WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak



"Papa, jangan menangis lagi, Pa!"


Kania mengangkat tangan kanannya dengan lemah karena energinya memang tidak ada, apalagi ia baru saja sadar dari koma. Kania kemudian menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi papanya dengan jari-jemarinya yang lembut dan halus.


Kania tidak ingin lagi ada air mata dan kesedihan yang terpancar dari wajah papanya, karena ia sangat tahu kalau selama ini papanya selalu menangis di saat beliau sendirian.


"Pa, Kania sayang banget sama Papa."


Kania menatap mata papanya dengan tatapan mata yang sangat berbinar, dan dengan cinta ia mengungkapkan kepada sang papa kalau ia sangat mencintai dan menyayangi papanya dengan segenap jiwa dan peerasaannya.


Papa Haris tersenyum, senyum mengembang yang terpancar jelas di wajahnya yang kini sudah muncul garisan-garisan halus.


"Papa juga sangat mencintai dan menyayangi Kania, walaupun mungkin Papa pernah khilaf tapi satu hal yang harus Keyla tahu kalau kasih sayang Papa tidak terbatas, Nak."


Papa Haris mencium kening putri kesayangannya, putri kecil yang kini telah beranjak dewasa dan terlihat sangat cantik seperti mamanya.


Papa Haris menggenggam tangan putri kesayangannya itu, mencium dengan lembut, memperlakukan Kania layaknya seorang bayi yang sangat disayanginya.


"Papa, apa Kania boleh meminta sesuatu sama Papa?" ucap Kania lemah dan ragu-ragu.


"Apa, Nak? Katakanlah!" balas papa Haris dengan senyum tulus dan terdengar sangat ikhlas sekali.


"Apakah Kania boleh bertemu dengan Alex?"


Kania ingin sekali bertemu dengan Alex, memastikan keadaan sang kekasih baik-baik saja, setidaknya Kania ingin menatap wajah kekasih yang sangat dicintai dan disayanginya itu dengan segenap hati dan perasaan.


"Boleh ya, Pa," pinta Kania sekali lagi dengan suara merengek manja, terlihat sekali kalau ia sangat berharap jika sang papa mengabulkan keinginannya.


"Sayang, Papa akan mengizinkan kamu bertemu dengan Alex kapanpun itu, Papa juga tidak akan melarang hubungan kamu dengan Alex lagi, Sayang, tapi tidak sekarang ya, nak," ucap papa Haris yang berusaha memberikan pengertian kepada putri kesayangannya.


Papa Haris bukannya melarang Kania atau membatasi lagi hubungan asmara Kania dengan Alex, beliau hanya tidak ingin jika keadaan Kania kembali memburuk jika memaksakan diri untuk pergi keluar rumah walaupun sebentar, karena saat ini status Kania tetaplah seorang pasien yang dalam penanganan dan perawatan dokter.


"Papa, rasanya Kania rindu sekali dengan Alex," ucap Kania dengan tatapan mata yang kini sedang menerawang entah kemana.


Kania merasa kalau ia tidak bertemu dengan Alex selama bertahun-tahun, makanya Kania berharap bisa bertemu dengan kekasih hatinya itu. Ya, obat dari rasa rindu adalah dengan bertemu dengan orang yang kita rindukan.


Papa Haris paham dengan apa yang disampaikan oleh putrinya, karena rasa rindu itu tidak bisa ditahan sama sekali, karena obat dari pada rindu adalah bertemu dengan ia yang dirindukan.


Nia, nanti Papa telpon Pak Sastrawan, Papa akan tanya keadaan Alex dulu, kalau memungkinkan Papa akan meminta supir kita untuk menjemputnya, jadi kamu sabar ya, Nak," ucap papa Haris sembari membelai rambut putri kesayangannya.


Saat ini kebahagiaan Kania adalah yang terpenting dan papa Haris telah berjanji membuat putrinya itu bahagia.


"Pa, Kania ingin dirawat bersama dengan Alex, karena Alex pasti sangat mengkhawatirkan Kania sekarang."


Kania sangat tahu betapa Alex mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati dan perasaannya, lelaki itu juga pasti tidak akan tenang jika belum mengetahui bagaimana kabar dan keadaan Kania, jadi Kania berpikir lebih baik mereka berdua dirawat bersama agar keduanya semakin bersemangat untuk melanjutkan hidup masing-masing, agar cepat pulih dan kembali beraktifitas seperti sedia kala.


"Sayang, Papa akan melakukan apapun yang Keyla mau, tapi sekarang Kania diperiksa dulu ya keadaannya karena Dokter sudah datang," ucap papa Haris membujuk sang putri.


Kania mengangguk, ia ingin kesempatan hidup yang Tuhan berikan kepadanya sakarang ingin ia gunakan untuk berbakti kepada papanya, ia akan menjadi anak penurut yang tidak lagi suka membantah orang tua, ia juga akan berusaha menjadi anak yang terbaik seperti baiknya Siti kepada orang tuanya di masa lalu.


"Iya, Om, terima kasih banyak, Om."


Dokter yang memeriksa Kania adalah sahabat papanya, jadi ia percaya kalau dokter akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan den kesehatannya.


Dokter memeriksa suhu tubuh dan denyut jantung Kania, untuk memastikan kalau Kania benar-benar telah sembuh dari koma.


"Kania, bagaimana rasanya tubuh kamu, Nak? Apa Kania bisa duduk?" tanya dokter.


"Seluruh tubuh Kania terasa sangat lemah sekali, apa yang sebenarnya terjadi dengan Kania, apa Kania lumpuh, Om?"


Kania mulai berpikir kemungkinan yang terburuk yang terjadi pada dirinya sehingga ia merasa sangat sedih sekali, karena jika ia lumpuh itu artinya Kania akan merepotkan orang lain seumur hidupnya.


"Sayang, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, kamu baik-baik saja kok, ini semua karena pengaruh dari koma, kamu tidur terlalu lama sehingga monitorik tubuhmu menjadi kaku, kita bisa melatih kembali, kamu juga bisa berjemur di bawah sinar matahari pagi, dan Om Dokter akan melakukan yang terbaik untuk membuat kau sembuh seperti sedia kala," ucap sang dokter mencoba menyemangati Kania.


"Iya, Nak, Papa yakin beberapa hari lagi keadaan kamu akan membaik, Nak."


Semua orang berusaha memberikan semangat dan dukungan kepada Kania, berharap Kania segera sembuh dan keadaannya membaik seperti sedia kala.


"Terima kasih, Pa, Om Dokter."


Wajah Kania terlihat sangat sedih, namun ia bertekat untuk bisa segera sembuh karena ia ingin kembali bersekolah dan bertemu dengan Alex setiap harinya.


"Kania, kalau begitu Om Dokter akan memberikan resep obat kepada kamu ya, Nak, setelah ini kamu makan dan minum obatnya ya."


"Iya, Om Dokter."


"Kalau begitu Om Dokter pamit ya, kalau Kania ada apa-apa bilang saja sama Suster, nanti Om datang lagi."


"Iya, Om, terima kasih banyak, Om."


"Nak, Papa antarkan Om Dokter dulu keluar ya."


"Iya, Pa."


Papa Haris dan om Dokter berjalan keluar dari kamar Kania, meninggalkan Kania untuk sesaat karena akan membicarakan sesuatu yang penting diluar terkait kesehatannya Kania.


"Bi, apa Kania boleh minta tolong?"


Bibi mendekati Kania, menanyakan apa yang menjadi keinginan Kania, karena ia memang sudah diperintahkan oleh papa Haris untuk memenuhi semua kebutuhan Kania.


"Iya, Non, apa yang bisa Bibi bantu?"


"Bi, apakah Bibi melihat HP Kania?"


Kania ingat kalau ponselnya menyimpan banyak memeri selama ia berada di masa lalu, jadi ia ingin melihat-lihat ponselnya agar kerinduannya kepada abak dan bundo serta semua kenangan di masa lalu bisa terobati, sekalian ia ingin menghubungi Alex, agar kerinduannya dapat terobati.


"Ini, Non," ucap sang bibi sembari mengeluarkan ponsel canggih keluaran terbaru yang hanya dimiliki oleh keluarga elit dan kaya karena harga ponsel itu seharga motor.