
"Sayang, aku akan menjelaskan sesuatu kepadamu, akan tetapi penjelasanku tidak akan masuk akal buatmu. Tapi, sebelum aku ceritakan, maukah kamu berjanji untuk tetap percaya kepadaku?" ucap Kania serius.
Kania menggenggam tangan Alex sembari menatap tajam mata kekasih yang sangat disayanginya itu.
"Apakah kamu meragukanku?" balas Alex meyakinkan kekasih hati yang teramat sangat dicintainya itu.
Alex menatap Kania dan tatapan matanya mengisyaratkan kalau ia akan menjaga rahasia dengan sangat baik.
"Sayang, sebe-narnya aku ...!" ucap Kania dengan nada suara terbata-bata. Akan tetapi ia tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Alex bertemu salah satu keluarga jauhnya.
"Om Alex, teriak seorang anak kecil dengan senyum ceria yang tergambar di wajah cantiknya.
"Sintia," balas Alex sembari mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk keponakannya yang berumur sekitar 8 tahun itu.
"Ngapain Sintia di sini, Nak? Mana Mama dan Papa?" tanya Alex ramah dan terdengar sangat sopan sekali.
"Sintia juga nggak tahu, Om. Tadi Mama dan Papa salat terus belum keluar juga dari musala," jelas Sintia sembari menaikkan kedua bahunya pertanda tidak tahu.
"Ya udah, kalau begitu Om temenin Sintia nyari Mama dan Papa ya!"
Alex bangkit dan segera membimbing tangan keponakannya untuk memasuki musala.
"Sayang, kamu salat saja dulu, biar aku yang membawa anak ini, mungkin kita bisa menemukan kedua orang tuanya," ujar Kania lembut.
"Oke, Sayang, baiklah, kamu tolong jaga Sintia ya!" pinta Alex ramah dan sangat sopan dengan senyum tipis yang terlihat manis sebagai ciri khasnya.
"Sintia cantik, kenalin Tante Kania, ia adalah calon istri Om," jelas Alex spontan dan tanpa basa-basi.
"Salam kenal Auntie cantik," ujar Sintia yang langsung akrab dengan Kania.
Kania membimbing tangan Sintia untuk memasuki musala.
"Auntie, itu kepalanya kok belum di tutup," ucap gadis yang bernama Sintia itu tiba-tiba menatap Kania sebelum melangkahkan kakinya memasuki musala.
"Astagfirullahalazim," ucap Kania sembari megang kepalanya. Kania merasa malu kepada gadis kecil yang berada di depannya itu, ia mengenakan hijab padahal di usia yang masih sangat kecil.
Kania kemudian menggambil mukena berwarna putih untuk menutupi kepalanya. Kemudian Kania melihat wajahnya di cermin, sepertinya penampilannya pucat, akan tetapi terlihat sangat berseri ketika telah dibasahi oleh air wudu.
"Cieh..., cieh..., Auntie," goda Sintia yang membuat Kania semakin tersipu malu.
Gadis kecil yang mudah sekali akrab dengan Kania membuat Kania merasa sudah mengenalnya sejak lama.
"Sayang, apa boleh Auntie memelukmu, Sayang?" tanya Kania dengan penuh harap.
Sintia tersenyum dan mengangguk. Begitu juga dengan Kania, ia tersenyum sembari memeluk dan mencium pipi keponakan kesayangan Alex itu.
Kania salat dengan khusuk dan berdoa kepada sang pencipta.
"Auntie, Sintia keluar sebentar ya," ucap Sintia sembari berlalu pergi meninggalkan musala karena ia telah bertemu dengan kedua orang tuanya.
Setelah selesai salat, Kania berjalan menuju teras musala dan menemukan Alex tengah berdiri dan menyandarkan badannya di dinding sembari menggoyang-goyangkan satu kakinya. Kebiasaan ini persis sekali ketika pertama kali ia menyatakan cintanya kepada Kania di perusahaan milik papa Kania. Waktu itu ia berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding dan menunggu Kania pagi-pagi sekali, bahkan sebelum jam kerja di mulai, karena waktu itu keduanya janjian untuk ikut sang papa ke kantor karena libur sekolah.
Kania kembali mengingat moment beberapa tahun yang lalu.
Kania menghapirinya dan tersenyum kepadanya, ia juga membalas senyum Kania.
"Kania," ucapnya dengan nada suara bergetar, sepertinya lelaki ini tengah grogi.
"Sudah lama, Lex?"
Kania juga mulai kikuk, tidak tahu harus membahas dan menanyakan apa kepadanya Alex yang sengaja datang pagi-pagi untuk menunggunya. Bahkan saat ini Alex memanggilnya dengan namanya sendiri dan terdengar tidak formal sama sekali seperti biasanya, padahal di sekolah Alex tidak berani memanggil nama Kania secara terang-terangan.
Huft ....
Kania menarik nafas panjang, mengenang kembali masa indah ia bersama dengan Alex. Namun, entah mengapa hati Kania menjadi meragu ketika Alex melamarnya dan mengajaknya untuk menikah.
"Alex, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana cara aku menjelaskannya kepadamu tentang situasi yang aku hadapi saat ini?" ujar Kania di dalam hati ketika melihat sang kekasih yang saat ini tengah tersenyum menunggunya.
"Sayang, kamu nunggu sedari tadi?" sapa Kania memghampiri kekasih hatinya dengan memberikan senyuman terbaiknya.
"Nggak kok Sayang, aku baru saja sampai," ujar Alex dengan lembut serta dengan senyum yang juga terlihat sangat indah sekali.
"Sayang, kita jalan-jalan yuk!" ajak Alex.
Alex menggenggam tangan Kania dan membawa gadis yang ia cintai itu ke parkiran.
Kania menurut, namun saat ini jantungnya berdebar tidak menentu, serasa pertama kali jatuh cinta.
Begitu juga Alex, lelaki tampan itu juga terlihat malu-malu meong, seolah merek berdua baru mengenal.
"Sayang, kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Alex sembari menatap wajah cantik Kania yang saat ini sedang tertunduk malu.
"Monas," ujar Kania yang tidak bisa ia kendalikan.
Kania tidak menyangka kalau ia akan mengatakan pergi ke Monas, padahal Kania yang sesungguhnya tidak akan ingin ingin menghirup udara kotor dan panasnya kota Jakarta.
'Apakah ke Monas adalah keinginan Siti?' ucap Kania di dalam hati.
"Sayang, tumben kamu ingin ke Monas? Kamu bilang kamu tidak suka panas-panasan dengan kotornya udara dan polusi udara di kota Jakarta," ucap Alex heran dengan tingkah kekasihnya yang ia anggap tidak biasa.
Kania juga sangat tidak suka dengan polusi udara di jantung kota Jakarta, akan tetapi karena ini adalah keinginan Siti makanya ia ingin mewujudkannya.
Kania sangat yakin, akan ada sesuatu yang mungkin akan disampaikan oleh Siti kepadanya, atau mungkin juga ada petunjuk di Monas yang akan diberikan oleh Siti untuknya jadi ia memilih untuk kesana, namun Kania juga tidak tahu apa itu.
"Sayang, jika kamu benar-benar ingin ke Monas maka aku akan membawamu, tapi kamu beneran ingin kesana 'kan? Kamu tidak berubah pikiran kan?" tanya Alex sekali lagi, seolah ingin meyakinkan Kania kalau ia tidak salah berbicara.
"Iya, Sayang, aku ingin ke Monas, aku ingin menatap kota Jakarta dari atas sana, mungkin saja kita dapat petunjuk tentang keberadaan Papaku," jelas Kania dengan sangat meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu," balas Alex dengan senyuman yang terlihat sangat indah dan menawan.
Alex adalah lelaki terbaik yang akan mengabulkan apapun keinginan kekasihnya, namun akan bersifat teliti dan protektif jika telah menyangkut dengan pekerjaan.
"Sayang, terima kasih banyak karena kamu telah menuruti keinginanku. Nanti, setelah kita sampai di Monas, aku akan menceritakan semuanya kepadamu dan kamu boleh menanyakan apapun kepadaku," jelas Kania dengan senyuman yang terlihat ia paksakan. Bukan karena ia tidak ingin memberikan senyum terbaik kepada Alex, hanya saja pikirannya saat ini tidak membuatnya bisa tersenyum dengan ikhlas dan ceria sama seperti hari yang sebelum-sebelumnya.