
"Aku ingin makan nasi goreng Bundo, tetapi kita menikmatinya sembari piknik di taman depan rumah kita," ujar Kania dengan senyuman.
Kania terlihat sangat bersemangat untuk bisa memulai hidup baru yang lebih baik dengan menjalin keakraban bersama papa dan Alex calon suaminya.
"Baiklah, Nak, Papa dan Alex akan memasakkan makanan paling enak buat kami," ujar papa Haris.
Kania tersenyum kepada dua orang yang sangat disayanginya itu, betapa ia sangat bersyukur memiliki keduanya dan sungguh tidak sabar lagi ingin segera makan dan piknik di depan rumah.
"Sayang, sekarang kamu istirahat, kalau ada apa-apa maka kamu panggil saja Bibi karena beliau akan standby disini buat menjaga kamu, Nia," ucap Alex sembari mengacak-acak rambut Kania.
"Alex, kamu kenapa sih suka banget ngacak-acak rambut aku," ucap Kania protes dan tidak suka jika mahkotanya di rusak.
Kania kemudian teringat akan pesan abak dan bundo kalau menutup aurat itu adalah kewajiban setiap hamba Allah.
Kania juga ingat ketika ia dan Alex datang ke masa lalu dengan menggunakan hijab layaknya wanita muslimah, bunda dan abak terlihat sangat bahagia melihatnya.
Sekarang mulai terpikirkan oleh Kania untuk menggenakan hijab untuk menutup auratnya.
"Apakah aku mengenakan jilbab saja ya?" ucap Kania di dalam hati.
"Sayang, kenapa kamu bengong dan terlihat murung, apa aku salah telah mengacak-acak rambutmu?" tanya Alex yang terlihat merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan kepada kekasihnya itu.
"Tidak, aku hanya teringat sesuatu."
Alex paham dengan apa yang Kania katakan, karena Alex juga pernah datang ke masa lalu bersama Kania dan Alex tahu kalau saat ini Kania pasti sangat merindukan abak dan bundo.
"Kalau begitu kamu istirahatlah, aku dan Papa akan segera memasak," ujar Alex.
Alex dan papa Haris keluar dari kamar Kania dengan bersemangat menuju daput untuk memasak makanan spesial untuk Kania.
Sementara itu Kania masih terlihat berfikir tentang apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Kania ingin sekali mengenakan hijab, tapi ia ingin niatnya itu tulus berasal dari hatinya bukan dari paksaan dari siapapun.
"Non, apa Non mau tidur? Biar Bibi bantu."
Asisten rumah tangga Kania yang selalu melayani kebutuhan Keyla sampai hari ini datang menghampiri Kania dengan senyuman menawan.
Bibi sangat senang karena Kania kembali ke rumah dan hubungannya dengan papanya kembali baik. Bibi adalah orang yang dititipkan oleh mama Kania untuk menjaga putri kesayangannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jadi Bibi memperlakukan Kania layaknya putrinya sendiri, begitu juga dengan Kania, ia tidak pernah membedakan bibi dan memperlakukan bibi layaknya asisten rumah tangga tapi memperlakukan beliau seperti keluarga juga, keluarga yang sangat Kania sayang dan cintai.
"Bibi, apa Kania boleh meminta pendapat kepada Bibi?"
Kania menggenggam tangan bibi dan tersenyum kepada bibi dengan penuh perhatian dan mata yang berbinar-binar.
"Iya, Non, tentu saja bisa, apa yang mau Non diskusikan dengan Bibi? Mungkin saja Bibi bisa membantu," ucap bibi sembari membelai rambut Kania.
Ya, setelah rambut Kania diacak-acak oleh Alex, Bibi langsung menyisir dan merapikannya, karena Kania adalah tipe gadis yang tidak menyukai berantakan apalagi tentang kecantikan dirinya.
"Bi, apa Bibi punya jilbab untuk Kania pinjam?" Kania berbicara serius dan mengungkapkan keinginannya untuk mengenakan hijab.
"Non, bagaimana kalau Non beli online saja?" jelas bibi dengan nada suara malu.
"Bibi, tidak apa-apa, Kania hanya meminjam, nanti Kania akan belikan banyak untuk Bibi sebagai gantinya, " ucap Kania sembari tersenyum.
"Bukan itu maksud Bibi, Non," bibi tertunduk malu.
"Bibi, Keyla tidak apa-apa kok menggenakan pakaian apa saja."
Kania menengadahkan wajahnya dan tersenyum kepada bibi hingga bibi merasa nyaman dengannya.
Bibi tidak menyangka Kania telah banyak berubah dan ia mau mengenakan pakaian murah seperti yang bibi kenakan. Bahkan Kania berbicara sangat sopan dan menghargai bibi seperti orang tua bukan seperti pekerja.
"Kalau begitu Bibi ke kamar dulu ya untuk mengambilkannya," ucap bibi.
Bibi bergegas keluar dari kamar Kania untuk mengambil jilbab terbaik yang ia punya untuk ia berikan kepada Kania. Bibi juga tidak ingin meninggalkan Kania karena Kania baru saja bangun dari tidur panjangnya, jadi kondisinya saat ini masih sangat lemah sekali.
Sementara Kania, saat ini ia tengah melihat-lihat ponselnya. Ia melihat potret-potret kebersamaannya dengan abak, bundo, Syamsul dan juga Fatimah di masa lalu. Kania senang karena ia memiliki kenangan yang akan ia ingat jika ia merindukan orang-orang dari masa lalu.
'Hai semua orang yang kusayang yang berada di masa lalu, beristirahatlah dengan tenang dan damai karena aku sudah bahagia berada disini dengan kehidupan yang lebih baik bersama keluargaku dan juga orang tuaku,' ucap Kania di dalam hati sembari tersenyum.
Kania bertekat setelah sembuh ia akan bekerja sangat keras bersama Alex untuk membahagiakan papanya. Kania ingin papanya pensiun dan menikmati hidup dan hari tuanya dengan cucu-cucu yang akan Kania berikan kepada papanya.
Kania berencana ingin mempunyai banyak anak agar rumahnya ramai dan ia tidak merasakan kesepian di rumah besar yang terlihat sangat mewah ini.
Kania ingat sekali pesan abak dan bundo, kalau dalam rumah itu harus dijalin keakraban antara seluruh anggota keluarga, agar keakraban terjalin hingga muncullah cinta dan kasih sayang.
Dulu, Kania hidup bahagia bersama keluarganya karena mamanya menjadi penghubung keakraban dan kekompakan keluarga mereka, kini karena mama sudah tidak ada, Kania harus memperbaiki hubungannya dengan papanya agar keluarga mereka kembali harmonis.
"Non, ini ada beberapa jilbab terbaik yang Bibi punya, semoga Non suka," ucap bibi yang baru saja datang memasuki kamar Kania kembali dengan membawa beberapa buah jilbab.
"Wah, terima kasih banyak, Bi."
Pandangan Kania tertuju pada satu jilbab yang berwarna merah muda yang menarik perhatiannya.
"Bi, boleh Kania mencobanya?"
"Tentu," balas sang bibi dengan senyuman meneduhkan sekali.
Bibi mengingatkan Kania kepada bundo, sifat baik, kelembutan hati dan sifat penyayang bibi membuat Kania merasa memiliki bundo di dunia masa depan.
Kania kemudian memasangkan jilbab berwarna merah muda, ia merasakan ketenangan dan kedamaian sama seperti saat pertama kali ia mengenakan hijab di masa lalu.
"Masyaallah, Non, cantik sekali," ucap bibi memuji sembari memberikan dua jempolnya untuk Kania, karena Kania memang benar-benar terlihat sangat cantik sekali mengenakan hijab.
"Apakah Bibi berkata serius?"