
Ya, lelaki tua bangka itu sedikitpun tidak ingin melepaskan papa Kania kalau Kania tidak bersedia menikah dengannya. Saat ini yang bisa Kania lakukan hanya berdiam diri di apartemen sembari memikirkan strategi terbaik, akan tetapi belum ada jalan keluar sedikitpun dari masalah yang tengah ia hadapi.
"Sayang, jangan menangis dan bersedih lagi, aku ingin kamu bahagia. Bahkan Mama kamu datang ke dalam mimpi dan memintamu agar kamu jangan bersedih lagi, Sayang!" ucap Alex menenangkan kekasih hatinya.
"Iya, Sayang," jawab Kania dengan senyuman yang terlihat ia paksakan.
"Sayang, apa aku bantuin kamu mencuci piringnya?"
Alex membereskan meja makan dan terlihat ingin meringankan beban Kania, akan tetapi gadis cantik itu menolak.
"Jangan, Sayang, biarkan aku saja! Kapan lagi 'kan kamu beristirahat dengan tenang dan membiarkan aku yang melakukan pekerjaanku sebagai calon istrimu," jelas Kania menggoda Alex.
Jawaban yang keluar dari lisan Kania membuat Alex terpesona, wajahnya memerah dengan jantung yang berdetak sangat hebat.
"Sayang, aku perhatikan sepertinya kamu semakin suka sama aku. Apa aku terlihat begitu mempesona?" goda Kania dengan senyum yang terlihat indah dan sangat menawan.
"Iya," jawab Alex singkat.
Lelaki itu benar-benar sangat bucin kepada Kania. Dunianya hanya Kania dan ia teramat sangat mencintai Kania.
"Terima kasih banyak, Sayang," balas Keyla dengan senyuman.
"Sayang, apa boleh aku bertanya?"
Alex mendekati Kania dan berdiri tepat di samping gadis itu. Menatap wajah Kania yang saat ini sedang asyik mencuci piring.
"Mau nanya apa, Sayang?"
Kania terlihat santai saat ini, akan tetapi Alex terlihat panik dan tegang.
"Apakah kamu menyukai Syamsul? Lelaki yang merupakan diriku di masa lalu?" tanya Alex.
Wajah Alex terlihat memerah dan menanggung cemburu yang teramat sangat dalam kepada dirinya sendiri dari masa lalu.
"Aku menyukainya, bahkan sampai saat ini hatiku belum bisa melupakan Uda Syamsul sama sekali," jawab Kania dengan senyuman, kemudian ia tertawa terbahak-bahak karena menatap wajah cemberut Alex.
"Oh begitu, baiklah, apapun keputusanmu maka akan mendukungnya. Jika kamu ingin kembali ke masa lalu dan bertemu dengan Uda Syamsul atau siapalah itu maka pergilah! Aku akan berbahagia untukmu."
Alex terlihat semakin cemburu dan sangat marah karena Kania dengan terang-terangan membela lelaki lain di depan Alex. Dan yang semakin Kania merasa lucu adalah sikap Alex yang cemburu kepada dirinya sendiri.
Kania tentu saja menyukai Uda Syamsul karena ketika ia berada di masa lalu maka perasaan yang ia rasakan sesungguhnya adalah perasaan Siti.
"Sudah ah, aku mau siap-siap dulu!"
Alex langsung berjalan memasuki kamarnya dan meninggalan Kania seorang diri di dapur dengan membawa kecemburuan bersamanya.
"Sayang, kamu cemburu sama dirimu sendiri?" sorak Kania sembaru tertawa karena menurut Keyla sikap Alex saat ini sangat lucu sekali.
"Terserah!"
Alex membanting pintunya dengan sekeras-kerasnya.
Sementara Kania tersenyum-senyum sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kania, tolong aku! Beberapa hari lagi Datuak Maringgih akan menikahiku. Jika aku tidak mau maka Abak dan Bundo akan di siksa," bisik seseorang di telinga Kania.
Suara rintihan yang membuat Kania terkejut, itu adalah suara Siti yang tengah menangis meminta bantuan dari Kania.
"Astagfirullahalazim, suara itu terdengar sangat nyata, apakah itu benar-benar suara Siti?" ucap Kania di dalam hati.
Kania tidak pernah mendengarkan Siti secara langsung seperti itu di masa depan kecuali dalam mimpi. Namun, saat ini suara itu terdengar sangat nyata dan jelas. Siti benar-benar sangat membutuhkan bantuan Kania.
Kania melangkahkan kakinya masuki kamar di mana suara itu ia dengar, namun Kania tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamarnya.
Kania membuka gorden kamarnya, akan tetapi ia tidak menemukan siapa-siapa.
Dor!
Pintu kamar Kania langsung tertutup sangat keras sehingga Kania menjadi ketakutan.
"Siti, apa yang terjadi? Kenapa kamu menakutiku?" ucap Kania dengan nada suara bergetar dan ketakutan dengan tangan yang menggigil.
"Tok ..., tok..., tok...," pintu kamar Kania berbunyi, seperti ada yang mengetuk.
Kania semakin ketakutan. Ia menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Assalamualaikum, Sayang," terdengar suara Alex dari luar kamar, hingga Kania tidak lagi merasa ketakutan.
"Alex, Sayang, kamu disini?" ucap Kania sembari bergegas membukakan pintu untuk Alex.
"Assalamualaikum, Sayang, kamu kenapa?"
Alex terlihat kaget ketika melihat Kania saat ini telah dipenuhi dengan peluh dan keringat dingin.
"Waalaikumaalam, Sayang," ucap Kania dengan nada suara bergetar.
Kania langsung menjatuhkan tubuhnya kepada Alex dan memeluk erat kekasih yang sangat dicintai dan disayangainya itu.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu menggigil sepeti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alez sembari mengelus-elus lembut rambut Kania.
Kania masih menggigil ketakutan sehingga terlalu sulit mengungkapkan apa yang akan ia katakan kepada Alex.
"Sayang, ceritalah! Mungkin perasaanmu akan lebih tenang dan lebih baik," ujar Alex lembut.
Alex kemudian membawa Kania untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu.
Alex menatap Kania dengan tatapan sendu dan penuh dengan kekhawatiran. Alex sangat takut jika hal buruk menimpa Kania.
"Sayang, tadi aku mendengar suara Siti, dia datang kesini dan meminta tolong kepadaku. Ia membuatku ketakutan, akan tetapi kata-katanya masih terngiang-ngiang dalam ingatanku," jelas Kania dengan nada suara terbata-bata.
"Apa yang dikatakan oleh Siti, Sayang?" Alex juga sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Kania terlihat syok dan ketakutan seperti itu.
"Sayang, Siti bilang Abak dan Bundo akan di siksa kalau hutang kepada Datuak Maringgih tidak segera di lunasi," jelas Kania.
Kania menatap Alex dengan tatapan berkaca-kaca, berharap kekasih hatinya itu memiliki solusi terbaik untuk masalah yang mereka hadapi saat ini.
"Sayang, bagaimana kalau kita berkunjung ke Sumatera Barat?"
Alex tiba-tiba saja memiliki ide untuk mengunjungi Ranah Minang. Entah apa yang saat ini ia pikirkan, hanya saja kata-kata itu spontan keluar dari lisannya.
"Berkunjung ke Sumatera Barat?"
Kania heran kenapa Alex bisa memikirkan hal seperti itu.
"Sayang, setelah kita ke panti asuhan kita langsung ke bandara, kita harus pulang ke kampung halaman kita. Kita harus mengunjungi makam Siti yang ada di Sumatera Barat. Mungkin saja kita akan mendapatkan petunjuk di sana," jelas Alex.
Ide Alex memang terdengar gila, namun Kania merasa kalau ide gila itu harus dicoba, karena Kania sangat yakin kalau Siti tidak akan mungkin datang meminta bantuan darinya jika saat ini ia tidak berada dalam bahaya.
"Baiklah, Sayang, aku setuju," jawab Kania.
Ya, mungkin Kania tidak tahu bagaimana caranya kembali ke masa lalu, akan tetapi ia bisa berkunjung ke kampung halamannya.
"Tapi, Sayang, bagaimana dengan Papa?"