WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Saling Melepaskan Rindu



[Saya akan mengirimkan supir, kamu datanglah ke rumah Kania!]


Jantung Kania bergetar, ia tidak menyangka jika papanya meminta Alex datang ke rumah mereka, apalagi dalam keadaan sakit hanya untuk melepaskan hasrat kerinduan Kania yang tersimpan di dadanya.


[Om, ta-]


[Saya sudah bicara sama Papa kamu, jadi kamu tidak perlu panik dan khawatir]


Papa Haris menjelaskan kalau apa yang beliau perintahkan sudah berdasarkan persetujuan papanya Alex. Ya, tentu saja Alex dan Kania merasa sangat senang sekali karena keduanya bisa bertemu setelah sekian lama.


[Baiklah, Om]


Papa Haris mematikan ponselnya, beliau tidak membiarkan Kania dan Alex untuk mengucapkan kata-kata penutupan karena itu sudah tidak penting sekarang karena yang terpenting adalah mempertemukan dua orang yang tengah dimabuk asmara dalam pertemuan sesungguhnya dihadapan kedua orang tua.


"Sekarang siap-siaplah karena Alex akan datang ke rumah kita, Nak," ucap papa Haris dengan senyum indah menawan.


Senyum lepas, bahagia dan lega yang ditunjukkan papa Haris membuktikan bahwa beliau sangat senang bisa mewujudkan keinginan putri kesayangannya.


"Tu-Tuan, ada tamu."


Seorang asisten rumah tangga datang ke kamar Kania dengan nafas cepat dan ngos-ngosan, wajah ketakutan seperti habis melihat hantu.


Papa Haris menoleh menatap sang bibi yang kini berdiri di depan pintu dengam peluh yang bercucuran di keningnya.


"Ada apa, Bi?"


Papa Haris terlihat merasa tidak enak hati, beliau sangat yakin kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi dan beliau perlu menyelesaikannya.


Bibi diam dalam kebisuan dengan wajah yang penuh dengan ketakutan, sebuah tanda kalau papa Haris harus keluar dari kamar Kania.


"Sayang, Papa keluar dulu ya, ada tamu, kamu berdandanlah yang cantik karena Alex akan datang."


Papa Haris berdiri, kemudian membelai lembut kepala putri kesayangannya sebelum keluar dari kamar.


"Siapa yang datang, Bi?" tanya papa Haris sembari berjalan menuju ruang tamu.


"Tuan Galih, Tuan, dia sedang marah-marah di ruang tamu sekarang," ucap sang bibi dengan nada suara ketakutan.


"Ya sudah, sekarang Bibi hibur Kania saja, buat ia tidak memikirkan hal yang tidak-tidak," pinta papa Haris.


"Baik, Tuan."


Bibi berjalan meninggalkan papa Haris sesuai perintah, sementara itu papa Haris menghentikan langkah kakinya untuk sesaat. Huft ...


Sembari mengurut dada, papa Haris menarik nafas panjang, beliau mengumpulkan energi, keberanian dan kekuatan untuk bertemu dengan om Galih si tua bangka.


"Haris kamu dimana? Kenapa lama sekali? Apa saya harus mengacak-acak rumah ini supaya kamu segera keluar?" teriak om Galih dengan nada suara tinggi dan lantang hingga membuat gendang teling papa Haris serasa ingin pecah.


'Apa-apaan sih si tua bangka? Mengapa dia ribut tidak jelas di rumah orang, jangan sampai Kania mendengar!' batin papa Haris sembari berjalan ke ruang tamu menghampiri om Haris.


Papa Haris mengeluarkan suara tinggi dan membentak om Galih yang ribut dan mengacau di rumahnya karena lelaki tua bangka itu bersikap tidak sopan sama sekali.


"Kemana saja kamu? Kenapa kamu mengabaikan panggilan telepon saya? Dimana kamu menyembunyikan calon istri saya?"


Papa Haris membawa Kania pulang ke rumahnya secara rahasia, agar tidak diketahui oleh om Galih, karena om Galih bersikeras ingin menikah dengan Kania apapun yang terjadi, sebab aset yang pernah ia tanamkan di perusahaan papa Haris telah berlipat ganda sehingga papa Haris harus mengembalikan semuanya. Ya, om Galih adalah rentenir masa depan, sifatnya sama seperti Datuak Maringgih yang mengambil keuntungan secara berlipat ganda.


"Saya tidak tahu dimana anak saya, mungkin calon suaminya telah membawa ia kabur," balas papa Haris dengan lantang dan rasa percaya diri yang sangat tinggi sekali.


"Saya tidak percaya sama kamu, Haris!"


Sebuah tunjuk kiri mendarat di kening papa Haris, sebuah sikap tidak sopan yang ditunjukkan oleh om Galih dengan kekuasaan yang dimilikinya.


Huft ...


Papa Haris menarik nafas panjang, ia merasa tidak teria diperlakukan semena-mena oleh om Galih, namun ia memilih untuk tetap bersabar dan menahan diri karena semua yang dilakukannya sekarang adalah demi kebaikan dan kesehatan Kania. Andai om Galih tahu dimana Kania sekarang, ia pasti meminta dan memaksa Kania untuk menikah dengannya secara paksa dan itu akan membahayakan mental dan kesehatan Kania.


"Sekarang Tuan pergilah dari rumah saya sebelum saya panggilkan satpam," ucap papa Haris dengan nada suara yang masih terdengar sangat lembut karena berusaha meredam emosi agar tidak terjadi pertengkaran yang tidak diinginkan.


"Kamu tidak perlu mengusir saya karena saya bisa keluar sendiri!"


Om Galih mengambil sebuah hiasan guci mewah yang terpajang di dinding kemudian melemparkannya tepat di depan papa Haris dengan emosi memuncak yang ia bawa bersamanya.


"Tolong, tolong jangan membuat keributan di rumah saya, Tuan! Saya sudah sangat pusing saat ini mencari keberadaan putri saya, belum lagi memikirkan biaya untuk membayar seluruh hutang saya, jadi tolong sekarang Tuan pergi agar saya bisa berpikir dengan tenang."


Tanpa disangka dan tanpa diduga, papa Haris bersujud tepat di depan om Galih dengan keputus asaan yang ia bawa bersamanya. Ya, semua ini ia lakukan untuk menyelamatkan Kania, mengalah untuk menang, merendah untuk bangkit lebih tinggi.


"Hahaha ..., akhirnya kamu bersujud juga kepada saya!"


Om Galih tertawa terbahak-bahak, menertawakan papa Haris dengan kemenangan penuh yang ia bawa bersamanya, ia merasa sangat senang sekali jika ada orang yang bersujud dan merendah kepadanya karena itu adalah sebuah bukti kalau ia adalah penguasa yang tidak ada tandingannya sama sekali.


"Jika ada kabar tentang calon istri saya maka kamu harus segera menghubungi saya, kalau tidak kamu akan tau akibatnya!"


Sebuah ancaman yang dilontarkan oleh om Galih sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari istana milik papa Haris.


Om Galih berjalan sombong sembari mengangkat wajahnya, berlagak seperti ialah pemilik -dunia, seorang raja yang harus dipuja dan disanjung-sanjung, hingga ia merasa kalau ia adalah pemenangnya.


'Ampuni hamba ya Allah, hamba dahulu adalah lelaki yang seperti itu, maafkan hamba ya Allah.'


Papa Haris mulai sadar dan membayangkan semua masa lalu dan kejahatannya setelah ia mengenal om Galih, ia seperti dirasuki setan hingga tega menjual anaknya sendiri hanya demi harta dan kedudukan.


Perlahan air mata jatuh membasahi pipi papa Haris, ia merasa sangat menyesal melakukan kesalahan yang sangat besar kepada putri kesayangannya, kesalahan yang membuat ia merasa berdosa.


"Apa yang harus saya lakukan sekarang?"


Papa Haris mencoba berpikir panjang, mencari cara untuk bisa terbebas dari om Galih karena papa Haris tidak ingin lagi menjual anaknya dan menjadikan anaknya sebagai tumbal untuk lelaki yang tidak beradap seperti tua bangka itu.


"Tuan, apa yang terjadi, Tuan?"