
Kania menatap Syamsul dengan tatapan heran. Ia tidak menyangka lelaki itu akan mengajaknya bertemu dengan om Galih tanpa persiapan dan strategi apapun.
"Kania, kenapa kamu diam?" tanya Syamsul.
Syamsul memperhatikan wajah gadis cantik yang sama sekali tidak berkedip menatapnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Syamsul.
"Kania, Nia!"
Syamsul memanggil-manggil nama Kania dan menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Kania, hingga gadis itu tersadar.
"Ha, iya, Sa-yang, A-lex, ada apa?" ujar Kania terbata-bata dengan wajah yang terlihat masih bingung bahkan ia memanggil Syamsul dengan nama Alex.
"Kania, tunjukkan jalannya, kemana kita akan menemui lelaki yang bernama Galih itu!" ujar Syamsul sekali lagi dengan rasa percaya diri yang ia bawa bersamanya.
Kania heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Syamsul, ia tidak terlihat takut sama sekali.
"Uda, apa kamu yakin akan menemui Om Galih?" tanya Kania dengan wajah yang masih terlihat bingung dan tidak percaya.
"Iya, Nia, kita akan pergi menemui Galih, Galih si Galih apalah itu namanya," ujar Syamsul dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
Kania berdiri dan memalingkan wajahnya dari Syamsul. Ia berjalan mendekati teras apartemen sembari melihat langit biru.
Banyak hal yang Keyla pikirkan, termasuk cara ia melawan om Galih agar papanya selamat. Kania juga dihadapkan pada situasi sulit dimana orang yang ada di depannya saat ini bukanlah Alex, kekasihnya tetapi Syamsul, lelaki yang datang dari masa lalu.
Kania memikirkan bagaimana mungkin Syamsul dengan sangat percaya diri akan melawan om Galih, sementara lelaki itu tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk melawan om Galih.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini?" ujar Kania di dalam hati.
Kania diam dam kebisuan dengan sejuta fpikiran yang ia bawa bersamanya. Sementara Syamsul, saat ini ia berjalan mendekati Kania. Ia sangat tahu dan sangat paham sekali kalau saat ini Kania tengah meragukan bantuannya.
"Kania, ambo (saya) adalah Syamsul bukan Alex, walaupun saat ini ambo berada dalam raga Alex tapi setidaknya keberadaan ambo bisa melawan Galih Galah itu dengan ilmu bela diri. Ambo tidak akan mati disini, sama dengan Kania yang tidak akan pernah mati melawan Datuak Maringgih dan anak buahnya di masa lalu," ujar Syamsul.
Kania tertegun dan tidak menolak ide Syamsul. Apa yang dikatakan oleh Syamsul memang benar adanya, Kania tidak bisa terluka di masa lalu, kalaupun luka dalam beberapa jam luka itu akan sembuh dengan keajaiban. Jika Syamsul berada disini otomatis hal yang sama juga akan berlaku kepada Syamsul.
"Baiklah, aku setuju, tapi sekarang kita makan dulu karena kita butuh energi untuk berjuang," ujar Kania bersemangat.
Kania berjalan menuju meja makan. Semua makanan telah terhidang dan siap untuk di santap, sepertinya Alex memang telah selesai memasak dan akan mengajak Keyla makan. Akan tetapi kekasih hati Kania, itu tidak sudah terkapar sebelum bisa makan bersama Kania.
"Duduklah dan silahkan cicipi makanan ini. Semua makanan ini Alex yang memasaknya," ujar Kania sembari tersenyum tipis kepada Syamsul.
"Makanan apa ini, Keyla?"
Syamsul melihat hidangan mewah terpajang di meja makan, makanan yang tidak pernah ia lihat di masa lalu.
"Itu adalah spagetti, roti bakar dengan minuman jus jeruk," jelas Kania.
Kania kemudian mengambil gelas dan akan meminum jus jeruk yang sangat segar itu untuk melepaskan dahaganya.
"Tunggu, Kania! Stop!" ujar Syamsul dengan dua tangan yang melarang Kania untuk minum.
Kania kaget, dengan mata yang membelalak menatap Syamsul.
"Kamu lupa membaca bismillah!" jawab Syamsul mengingatkan.
Kania merasa malu, ia tertegun, lelaki yang saat ini berada di depannya mengingatkannya untuk melakukan kebaikan dengan menyebut nama Allah sebelum memakan sesuatu, persis sama dengan abak dan bundo di masa lalu.
"Kania, bacalah bismillah agar setan-setan tidak ikut makan dan menikmati makanan bersama denganmu," ucap Syamsul mengingatkan.
Kania terdiam dan merasa malu dengan dirinya sendiri, karena selama ini ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Namun, Keyla bersyukur karena ia dipertemukan dengan kedua orang tua Siti dan juga Syamsul yang datang dari masa lalu dan mengajarkan kebaikan untuk Kania.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Kania membaca bismillah sebelum akhirnya meminum dan menyantap makanan yang telah Alex hidangkan untuknya, makanan yang harusnya dinikmati bersama Alex tapi saat ini ia nikmati bersama Syamsul.
"Uda, makanlah!"
Kania kembali mempersilahkan Syamsul untuk mencicipi makanan yang telah dihidangkan.
Syamsul pun dengan malu-malu akhirnya mencoba setiap hidangan yang membuatnya penasaran dengan cita rasanya.
"Apakah orang Belanda dan Jepang memakan makanan ini?" tanya Syamsul penasaran ketika menikmati spaghetti teriyaki yang lezat dengan saos sambal.
Menggugah selera namun juga terasa sangat asing di lidah Syamsul.
"Bagaimana? Apakah enak?" tanya Kania sembari tertawa melihat ekspresi Syamsul yang lucu dan menggemaskan ketika mencicipi makanan berbeda.
"Ondeh mandeh, enak sekali makanan ini, ambo belum pernah merasakan masakan seenak ini," ucap Syamsul dengan wajah takjub dan bahagia.
Syamsul terlihat menikmati setiap hidangan yang terletak di meja makan dengan sangat lahap. Ia seperti orang yang telah lama tidak makan. Bahkan lelaki itu menggunakan kedua tangannya untuk mencicipi makanan secara bergantian.
"Uda, pelan-pelan makannya. Semua makanan ini bisa Uda habiskan," ucap Kania.
Kania geli dan tersenyum-senyum sendiri melihat Syamsul makan, bagi Kania sikapnya terlihat lucu dan unik sehingga membuat Kania tertawa.
"Kania, ajarkan Uda memasak semua makanan ini, mungkin ambo bisa mempraktikkannya di Ranah Minang. Atau mungkin kita bisa membuat restoran dengan menu makanan seperti ini, sepertinya akan laku dan laris manis," ujar Syamsul bersemangat.
Untuk sesaat Kania terdiam dan tertegun dengan ide brilian yang terpikir di otak Syamsul. Lelaki kampungan itu bahkan tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi idenya sungguh luar biasa, bahkan Kania tidak memikirkan ide seperti itu.
'Siti, apakah ini maksudmu mengirimkan Uda Syamsul ke masa depan? Apakah ide yang ia sampaikan akan menjadi peluang bisnis bagi kita di masa lalu untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan melunasi hutang kepada Datuak Maringgih?' ujar Kania di dalam hati sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kania akhirnya mengakui kepintaran Syamsul. Ia pun juga sangat bersyukur karena lelaki itu didatangkan ke masa depan untuk membantunya.
"Kania, kenapa diam? Kamu mau 'kan mengajarkan Uda membuat makanan ini?" tanya Syamsul sekali lagi.
"Baiklah, aku akan mengajarkan Uda, tapi dengan satu syarat," ujar Kania dengan sangat yakin, dengan harapan penuh agar lelaki yang ada di depannya itu mau mengabulkan keinginannya. Walaupun Kania tidak pandai memasak dan tidak pernah memasak karena segala kebutuhannya telah dipenuhi tapi Kania harus bernegosiasi sekarang.
"Apa, Nia?" tanya Syamsul penasaran.
"Apa Uda mau membantu saya membayar seluruh hutang-hutang Siti kepada Datuak Maringgih setelah saya mengajarkan Uda membuat seluruh makanan ini?" mohon Kania dengan penuh pengharapan.