
"Sayang, Bundo tidak ingin melakukan apapun untuk saat ini. Bundo hanya ingin tidur dan bertemu dengan abak dan Siti walaupun cuma hanya di dalam mimpi.
Kayla kemudian memasang wajah sedih dan kecewa. Kania merasa tidak becus menjadi seorang anak, Kania merasa dirinya tidak berharga dan berarti apa-apa di mata bundo.
Rasa sedih yang teramat sangat membuat Kania meneteskan air mata, karena ia merasa kalau kehadirannya disini tidak berguna sama sekali.
"Kania pergi ke kamar dulu, Bunda!"
Dengan sopan dan suara mengiba, Kania pergi meninggalkan kamar bundo dengan sejuta kesedihan yang ia bawa bersamanya.
"Nak, kamu menangis?"
Bundo menahan tangan Kania sebelum gadis cantik itu keluar dari kamarnya.
Kania senang karena bundo menahannya sehingga ia mengurungkan niatnya untuk keluar kamar.
Kania tahu kalau bundo pasti tidak ingin membuatnya bersedih dan menangis.
"Sayang, Bundo ingin kamu memasak dan Bundo ingin mencoba masakanmu."
Seolah tidak ingin mengecewakanku, aku merasa sangat senang karena bundo ingin mencoba masakanku. Ya, walaupun aku tidak pernah memasak sama sekali, namun aku yakin kemampuan memasak Siti akan ia turunkan kepadaku. Aku sangat ingin sekali berbakti kepada bundo dan memberikan yang terbaik untuknya.
"Baiklah, kalau begitu Kania ke dapur dulu ya, Bundo."
Seolah tidak sabar ingin memasakkan makanan terbaik dan terenak untuk bundo, Kania segera bergegas kembali ke dapur.
Kania berharap Siti akan datang dan membantunya memasak karena sejujurnya Kania tidak tahu akan memulai dari mana.
"Siti, aku ingin memasak untuk Bundo, jadi apa yang harus aku masak sekarang?" ucap Kania di dalam hati dengan sejuta pertanyaan yang ia bawa bersamanya.
Tanpa Kania sadari, akhirnya tangan Kania terus memasak dengan ligat dan lincah layaknya seorang chef yang sangat mahir dan piawai memasak.
"Siti, terima kasih banyak karena telah datang dan membantu ku memasak," ucap Kania dengan senyum tipis yang terlihat menawan.
Kania bersemangat dan memasang wajah terbaik yang terlihat ceria ketika menghidangkan makanan untuk dibawa piknik.
Kania berjalan menuju kamar bundo dengan hati bahagia dan sangat senang.
"Bundo, makanannya udah siap, yuk kita ke sawah." Ajak Kania sembari membangunkan bundo.
"Iya, Nak," jawab bundo dengan senyum indah.
"Kania, terima kasih banyak ya, Sayang, karena telah menemani Bundo disini dan menghibur Bundo. Bundo tidak tahu apa yang akan terjadi pada Bundo jika tidak ada kamu, Nak."
"Iya, Bundo, Kania juga merasa sangat senang bisa berada disini bersama Bundo. Kita ikhlaskan Abak ya Bundo dan kita mulai hidup baru yang lebih baik. Kania berjanji akan menemani dan menjaga Bundo," ucap Kania sembari menggenggam tangan bundo.
Kania mencium tangan bundo dan mengungkapkan kepada beliau kalau Kania sangat mencintai bundo seperti ia mencintai orang tuanya sendiri.
"Iya, Nak, bagaimanapun juga hidup kita akan tetap berlanjut, ada atau tidak Abak di sisi kita tetap kita tidak boleh bersedih," ujar bundo besemangat.
"Bundo, Kania bersyukur mengenal Bundo," ucap Kania dengan mata berkaca-kaca.
Alex menatap Kania dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang. Untuk beberapa detik tatapan itu saling menyatu hingga timbullah rasa yang menggelora di dalam hati.
"Kania"
Alex semakin mendekatkan wajahnya ke Kania, ia sepertinya ingin melancarkan aksinya untuk mendarat di bibir Kania yang munggil. Namun, kali ini langit tidak mengizinkan keduanya melakukan hal yang dilarang agama.
"Hujan ...," teriak Kania sembari mengangkat tangan menampung hujan dengan kedua telapak tangannya.
Alex gugup, ia sapah tingkah, namun ia tidak ingin membuat Kania sakit jika berhujan-hujanan.
"Kania, ayo kita kembali!" ucap Alex sembari menarik tangan Kania untuk berteduh. Tapi Keyla melepaskan genggaman tangan Alex.
"Alex, aku ingin menikmati hujan, bolehkah?" Kania meminta kepada Alex dengan lembut. Tentu saja saja sikap Kania membuat Alex luluh dengan kelembutan dan sorot mata Kania yang terlihat mengiba itu.
"Kania, tapi kamu lagi sakit, aku tidak mungkin membiarkanmu bermandikan hujan seperti ini," ucap Alex lembut sembari duduk jongkok di depan Kania, memegang lutut Kania.
"Aku tidak akan sakit, aku suka hujan dan aku akan menari bersama hujan." Wajah Kania terlihat sangat bahagia, seolah tidak ada beban apa-apa, matanya memancarkan sinar yang terlihat merona sekali.
Merekah!
Indah!
Senyum yang bersemi seperti bunga yang bermekaran.
Kania berdiri kemudian berputar-putar dan menari menikmati irama hujan.
"Alex, ayo, sini!"
Kania menarik tangan Alex, membawa lelaki itu menari bersamanya.
Awalnya Alex terlihat kaku, namun lama-kelamaan akhirnya ia ikut menari bersama Kania.
Kania dan Alex berpegangan tangan sembari berputar-putar. Mereka berdua terlihat seperti anak bocah yang tengah bermain air hujan dengan hati dan perasaan riang gembira.
Kania terus saja menari, ia seperti wanita yang tidak memiliki masalah apapun, ia seperti wanita bebas tanpa beban pikiran, gelak tawa terpancar indah dari wajah cantiknya, rambut lurus panjang berwarna hitam itu kini terlihat berantakan karena hujan, baju rumah sakit yang Kania kenakan juga basah, membuat tubuh mungilnya terlihat seksi di mata Alex.
Alex terus saja menatap Kania, entah apa yang ada di otak Alex saat ini, matanya tidak berkedip sedikitpun dari Kania, kemanapun kaki Kania melangkah mata Alex selalu memperhatikannya.
"Kania," ucap Alex lembut disela-sela hujan yang membuat hati Alex semakin bergejolak.
Alex berjalan pelan beberapa langkah mendekati Kania, membuat jantung keduanya semakin berdetak tidak karuan.
"Alex, kenapa kamu menatapku sepertu itu?" tanya Kania.
Kania baru menyadari kalau Alex menatapnya sedari tadi. Kania semakin mendekat, namun Alex masih saja diam mematung dengan pandangan yang tidak beralih sedikitpun dari Kania.
Kania kini semakin dekat, jarak mereka sekitar 50 cm saja. Jantung Alex tidak bisa lagi dikendalikannya, matanya terus-terusan menatap Kania. Kini Kania juga ikut menatap mata Alex, mata mereka saling menyatu.
'Tampan sekali lelaki ini,' ucap Kania di dalam hati sembari berimajinasi.
'Ah, apa yang aku pikirkan?' Kania menepuk lembut jidatnya, ia menyalahkan dirinya sendiri atas khayalannya. Kania menunduk, ia tidak ingin lagi menatap mata Alex yang membuat hatinya merasakan gejolak yang tidak biasa. Namun, dalam sesaat semuanya semakin menjadi, debaran jantung Kania semakin berdetak diluar gerakan normal, ketika Kania mendengar nafas Alex di telinganya.
"Kania, aku mencintaimu!"
Bisikan lembut di telinga Kania membuat Kania semakin tidak bisa mengontrol hatinya. Namun, Kania berusaha untuk menghindari Alex karen aia ingat semua pesan abak dan bundo kepadanya di masa lalu.
'Kania, ini tidak benar,' batin Kania protes pada dirinya sendiri.