WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Menikmati Keindahan Alam



Setelah selesai salat dan makan, Kania dan Fatimah meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menikmati pemandangan kota Bukittinggi di malam hari. Namun tentu saja kedua orang tua Siti todak mengizinkan karena gadis Minangkabau sangat terjaga kehormatannya, mereka tidak akan boleh keluar jika tidak ada kepeluan yang benar-benar sangat penting.


Sebenarnya Kania merasa keberatan, jika dirinya yang sesungguhnya, maka ia akan keluar dan berkeluyuran di malam hari sembari menikmati pemandangan malam. Namun, saat ini posisi Kania adalah sebagai Siti, jadi tidak ada pilihan lain selain menurut.


Kania kemudian duduk di teras penginapan sembari menikmati pemandangan kota Bukittinggi sendirian karena Fatimah memilih untuk tidur dan beristirahat. Ya, ini menjadi kesempatan terbesar untuk Kania, buat mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan setiap moment dan keindahan alam masa lalu ketika di nikmati di malam hari.


Tidak lupa, Kania memposting ke media sosialnya, agar Alex tahu kalau saat ini ia berada di masa lalu dalam keadaan bahagia.


Kania kemudian teringat dengan Alex, 2 tahun yang lalu mereka berdua sempat berkunjung ke Sumatera Barat, mengikuti orang tua yang sedang melakukan kunjungan bisnis dan mereka berkesempatan menikmati pemandangan kota Bukittinggi waktu itu.


Kania tersenyum-senyum sendiri ketika melihat tingkah Alex yang waktu itu cemburu kepada salah satu anak rekan kerja papa mereka.


Ya, waktu itu Kania berdiri menghampiri Revano dan mendekati lelaki tampan yang tengah cemburu itu, namun Alex menghindar.


"Kamu siapa? Kenapa kamu terlihat sangat akrab denganku?" ujar Alex dengan nada suara tidak suka dan penuh dengan emosi.


"Saya minta maaf, perkenalkan saya adalah Kania, pacarnya Alex, cowok paling tampan di sekolah," ucap Kania sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Alex yang saat ini tengah merajuk.


Alex diam dan tidak mengacuhkan Kania, ia tetap bersikap cemberut dan tidak malu karena ia bertingkah sangat kekanak-kanakan karena ia sangat mencintai dan menyayangi Kania, jadi ia tidak ingin ada orang lain yang dekat dengan Kania.


"Sayang, jangan ngambek dong, kan Rendi adalah anak dari rekan kerja papa kita," ucap Kania sembari mendekati Alex yang masih berbalut rasa cemburu.


"Aku cemburu!" teriak Alex dengan mata melotot.


"Bagus kalau begitu, cemburu saja! Bukankah sesama manusia bersaudara? Oke setelah ini aku sudah tidak mau lagi melihat kamu bersikap kekanak-kanakan seperti tadi! Kalau sekarang kamu masih ngambek maka aku akan pergi!" ucap Kania tegas kepada Alex sembari melipatkan kedua tangannya di dada, pertanda keseriusannya dengan ucapannya.


Tentu saja sikap Kania membuat Alex luluh. Alex yang berada di depan Kania akhirnya tertunduk dan mendengarkan saja semua ucapan dan ocehan yang Kania lemparkan.


"Kita jadi jalan ke benteng Fort De Kock? Atau masih ngambek-ngambek gini?" ujar Kania dengan nada mengancam.


"Jadi dong, Sayang, 'kan sana ada outbound, kita 'kan mau main dan pengen naik kuda juga di sana," jelas Alex dengan sikap manjanya.


"Ya udah, sekarang kita kesana, awas kalau masih berulah!" ucap Kania tegas.


"Baik, Sayang," jawab Kania menurut.


Kania berjalan duluan, sementara Alex lelaki tampan itu berjalan di belakang Kania seperti bodyguard yang siap menjaga gadis cantik itu.


Keylakemudian menatap Alex sembari tersenyum karena sikapnya terlihat sangat lucu bagi Kania.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku mencintaimu, aku ingin kita menikah, Sayang," Alex spontan menggenggam tangan Kania dan menatap wajah gadis cantik itu.


"Menikah? Kita masih kelas satu SMA, Sayang," ucap Kania.


Ya, Kania merasa heran melihat perubahan pada kekasihnya, sepertinya saat ini ia memang telah banyak berubah dan mendalami agama seperti bukan dirinya yang sesungguhnya. Dan hari ini Kania sadar kalau ada jiwa lain di dalam diri Kania maupun Alex.


***


"Siti, ayok jalan!"


Lamunan Kania akan Alex ternyata masuk ke dalam mimpinya dan ia tersadar ketika telah pagi karena Fatimah membangunkannya.


"Tungguin dong, Fatimah!" Kania berlari mengejar Fatimah.


Setelah berjalan sekitar 5 menit dan melewati jematan limpapeh, yaitu jembatan yang menghubungkan satu bukit dengan bukit lainnya di kebun binatang Kinantan, akhirnya mereka sampai juga di benteng Fort De Kock.


Benteng Fort De Kock telah ada sejak zaman Belanda menjajah, di mana keterlibatan Belanda dalam Perang Paderi meninggalkan dua benteng, salah satunya adalah Benteng Fort de Kock, yang terletak di atas Bukit Jirek, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat yaitu sekitar lokasi di kebun binatang Kinantan. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada 1825 untuk menangkal gempuran rakyat Minangkabau selama Perang Padri.


Nama Benteng Fort de Kock sendiri diambil dari nama Baron Hendrik Merkus de Kock, komandan der Tropen dan wakil gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu, yang berkedudukan di Bukittinggi.


"Siti, lihat deh pemandangannya sangat indah," ujar Fatimah bersemangat.


"Iya, pemandangan ngarai Sianok sangat indah Fatimah," tunjuk Kania dengan wajah yang merona bahagia.


Ngarai Sianok adalah salah satu panorama dan keindahan alam kota Bukittinggi yang wajib dikunjungi oleh wisatawan.


Ngarai Sianok merupakan sebuah lembah yang memiliki panjang 15 kilometer dan lebar 200 meter. Lembah yang memiliki kedalaman 100 meter. Lembah ini melintasi 3 kawasan di Bukittinggi yaitu Nagari Koto Gadang, Nagari Sianok Enam Suku, dan Palupuh. Selain itu, lembah yang satu ini juga menjadi habitat flora dan fauna.


"Kania, apa kamu mau menikah dengan sepupuku Syamsul?" Fatimah kembali menatap tajam mata Siti, tersirat sekali tatapan itu mengandung harapan.


"Tapi ...," jawab Kania ragu.


Ya, Kania akhirnya mengetahui kalau Fatimah adalah saudara sepupu Syamsul.


"Apa yang membuatmu ragu, Siti?" tanya Fatimah.


"Aku benar-benar takut kalau datuak Maringgih akan marah hingga menyakiti keluargaku" jelas Kania dengan menundukkan wajahnya karena merasa sangat sedih.


"Siti, tatap mataku!" pinta Fatimah.


Kania mengangkat wajahnya dan ia tatap mata gadis cantik itu, mata sipit seperti artis Korea itu benar-benar teduh di pandang.


"Siti, Syamsul adalah lelaki baik, ia ingin segera menjadikanmu istrinya, ia ingin sama-sama berjuang melawan Datuak Maringgih, ia akan berusaha meyakinkan orang tuanya dan orang tuamu juga. Tapi, tolong bantu Syamsul dan dukung ia, karena kalian berdua harus membuktikan bahwa kalian memang berniat menikah hanya untuk beribadah kepada Allah, sebagai ibadah terpanjang dan terlama," jelas Fatimah yang tidak lain adalah saudara sepupunya Syamsul.


"Aku selalu mendukung Uda Syamsul, tapi aku takut aku akan ditolak oleh kedua orang tuanya. Aku ingin menikah dengan lelaki yang diizinkan menikah oleh kedua orang tuaku, aku juga ingin diterima dengan baik oleh mertuaku, aku ingin disayang dan dicintai layaknya keluarga sendiri bukan sebagai menantu. Tapi, bagaimana aku akan mewujudkan semua itu jika Datuak Maringgih tidak akan pernah diam. Aku takut kepadanya karena keluarga kami telah terjebak hutang," jelas Kania yang merupakan isi hati Siti.