WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Takdir Allah Yang Terbaik



“Kalau begitu Sirti permisi dulu ya, Bun, Maaf karena Siti ngerepotin.”


“Nggak apa-apa, Nak Siti, santai aja! Bundo nggak ngerasa kerepotan kok. Hati-hati pulangnya, Nak.”


“Iya, Bu, assalamualaikum.” Kania berlalu pergi meninggalkan rumah Syamsul.


Ia kendarai sepeda pemberian abak dengan kecepatan standar yang ia bisa, pikiran Kania terganggu dan semakin terganggu dengan misteri Syamsul yang tiba-tiba menghilang di hari ia berjanji akan menikahi Siti. Banyak hal yang ingin Kania tanyakan, banyak hal yang ingin Kania ungkapkan kepada lelaki itu. Namun, kenapa lelaki itu pergi tanpa memberi tahu apa-apa kepada Siti? Kania semakin penasaran dan terus merasa penasaran, hingga ia memutuskan berhenti di sawah yang lokasinya di pinggir jalan, tepat sekali lokasinya tidak jauh dari rumah Syamsul.


Kania meraih telepon genggam dari dalam kantong celananya. Kania berusaha menghubungi Alex untuk menanyakan keberadaan papanya. Namun, ponsel tetap masih belum berguna diasa lalu.


“Alex, Syamsul, kalian dimana? Syamsul kenapa kamu menghindari Siti dan membatalkan pernikahan kalian? Kamu tahu tidak kalau Abak meninggalkan kamu selamanya, kamu tahu nggak rasanya separuh jiwa ini hilang?” batin Kania.


Tiba-tiba pandangan Kania tertuju pada dua sejoli yang tengah bercanda tawa, jarak mereka sekitar satu meter dari tempat duduk Kania.


"Siapa wanita itu?" tanya Kania heran.


"Namanya Fatimah," ucap suara hati.


Sosok itu seperti orang yang sangat Kania kenal, tapi apakah Kania tidak salah lihat? Kania ingin memastikannya. Perlahan Kania langkahkan kakinya dengan rasa penasaran memuncak dan dada yang sangat bergetar hebat. Beribu pertanyaan muncul dari benak Kania, "Apakah yang sebenarnya terjadi?"


Perlahan jarak ini semakin dekat, Kania melihat dengan mata kepalanya. Fatimah adalah sahabat karib Siti dan Fatimah saat ini terlihat sedang bersama seorang lelaki yang tidak Kania kenal.


"Fatimah!" ujar Kania sembari mendekati sahabat Siti itu.


Ya, kali ini Kania kembali bertingkah seperti Siti, ia tidak bisa mengendalikan ucapannya sama sekali.


"Siti dengerin penjelasanku!" ujar Fatimah.


“Mau dengerin apa lagi, kamu adalah sahabat dekatnya Syamsul, aku yakin kamu tahu dimana dia, apakah kamu tidak bisa memberitahu aku?"


"Maaf, Siti, aku juga tidak tahu dimana Syamsul sekarang, walaupun aku adalah sahabat kecilnya," jelas Fatimah.


Kania kecewa kepada Fatimah, karena ia kalau Fatimah tengah menyembunyikan sesuatu, ia kemudian berlari sekencang yang ia bisa, mengendarai sepeda dengan sekencang-kencangnya dan sepertinya bumi mendukungnya. Langit pun ikut menangis bersama Kania, seolah kristal-kristal bening itu menyatu bersama air mata Kania yang tidak lagi bisa ia bendung karena rasa kecewa dan pilu. Ya sudahlah, setidaknya Kania bisa menghapus semua luka ini bersama hujan yang menemani Kania menangis. Kania berharap setelah ini akan ada pelangi yang mewarnai hidupnya sehingga ia lupa pedihnya rasa kecewa ini.


“Tuhan, hatiku dipatahkan oleh cinta. Apakah karena aku terlalu berharap kepada manusia? hingga Engkau tunjukkan kepadaku pedihnya pengharapanku itu. Hatiku patah dan patah lagi, rasanya luka yang dulu pernah ada masih belum sembuh, sekarang luka itu diiris lagi dengan pisau yang teramat sangat tajam. Jadi aku harus bagaimana? sampai kapankah aku harus merasakan sakit dan sakit lagi seperti ini, Tuhan? kapankah hati ini akan sembuh? kapankah aku merasakan kebahagiaan seperti orang lain? apakah aku tidak pantas untuk dicintai? apakah tidak ada cinta untukku? apakah takdir hidupku memang seperti ini? Tuhan, sekarang aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku pasrah dan aku menyerah. Terserah Engkau saja, Tuhan.” Batin Kania protes dan melontarkan beribu pertanyaan yang membuat otakku berputar hebat, rasanya seperti akan pecah. Air mata yang menyatu bersama hujan juga tidak bisa berhenti, Kania meraung dan ia terisak.


“Bruk...,” sepeda Kania menabrak tumpukan kerikil hingga aku terjatuh ke aspal dan ia tak lagi sadarkan diri.


"Tuhan, aku percaya rencana-Mu pasti lebih baik dari pada rencanaku dan ketetapan-Mu pasti lebih indah dari pada apa yang aku harapkan. Jika rasa sakit yang Engkau berikan ini adalah cara-Mu untuk menghapus dosaku, jika rasa sakit ini adalah cara-Mu untuk menjadikan aku wanita yang lebih kuat, maka berilah aku kesabaran yang luar biasa untuk menjalankan semua ujian yang Engkau berikan, karena aku percaya Engkau pasti tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuanku dan aku percaya janji-Mu pasti dan benar adanya.


Kini Kania mengikhlaskan semuanya, 'Mungkin Alex memang bukan jodohnya dan ia juga tidak ingin menyalahkan siapa-siapa atas semua yang terjadi saat ini, karena aku percaya semua ini adalah rencana-Mu dan aku percaya akan ada hikmah kebaikan yang Engkau titipkan sebagai pelajaran untuknya. Aku percaya Engkau tidak akan mengambil sesuatu yang baik kecuali menggantikannya dengan yang lebih baik. Bukankah pelangi memang selalu muncul setelah hujan? Dan aku percaya itu, rencana-Mu pasti yang terbaik,' ucap Kania di dalam hati.


"Nak, semua administrasinya sudah selesai, besok Nia udah boleh pulang," jelas bundo dengan senyum semeringah yang terlukis indah dari wajah cantik beliau.


"Selamat ya, Dek. Akhirnya besok udah bisa ninggalin rumah sakit ini," ucap suster yang merawat Kania sembari tersenyum.


"Makasih, Bundo, Suster. Nia senang banget akhirnya bisa kembali lagi ke rumah."


"Setelah ini jangan sakit-sakit lagi ya, Nak!" ucap bundo dengan senyum tipis dan raut wajah bahagia.


"Siap, Komandan!" jawab Kania sembari memberi hormat kepada bundo sehingga membuat semua yang menyaksikan tertawa melihat tingkah Kania yang sudah kembali ceria.


"O iya, tadi Bundo lihat seperti ada Fatimah di luar. Tadi dia ke sini ya, Nak?"


"Iya, Bundo, Fatimah barusan ke sini."


"Ngapain Fatimah kesini?" nada suara bundo sedikit meninggi.


"Dia cuma mau mintak maaf sama Kania karena ia mengira Kania itu adalah Siti, Bundo."


"Kamu mau bersahabat dengan dia 'kan, Nak?"


Bundo terlihat ingin membuat Kania betah di masa lalu dengan cara memperkenalkannya dengan sahabat dekatnya Siti.


"Iya, Bundo."


Kania juga berusaha menuruti keinginan bundo karena memiliki sahabat adalah impiannya sejak lama, ia tidak mempunyai sahabat selain Alex yang selalu menemaninya setiap hari kemanapun Alex menjadi teman, sahabat, sekaligus kekasih bagi Kania.


Bundo senang mendengarnya, Nak!" ujar bundo dengan senyum menawan.


"O iya Bun, Dek, kalau begitu saya permisi duluan ya, kalau ada apa-apa segera hubungi saya."


"Iya, Suster, terima kasih."


"Saya pamit ya, Bun, Adek. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati!" Ucap Kania dan bundo serentak.


"Bundo kenapa wajah Bundo terlihat sedih?" tanya Kania penasaran.