan mendapatkan solusi dan jalan keluar terbaik dari masalah yang ia hadapi saat ini. Akan tetapi saat ini Kania berada di masa sekarang, dimana ia dihadapkan pada kekejaman dari penguasa yang bisa melakukan apa saja untuk memuaskan hasratnya.
"Alex, aku harus segera bertemu dengan Alex!' ucap Kania.
Saat ini satu-satunya orang yang bisa Kania percaya dan mintai pertolongan adalah Alex, kekasih hati yang teramat sangat dicintainya.
Kania langsung keluar dari apartemen menuju apartemen Alex yang ada di sebelah apartemen yang ia tempati.
Kania menekan sidik jarinya dan masuk ke apartemen Alex dengan memasang senyum termanisnya.
Ya, saat ini Kania harus membujuk Alex yang tadi merajuk dan meninggalkannya karena sikap Kania yang tidak terlalu ramah kepadanya.
"Assalamualaikum, Sayang, kamu dimana?"
Kania masuk dan melihat sekeliling apartemen, akan tetapi ia tidak melihat batang hidung Alex ada di sana.
Kania terus mencari keberadaan Alex, dan berpikir mungkin saja lelaki yang sangat dicintainya itu tengah bersembunyi dan main petak umpet dengannya.
'Apa Alex keluar apartemen? Tapi, tidak mungkin ia pergi tanpa memberikan kabar kepadaku. Atau ..., apakah Alex benar-benar marah kepadaku?' ucap Kania di dalam hati.
Sejujurnya hati Kania sangat takut, jika Alex meninggalkannya seorang diri disini, karena tidak ada lagi orang yang bisa membantunya selain Alex untuk saat ini.
"Sayang, apa kamu di kamar?" tanya Kania sembari bersorak.
Dengan mengendap-endap, Kania melangkahkan kakinya berjalan memasuki kamar Alex.
"Sayang ...!" teriak Kania histeris.
Kania terbelalak dan langsung berlari mengejar Alex yang tengah tergeletak di lantai.
"Apa yang terjadi denganmu, Sayang?"
Kania membawa Alex ke dalam dekapannya.
Kania menepuk-nepuk lembut pipi Alex sembari memanggil-manggil namanya.
Kania merasakan tubuh Alex sangat dingin seperti es.
"Sayang, apa yang terjadi? Jangan tinggalkan aku!"
Kania menangis sehingga air matanya jatuh membasahi pipi Alex. Dengan nada terisak-isak, Kania terus berusaha membangunkan Alex.
"Siti, ada apa? Kenapa kamu menangis?"