
Kania bertingkah seperti seorang wonder women yang gagah berani, tidak tahu takut bahkan di antara banyaknya anak buah Datuak Maringgih yang mengelilinginya ia bersikap santai.
"Siti, ilmu hitam apa yang kamu pelajari sehingga kamu bisa sekuat itu?" tanya salah seorang bodyguard yang langsung berdiri di depan Datuak Maringgih untuk melindungi lelaki tua bangka itu.
"Tua bangka, lepaskan Bundo!" teriak Kania keras dan sangat lantang.
"Enak saja kau ngomong, hahaha ...," suara gelak tawa terbahak-bahak Datuak Maringgih dan anak buahnya yang menganggap remeh Kania.
Cuiss ....
Kania meludah, ia tidak suka dengan sikap Datuak Maringgih dan anak buahnya yang semena-mena dan menganggapnya remeh dirinya.
Tentu saja sikap Kania membuat Datuak Maringgih geram dan merasa sangat terhina, hingga beliau mengangkat tongkatnya, ia layangkan untuk memukul tubuh bundo.
"Woi ...!"
Dengan emosi memuncak Kania menampis tongkat itu hingga tak mengenai bundo.
Kania menarik tangan bundo dan membawa bundo berdiri di belakangnya.
Kania marah, matanya memerah dan ia tidak terima dengan perlakuan kasar dan sangat tidak berperikemanusiaan itu.
"Kania, sudah, jangan!" bisik bundo dari balik punggung Kania.
"Bundo, kita tidak boleh diam saja jika ada orang yang semena-mena kepada kita. Kania ataupun Siti tidak akan tega kalau ibunya disakiti," ujar Kania lembut.
Kania memasang kuda-kudanya ketika melihat seluruh bodyguard Datuak Maringgih akan menyerangnya.
"Bundo, tolong mundurlah! Izinkan kali ini Kania menggantikan Siti untuk melawan Datuak Maringgih," ujar Kania.
Kania sangat tahu dan sangat paham, jika gadis seperti Siti tidak akan pernah melakukan hal nekat dan berani seperti yang saat ini ia lakukan. Tapi, ia percaya kalau alasannya datang ke masa lalu karena Siti menginginkannya membantu permasalahan yang tidak bisa Siti atasi sendiri.
Ya, Kania juga sudah bertekat untuk membuat Siti dan keluarganya terbebas dari hutang, menjalani hidup yang lebih baik dan tidak lagi direndahkan atau dihina.
"Nak, hati-hati, jangan melawan Datuak!" ujar bundo khawatir.
Wajah bundo terlihat pucat, panik dan sangat ketakutan. Namun, beliau terlihat melafazkan zikir.
Sementara itu Kania melawan semua anak buah Datuak Maringgih seorang diri dengan kekuatan dan tenaga yang ia miliki.
"Masyaallah, ternyata semua luka bakar yang ada di tubuh gadis itu benar-benar hilang ketika pagi hari," ucap bundo takjub.
Bundo terus memperhatikan Kania yang memang memiliki wajah yang sama persis seperti putrinya Siti, namun dengan sifat yang sangat berbeda jauh.
'Apakah benar kamu adalah Siti di masa depan, Nak?' tanya bundo di dalam hati.
Bundo benar-benar sangat penasaran dan ingin menanyakan banyak hal yang terbesit di kepalanya, namun bundo masih belum memiliki kesempatan karena saat ini Kania disekap oleh abak buah Datuak Maringgih.
"Lepaskan gw!"
Kania berusaha melepaskan dirinya yang pergelangan tangannya dipegang sangat kasar oleh anak buah Datuak Maringgih.
"Apa sih yang dikatakan sama gadis ini," ujar salah seorang anak buah Datuak Maringgih yang terdengar sangat sangar di telinga Kania.
"Tolong lepaskan anak saya, Datuak!"
Bundo bersujud dan memohon di kaki Datuak Maringgih dengan tangisan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Hahaha ....
Datuak Maringgih tertawa terbahak-bahak dan tidak mempedulikan bundo yang saat ini tengah bersujud dan memohon kepadanya.
"Bawa Siti ke rumah kita!" perintah Datuak Maringgih.
Anak buah Datuak Maringgih langsung membawa Kania dengan paksa meninggalkan rumah bundo.
"Lepaskan gw!"
Berapa kalipun Kania berontak dan protes, tetap saja teriakannya tidak dihiraukan. Kania terus dipaksa berjalan meninggalkan rumah bundo.
"Tolong lepaskan anak saya, Datuak!"
Kania merasa sangat sedih bercampur kecewa pada dirinya sendiri karen ia tidak bisa melepaskan dirinya dari Datuak Maringgih.
Kania menangis, karena ia lagi-lagi membuat orang tuanya bersedih dan menangis karenanya.
Kania menyalahkan dirinya sendiri karena ketidakberdayaannya. Bahkan ia tidak bisa menepati janjinya kepada Siti untuk menjaga abak dan bundo.
"Siti, maafkan gw!"
Kania terus meminta maaf kepada Siti di dalam hatinya, dan berharap agar Siti bisa hadir di dalam mimpinya dan memberikan petunjuk kepadanya.
"Datuak, saya mohon lepaskan saya!"
Kania kali ini berbicara lemah, tenaganya habis dan ia terasa sangat lelah hingga ia tidak bisa lagi melawan.
"Ini akibatnya karena kamu berani membantah Denai!" ucap Datuak Maringgih lantang.
'Berisik sekali tua bangka ini, awas aja lo!' ujar Kania di dalam hati.
Ingin sekali Kania menendang tua bangka itu dan melepaskan diri dari anak buah Datuak Maringgih, namun tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain pasrah dan menurut walaupun terpaksa.
Setelah 30 menit waktu yang di tempuh dengan berjalan kaki, akhirnya sampailah Kania di rumah Datuak Maringgih. Rumah gadang yang tergolong mewah di zaman itu adalah tempat yang terasa tidak asing bagi Kania.
'Tempat apakah ini? Kenapa aku merasa pernah berada di sini?' ujar Kania di dalam hati.
Kedua bola mata Kania melihat-lihat sekeliling ruangan itu, hingga kepala Kania terasa sangat pusing.
"Aduh, sakit!" ujar Kania sembari memegang kedua kepalanya dengan tangan karena ia merasa sangat kesakitan.
Dalam sakitnya, Kania kembali dihadapkan pada bayang-bayang kejadian ketika kecelakaan terjadi.
Kania melihat darah bersih mengalir di pipi Alex.
"Alex, Sayang!" ucap Kania dalam isak tangisnya.
"Kania, maukah kamu menikah denganku? Sungguh aku teramat sangat ingin menjadi suamimu, kita akan menikah muda dan kita akan hidup bahagia," ucap Alex dengan nada suara terbata-bata.
Air mata jatuh membasahi pipi Alex yang berlumuran darah.
"Sayang, tunggu aku!"
Kania pun turut menangis karena melihat kekasih hatinya terlihat lemah dan kesakitan.
"Kania, aku mencintaimu!" ucap Alex yang terdengar sangat tulus.
Kania mengangkat tangannya yang lemah untuk menghapus air mata yang ada di pipi Alex, namun tangan itu terlalu sakit untuk digenggam.
"Tolong ...!" Kania berteriak sangat histeris mengenang kembali kejadian ketika kecelakaan.
Trauma!
Saat ini Kania merasakan trauma dan ketakutan yang sangat mendalam sehingga ia meraung sejadi-jadinya.
"Woi, Siti, diam!" teriak salah satu anak buah Datuak Maringgih yang tidak dipedulikan oleh Kania.
Kepala Kania terasa sangat sakit dan ia tidak sadarkan diri kembali di masa lalu.
"Di mana aku?" Ketika Kania membuka matanya, ternyata gadis cantik itu telah berada di masa depan.
Posisi Kania masih sama, ia tengah terbaring lemah di kamar rumah sakit dengan alat bantuan pernafasan dan slang infus yang menjadi alat bantunya.
Kania ingin melepaskan semua alat-alat yang melekat di tubuhnya, ia ingin segera berjalan dan mencari papanya. Ya, ketika kembali ke masa depan orang pertama yang Kania ingin temui adalah papanya. Kania ingin meminta maaf kepada papanya atas semua salah dan dosa yang telah ia perbuat. Ia juga ingin berdiskusi dengan papanya perkara memperluas usaha tanpa harus menikah dengan om Galih.
"Kania, cepat ambillah beberapa uang untuk dibawa ke masa lalu," teriak Siti yang terdengar nyaring di telinga Kania.
'Siti, bagaimana cara aku membawa uang ke masa lalu?' ucap Kania membatin.