
Kania duduk di sisi kanan kursi itu, sementara Alex duduk di sisi kirinya. Jarak duduk mereka lebih kurang sekitar satu meter. Mereka seperti pasangan kekasih yang lagi bermusuhan degan jarak seperti itu.
Alex menghela nafas panjang, ia sepertinya berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya.
Alex kemudian menolehkan wajahnya menatap Kania. Namun, Kania tetap menatap ke depan, menatap sunset dengan tatapan datar tanpa menoleh sedikit pun kepada Alex.
“KANIA, boleh saya ngomong sebentar?” ucap Alex dengan nada suara bergetar, ada emosi dan amarah di sana.
“Silahkan, Lex!" jawab Kania datar tanpa ekspresi apapun.
Kania bahkan tidak peduli saat ini Alex marah kepadanya atau membencinya, yang ia tahu kalau saat ini pikirannya melayang entah kemana.
“Bismillah, Kania, aku mencintaimu karena Allah dan aku berniat tulus ingin melamarmu menjadi calon istriku, maukah kamu menikah denganku, Kania?”
Tanpa Kania sadari saat ini Alex telah berada di depannya, menundukkan badannya dan mentap Kania dengan mengeluarkan cincin berlian untuk melamar Kania.
Entah dari mana Alex mendapatkan cincin berlihan yang sesungguhnya dengan harga yang sangat mahal pastinya, padahal mereka masih SMA belum mempunyai penghasilan sama sekali.
Kania yang tadinya menatap keindahan sunset, langsung mengalihkan pndangannya kepada Alex. Kania kaget dan tidak menyangka lelaki itu bahkan menyiapkan cincin berlian yang sangat indah untuk melamarnya.
“Sayang, apa yang kamu lakukan? tolong berdiri sekarang juga! Jangan seperti ini, ini malah membuatku mejadi tidak enak," ucap Kania kikuk dan tidak tahu lagi akan bagaimana, ia seperti salah tingkah.
Kania memang sangat mengharapkan lamaran romantis seperti ini, akan tetapi Kania tidak menyangka, kalau kekasih hatinya yang terkenal sangat cool dan manis itu, saat ini tengah melamarnya di tempat yang romantis seperti ini dengan ditemani suset yang berwarna merah muda yang menambah keindahan ciptaan Tuhan.
Ya, selama ini Alex merasa tidak pantas menjadi suami Kania karena status sosial mereka yang berbeda. Alex adalah anak dari sekretaris pribadi sementara Kania adalah anak seorang CEO dan pewaris tunggal dari kekayaan orang tuanya.
Namun, ada perasaan yang mengganjal di diri Kania saat ini. Rasanya saat ini pikiran Kania ingin kembali ke masa lalu dan menyelesaikan semua masalah di masa lalu terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah dengan Alex.
Ada ketakutan di diri Kania, kalau seandainya om Galih tahu mereka akan menikah maka Alex tidak akan aman.
“Kania, aku mohon tolong jawablah pertanyaanku,” mohon Alex dengan wajah yang tertuduk kali ini.
“Sayang, kamu tahu 'kan kalau aku kehilangan Papa yang sangat saya cintai, jadi sampai Papa ditemukan aku belum memikirkan apapun tentang pernikahan. Jadi maaf, Lex, untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaranmu karena Om Galih tidak akan suka kalau kita menikah, aku takut mereka malah membahayakan nyawamu dan Papa, lagian kita masih SMA!” ucap Kania tegas dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
“Aku bisa menunggumu, Sayang. Kita akan menyelesaikan semua masalah dan menikah secara baik-baik, bukan dengan melarikan diri seperti waktu itu,” ucap Alex dengan nada meyakinkan.
“Sayang, sekarang kita jalani hidup ini seperti air megalir, yang terpenting saat ini kamu selalu berada di sisiku sembari kita memikirkan cara untuk terlepas dari Om Galih,”jelas Kania.
Kania melangkahkan kakinya mendekati tepi patai, ia membiarkan gelombang air laut yang kecil membasahi kakinya, ia juga menatap matahari yang beberapa menit lagi sepertinya akan tenggelam.
“Kania, ini cincin yang diberikan oleh Ayah kandungku ketika beliau melamar Ibuku waktu itu, kali ini aku ingin kamu menyimpannya," ucap Alex hingga membuat langkah kedua sejoli itu terhenti.
"Sayang ...!" Kania menatap Alex dengan seksama.
"Aku tidak memintamu menjawab pertanyaanku sekarang, kamu bisa berpikir sebanyak yang kamu mau dan aku akan sabar menunggu jawaban darimu. Hanya saja sekarang, kamu tolong simpan cincin ini dan pakailah atau kembalikan jika kamu sudah menemukan jawabannya. Ingat, tapi bukan sekarang, Kania!”
Alex memegang tangan kanan Kania dan memberikan cincin itu di telapak tangan Kania, kemudian berlalu pergi menjauhi Kania, seolah ia ingin memberikan ruang untuk Kania untuk berpikir.
Untuk sesaat Kania hanya terdiam dalam kebisuan, ia terus menatap cincin yang kini berada di telapak kanannya itu, cincin klasik namun terlihat sangat mewah ini adalah cincin yang digunakan oleh Alex untuk melamarnya.
'Ya Allah, apakah yang harus kulakukan sekarang? Hari ini aku dilamar oleh laki-laki yang sangat aku cintai, lelaki yang sangat aku impikan sebelumnya untuk menjadi suamiku. Ya Allah, apakah yang harus kulakukan sekarang? Aku belum siap untuk menikah sebelum semua masalah ku terselesaikan, apalagi kami masih SMA, tapi aku teringat akan pesan Abak kalau ada lelaki yang beriat baik untuk menikahiku, aku tidak boleh menolak niat baiknya. Tapi aku belum bertemu Papa, mana mungkin aku akan membahas masalah pernikahan sekarang di saat orang tuaku sedang tidak aman keadaannya,' batin Kania.
“Apabila seseorang yang agama dan perilakunya bisa kalian terima meminang putri kalian, maka nikahkanlah dengannya. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan menjadi musibah di bumi dan kerusakan yang nyata,” (HR. Tirmidzi).
Di bawah langit merah muda pantai Asmara ini, seolah menjadi saksi bisu, bahwa ungkapan cinta Alex kepada Kania terjadi di hari itu, sebuah lamaran ramantis yang Kania idamkan sebelumnya, namun serasa hampa saat ini.
Kania kemudian berjalan menyusuri pantai dengan pasir putih yang lembut ini tanpa menggunakan alas kaki sembari merileksasi kakinya dengan air laut yang tenang ini.
Langkah demi langkah ia susuri pantai ini dengan perasaan yang sangat berkecamuk, entah apa hal yang ia pikirkan saat ini, hanya saja ia ingin menyusuri setiap pinggir pantai ini dalam kesendiriannya.
“Aduh, sakit!” teriak Kania.
Kania ternyata memijak sebuah karang berduri yang ada di pinggir pantai.
“l'Astagfirullahalazim, mungkin karena inilah ajaran agama dan adat melarang untuk berkeliaran di sore menjelang magrib seperti ini,' ucap Kania di dalam hati sembari mengingat pesan Bundo.
Kania mulai merindukan bundo dan berharap bundo ada disini untuk memeluknya dan mengatakan kepadanya kalau ia tidak perlu risau dan khawatir karena semuanya akan baik-baik saja.
'Bundo, apa kabar? Kania rindu sama Bundo dan Abak,' ucap Kania di dalam hati. Hingga tanpa ia sadari air mata jatuh membasahi pipinya. Entah perkara hatinya yang saat ini gundah, atau tentang kerinduannya kepada bundo dan abak, yang jelas saat ini Kania merasa sangat ingin dipeluk dalam kesendirian dan isak tangisnya.
Kania kemudian berjalan agak sedikit picang untuk menepi dari pantai, tapi sepertinya karang berduri itu terlalu tajam hingga membuat kaki Kania berlumuran darah, hingga mulai merasakan kesakitan.
Huft ....
Kania menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan pikirannya.