WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Bahagia Bersama Alex



Seperti orang yang kebingungan, Alex menggeleng dan terlihat sangat linglung dengan apa yang terjadi.


Heran!


Tentu saja perasaan aneh menghantui Alex karena tidak biasanya ia melupakan sesuatu.


"Sayang, apakah terjadi sesuatu kepada kita?"


Alex menggenggam tangan Kania dan menatap mata kekasihnya itu, mengharapkan penjelasan dari kekasih hatinya itu.


Huft ....


Kania menarik nafas panjang, mengumpulkan energi-energi positif untuk menjernihkan pikirannya.


Kania linglung, otaknaya berputar-putar dan ia memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada Alex tentang apa yang terjadi.


"Sayang, kita sudah sampai," ujar Kania ketika pintu lift terbuka.


Kania menarik nafas panjang, setidaknya untuk saat ini ia bisa menghindari pertanyaan Alex.


"Iya, Sayang, yuk!"


Kania dan Alex melangkahkan kakinya keluar dari lift, memasuki sebuah apartemen yang dengan nomor 32 a dan 33 b.


Alex menekan sidik jarinya dan meminta Kania untuk mengatur sidik jarinya juga, agar gadis cantik kesayangannya itu bisa memasuki rumah tanpa ada Alex sekalipun.


"Sayang, yuk masuk!" Alex menggenggam tangan Kania dan membawa gadis cantik kesayangannya itu memasuki apartemen.


"Assalamualaikum."


Itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari lisan Kania ketika memasuki apartemen.


"Waalaikumsalam," jawab Alex sembari menatap Kania dengan tatapan heran.


Alex seolah melihat diri orang lain dalam diri kekasihnya, ia tidak yakin kalau wanita tang bersamanya itu Kania, tapi bagaimana ia bisa membuktikannya karena yang ada di depannya benar-benar Kania.


"Sayang, kenapa kamu memperhatikanku seperti itu?"


Kania menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di depan wajah Alex yang matanya sama sekali tidak berkedip.


"Sayang!"


Kania mengagetkan Alex dengan bertepuk tangan di depan wajah Alex yang masih heran.


"Astagfirullah Azim, Kania!"


Alex kaget dengan dengan jantung yang terasa seperti akan copot.


"Sayang, lagi mikirin apa sih? Kok melamun gitu?" tanya Kania penasaran.


Kania sangat tahu sekali kalau saat ini Alex merasa aneh dengan perubahan diri Kania, namun Kania memilih untuk bersikap biasa sampai ia menemukan cara untuk menjelaskan semuanya kepada Alex.


"Sayang, kamu istirahatlah terlebih dahulu, aku akan ke apartemenku dan memasak makanan untuk kita. Kamu lapar bukan?"


Alex sepertinya juga terlihat tidak tahu akan memulai pembicaraan dari mana.


Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, seperti orang bingung yang tengah hilang kendali.


"Ya udah, Sayang, kebetulan aku lapar banget. Kangen juga masakan kamu," ujar Kania dengan senyum menawan.


Ya, Alex adalah lelaki yang sangat sempurna, ia selalu memperhatikan Kania, mulai dari urusan sekolah hingga urusan perut Kania.


Alex sering memasak dan membawakan makanan untuk Kania yang malas sekali makan.


"Sayang, kapan-kapan kamu ajarin aku masak ya!" ujar Kania sembari mengantarkan Alex sampai di depan pintu apartemen.


"Hmmm ..., memangnya seorang anak sultan kayak kamu mau belajar masak? Bukannya selama ini hanya sibuk menghabiskan uang orang tua?"


Alex mencubit hidung Kania yang minimalis dan sangat jauh sekali dari kata mancung.


Untuk sesaat sepasang kekasih itu melupakan semua persoalan hidupnya dan kembali bersikap normal layaknya pasangan kekasih yang saling mencinta tanpa adanya masalah yang mengganggu pikiran dan hati mereka.


Bahagia!


Hanya itulah kata-kata yang tepat menggambarkan betapa berbunga-bunga hati sepasang kekasih itu ketika sedang bercengkrama dan bercanda tawa.


Bisikan lembut di telinga Kania membuat jantungnya berdetak sangat hebat.


Kata-kata cinta seperti itu bukan kali pertama diucapkan Alex kepadanya, namun entah mengapa Kania tetap merasa terbang dan melayang-layang di udara, dunia pun seolah terasa milik berdua.


Alex memegang pinggang Kania dan mendekatkan tubuh mungil Kania mendekatinya.


Dak ..., Dik ..., Duk ....


Detak jantung sepasang kekasih itu terdengar seperti genderang, hingga akhirnya saling menyatu dalam diam dan asmara yang menggelora. Keduanya terhanyut dalam cinta yang memuncak. Ya, kerinduan membuat sepasang kekasih itu meluapkan cinta dan kasih sayang mereka dengan menyatu untuk beberapa saat.


"Astagfirullahalazim!"


Kania tersadar dan langsung mendorong dada bidang Alex dengan tangannya untuk menjauhinya.


Pesan-pesan bundo terngiang-ngiang dalam ingatan Kania, bahwa seorang wanita itu harus berkelas dan bisa menjaga martabatnya sebagai wanita muslimah yang tahu dengan agama dan adat istiadat. Seorang wanita Minangkabau memiliki kedudukan dan derajat yang sangat tinggi dan tidak mudahnya direndahkan oleh dirinya sendiri.


"Sayang, kamu kenapa?"


Alex kaget dengan perubahan sikap Kania.


Mereka bahkan hampir melakukan hal seperti itu setiap hari, akan tetapi kenapa Kania saat ini seolah menolak cinta dan kasih sayang yang Alex berikan. Alex bahkan tidak melewati batas, hanya sekedar bersentuhan dan menyatu.


"Sayang, Papa kamu dimana?" tanya Kania sembari menatap sekeliling apartemen dan tidak menemukan siapapun.


"Papa sibuk di kantor dan sibuk mencari Papa kamu, Sayang," ungkap Alex sembari menunduk.


Kania sadar kalau mungkin saja Alex merasa sedih karena papanya juga tidak ada bersamanya. Walaupun papanya saat ini bukan papa kandungnya, tetap saja Alex sangat mencintai dan menyayangi papanya.


"Sayang, aku lelah," ucap Kania.


Kania membalikkan badannya dan berjalan memasuki kamar dengan hari yang berkecamuk.


Kania tahu, kalau saat ini Alex kecewa dengan sikap yang ditunjukkannya. Kania juga sangat paham kalau Alex bertanya-tanya dengan perubaham dirinya. Namun, Kania seolah merasa bersalah dan berdosa pada dirinya sendiri karena melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh dua insan yang belum terikat dalam ikatan suci pernikahan.


Bukannya Kania tidak suka dengan apa yang dilakukan Alex kepadanya, bukan juga karena Keyla tidak lagi mencintai Alex. Sejujurnya Kania sangat bahagia dan merindukan belaian hangat dari Alex, bahkan mereka telah lama tidak berjumpa. Akan tetapi entah mengapa Kania merasa takut untuk melakukan dosa.


Bisikan-bisikan bundo terdengar jelas di telinga Kania, hingga membuat tubuh Kania merinding, tangannya mendingin dan jiwanya melakukan penolakan.


"Sayang, istirahatlah! Aku juga mau istirahat."


Nada suara dingin dan kaku itu terdengar dari lisan Alex. Ya, kekecewaan membuat Revano meninggalkan apartemen tanpa menatap Kania sedikitpun.


Alex marah dan membanting pintu apartemen dengan membawa kekecewaan bersamanya.


"Sayang, maafkan aku!"


Kania membaringkan tubuhnya di ranjang king yang empuk itu sembari membayangkan wajah kekasihnya yang kecewa kepadanya.


Huft ....


Kania menarik nafas panjang dan mengguling-gulingkan tubuhnya di ranjang itu.


Kania memukul-mukul kepalanya dan merasa bersalah kepada Alex atas sikapnya yang membuat Alex marah dan kecewa.


"Kenapa aku bisa berubah menjadi aneh seperti ini? Ini bukan kali pertamanya kami menyatu, lantas mengapa aku menolak?" ucap Kania yang juga merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.


"Siapakah yang ada di diriku saat ini? Kania atau Siti? Kenapa sifat Kania dan Siti jadi menyatu seperti ini? Kenapa aku seolah tidak bisa mengendalikan diriku sendiri."


Beribu pertanyaan muncul di benak Kania, yang semua itu masih menjadi misteri dan teka-teki yang tidak bisa Keyla jawab sendiri.


"Salat!"


Kania langsung teringat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Ia ingat pesan bundo kalau salat itu akan mencegah perbuatan keji dan mungkar, salat juga membuat hati seseorang menjadi tenang dan damai. Salat adalah pertemuan seorang hamba dengan Rabb-Nya.


Kania kemudian bangkit dari pembaringannya dan melaksanakan salat lima waktu yang merupakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Kring ..., Kring ..., Kring ....


Ponsel Kania berdering.


Kania membuka mukena yang ia kenakan dan mengambil ponselnya dan alangkah kagetnya Kania melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Papa?"