WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Hati Meragu



'Astagfirullahalazim, mungkin karena inilah ajaran agama dan adat melarang untuk berkeliaran di sore menjelang magrib seperti ini,' ucap Kania di dalam hati, ketika ia mengingat pesan abak dan bundo.


Dengan langkah berat, Kania kemudian berjalan agak sedikit pincang untuk menepi dari pantai, tapi sepertinya karang berduri itu terlalu tajam hingga membuat kaki Kania berlumuran darah, hingga ia mulai merasakan kesakitan.


"Sakit!" isak Kania manja.


Kania tetap memaksakan diri untuk berjalan, namun tiba-tiba tubuhnya di gendong oleh seseorang dari belakang, lelaki yang tampak sangat mengkhawatirkannya.


Untuk sesaat Kania tatap wajah yang meneduhkan itu, tapi wajah itu kali ini terlihat sangat datar tanpa ekspresi. Sekilas terlihat kekhawatiran bercampur amarah dan kekecewaan juga.


“Lex, tolong lepaskan aku, kita tidak muhrim dan ini dosa,” ucap Kania protes sembari meggoyang-goyangkan kedua kakinya yang berlumuran darah itu.


Kania merasa heran dan aneh, kenapa tiba-tiba ia tidak ingin disentuh Alex. Seolah saat ini ia menjadi Siti yang sangat paham sekali dengan sopan santun berdasarkan agama dan adat istiadat.


“Aku tahu kita tidak muhrim, makanya aku igin menghalalkanmu segera! Jika kamu tidak bisa menjaga diri seperti ini bagaimana aku akan tenang membiarkanmu sendirian seperti keinginanmu,” ucap Alex tegas tanpa menatap Kania. Ia tetap berjalan datar menyusuri setiap sudut pantai dengan hati yang berkecamuk.


'Ya Allah situasi seperti apakah ini, kenapa hari ini hamba dihadapkan dengan seorang lelaki yang terus-terusan mengajak hamba menikah,' gumam Kania di dalam hati.


Bukannya Kania tidak ingin menikah dengan Alex, hanya saja ia belum siap sekarang. Ada sebuah janji yang harus ia tepati kepada Siti agar nasipnya di masa depan tidak sama dengan masa lalu.


“Sayang, tolong turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri, tidak enak dilihat oleh orang-orang, tolong!” pinta Kania memohon sembari menautkan kedua tangannya tepat di dadanya.


“Kalau tidak mau aku bersikap seperti ini makanya jangan bikin khawatir, siapa yang nyuruh magrib-magrib gini malah berkeliaran di tepi pantai,” omel Alex dengan wajah marah yang penuh dengan kekhawatiran.


Perasaan Kania merasa lebih baik ketika Alex menurunkannya di pinggir jembatan panjang.


“Terima kasih, Sayang!” ucap Kania sembari tersenyum.


Entah mengapa saat kaki Kania terluka, perasaannya malah terasa lebih baik apalagi dengan adanya Alex disini bersamanya.


Alex kemudian mengambil air laut dengan menampungnya menggunakan kedua tangannya.


“Maaf, Sayang,” ucap Alex sopan.


Alex membersihkan kaki Kania dengan air laut. Dengan wajah khawatir, Alex menunjukkan perhatiannya. Beberapa kali ia bolak-balik mengambil air laut itu sampai kaki Kania terlihat bersih dan darahnya berhenti mengalir.


Alex kemudian duduk di samping Kania, ia mengeluarkan sapu tangan berwarna coklat untuk membalut kaki Kania.


“Maaf, Sayang, bukannya lancang, sekali lagi maaf!” ucap Alex.


Kania merasa salut dengan perubahan sikap Alex terlihat seperti Syamsul.


Lelaki itu mengangkat kaki Kania dengan membalutkan sapu tangan untuk menutupi luka Kania.


Dengan seksama Kania menatap erat kepada kekasih hatinya itu, terlihat jelas kalau lelaki itu benar-benar sangat tulus dan iklas kepada Kania. Raut wajah dan pancaran cinta dan kasih sayang juga tergambar jelas di wajahnya.


Untuk sesaat Kania kembali terpesona dan jatuh cinta. Kini lelaki itu juga menatap Kania, hingga untuk sesaat mata mereka saling bertemu dan beradu seperti dalam adegan-adegan dalam film India.


'Astagfirullahalazim,' ucap Kania di dalam hati dan gadis cantik itu langsung menundukkan pandangannya. Sikap malu yang saat ini Keyla miliki lebih terlihat seperti Siti. Sementara Alex sepertinya juga melakukan hal yang sama degan Kania, lelaki itu malah terlihat seperti Syamsul.


“Sayang, sudah azan, kita kembali ke apartemen yuk!” ajak Alex.


"Bagaimana kalau kita salat dulu?" Ajak Kania lembut.


Kania berdiri kemudian dengan sigap Alex jongkok, ia melepaskan sedal yang dipakenya dan memasangkannya di kaki Kania, kejadian ini mengingatkan Kania pada dua kejadian, pertama ketika Alex memasangkan sepatu kaca Cinderella untuknya pada saat pertama kali mereka jadian dan kedua ketika Alex membelikannya sendal jepit motif Doraemon untuk mengganti sepatu Cinderella yang membuat Kania terluka waktu itu di pesta.


Kania mulai terhanyut dalam khayalan dan lamunan, ia mulai merasakan keanehan di diri Kania, tapi kerinduan akan seseorang yang telah meninggal juga membuat air mata Kania jatuh membasahi pipinya.


Kania kemudian langsung menghapus air mata itu sebelum Alex melihatnya, ia tidak ingin lelaki yang sangat dicintainya itu mengkhawatirkannya secara berkelebihan lagi.


“Sayang, ini pake sedalnya, biar kita segera ke musala. Pakailah agar kakimu merasa aman dan tidak terluka lagi,” ucap Alex lembut.


Alex memberikan sendal yang ia pakai untuk Kania kenakan agar kekasihnya itu tidak kesakitan.


"Tapi, Sa-yang ...," Kania merasa ragu karena ia tidak mau kaki lelaki yang sangat dicintainya juga terluka.


"Pakailah, aku tidak akan apa-apa, yang terpenting kamu," ujar Alex lembut sembari menatap mata Kania dengan cinta yang sangat tulus.


Kania akhirnya memakai sendal Alex yang ukurannya kebesaran untuknya itu.


“Terima kasih, Lex!” ucap Kania dengan senyum tipis yang terlihat manis.


Alex juga menatap Kania dengan seksama, hingga dua mata itu saling menatap dan membalas senyuman.


“Sayang, ayo pergi!” ucap Kania dengan mata berbinar-binar menatap kekasih hatinya.


Alex berdiri dan berjalan di samping Kania, mereka berjalan berdampingan dalam kebisuan. Sesekali Kania memperhatikan wajah Alex ketika memperhatikannya. Dan sesekali Kania juga melakukan hal yang sama kepada Alex. Ada kenyamanan dan kedamaian yang ia rasakan ketika berada di dekatnya walaupun rasa dek-dekan itu belum muncul, tapi setidaknya Kania tidak merasa caggung ketika berada di dekat kekasihnya itu.


“Sayang, apa kakinya masih sakit?” tanya Alex perhatian.


“Tidak, Sayang. Terima kasih ya karena kamu telah membantuku,” ucap Kania dengan wajah yang masih tertunduk malu.


“Sayang, apa boleh aku bertanya sesuatu?”


Alex menatap Kania dan menghentikan langkah kakinya. Keyla juga melalukan hal yang sama seperti yang Alex lakukan. Kania melihat Alex menatap matanya yang menyimpan sejuta tanya kepada Kania.


“Apa yang ingin kamu tanyakan, Sayang?” ucap Kania lembut dengan senyuman tipis dari bibirnya untuk memecahkan suasana tegang yang kini mereka rasakan.


“Apa kamu memikirkan sesuatu yang terlalu sulit untuk kamu ceritakan kepadaku?” tanya Alex penasaran.


Ada rasa mengganjal yang Alex rasakan di hatinya saat ini, ia seolah-olah ingin menanggung semua beban yang aku rasakan saat ini.


"Apa yang akan aku kataan?" ucap Kania di dalam hati.


Kania ingin menjelaskan dan menceritakan banyak hal kepada Alex, akan tetapi ia tidak tahu akan memulai menjelaskannya dari mana.