WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Mengikhlaskan



"Kania hanya mengingat Abak dan bersyukur bisa ada di keluarga ini," jelas Kania dengan mata berkaca-kaca.


"Abak pasti bangga sekali sama kamu, Nak." Wajah bundo semakin Sendu.


"Andai Abak masih ada disini, beliau pasti sangat bangga sama putri kesayangannya." Raut wajh bundo semakin terlihat sedih.


"Kania ingat banget pesan Abak, kalau kita harus menjadi orang yang jujur karena kejujuran adalah kunci dari segalanya dalam hidup ini. Abak adalah malaikat terbaik kedua yang dikirimkan Allah setelah Bundo." Perlahan air mataku jatuh membasahi pipi Kania.


"Andai Abak masih ada di sini bersama kita ya, Nak." Bundo memeluk Kania dengan erat dan saling berpelukan dengan bercucuran air mata.


"Assalamualaikum," sapa salah seorang perawat yang datang membawakan makan siang dan obat untuk Kania.


"Waalaikumsalam," jawab kami serentak sembari melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang membasahi pipi.


"Selamat Siang, Ibu, Uni," sapa perawat ramah dengan senyuman meneduhkan yang terpancar dari wajah cantiknya.


"Siang juga, Sus." jawab kami serentak lagi.


"Kompak banget nih," ucap perawat sembari tersenyum karena turut bahagia melihat kekompakan keluarga Kania.


"Suster bisa aja," jawab Kania dengan senyum semangat.


"Gimana keadaan Uni? sepertinya udah makin semangat ini."


"Iya, Suster, lagi semangat banget. Pengen cepat-cepat pulang, Sus." Sela bundo.


"Iya dong, tidak ada tempat ternyaman kecuali rumah, benarkan Bun?"


"Iya Sayang, tapi sabar ya. Besok baru kita pulang."


"Oh iya, apa ada keluhan yang Uni rasakan?"


"Alhamdulillah nggak ada Suster, pokoknya mah udah siap pulang dan beraktifitas lagi seperti biasanya."


"Aduh, jadi senang mendengarnya. Kalau begitu nanti setelah makan siang, obatnya jangan lupa di minum ya, Uni!"


"Siap Suster, dengan senang hati." Kuberikan salam hormat kepada Suster sehingga semua orang di ruangan pun tertawa melihat tingkah Kania yang lucu dan tak terduka, dalam sedetik Kania bisa menangis dan dalam sedetik juga ia bisa merubah suasana menjadi ceria.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu, Uni."


"Aduh, anak Bundo semangat banget hari ini. Bundo senang akhirnya kecerian Kania kembali lagi, tetaplah tersenyum seindah itu, Nak. Bundo tidak ingin ada lagi air mata yang mengalir membasahi pipimu. Bundo hanya ingin senyum dan kebahagiaan yang akan menghampiri hidupmu setelah ini."


"Iya, Bundo, Kania janji, Kania akan selalu tersenyum ceria dan bikin Bundo bangga menjadi Ibu Kania, bukan sebagai Siti tapi sebagai Kania yang sesungguhnya Kania akan bikin Bundo bangga. Kania akan menjadi orang sukses, menikah dan punya keturunan yang saleh dan saleha seperti harapan Abak, doain Kania ya, Bun."


"Tanpa kamu minta pun Kania pasti akan selalu mendoakan anak-anak Bundo. Bundo ingin semua anak-anak Bundo sukses dan bahagia.


"Kania sayang Bundo." Begitulah kehangatan keluarga itu, mereka saling melengkapi dan saling menguatkan, jika salah satu dari mereka sakit maka yang lainnya juga merasakan sakit, jika salah satu dari mereka merasakan bahagia maka semuanya juga akan merasakan kebahagiaan yang sama, karena mereka adalah keluarga. Tidak ada yang lebih berharga dari keluarga, tidak ada yang lebih penting dari keluarga dan tidak ada yang lebih berarti dari keluarga.


Keluarga adalah harta berharga yang dimiliki di dunia ini, dimana segala keluh kesah dan kegundahan di hati bisa di ungkapkan dan dibagi bersama keluarga agar perasaan menjadi lebih baik.


Kini Kania ikhlas jika ia tidak diberi kesempatan lagi kembali ke masa depan, karena ia percaya pasti Tuhan punya rencana terbaik dan terindah untuk Kania. Mungkin saja Tuhan ingin Kania menjaga bundo lebih lama di masa lalu karena abak dan Siti sudah tidak ada lagi di dunia. Kania bersyukur karena ia memiliki kesempatan untuk memiliki ibu dan berbakti kepada orang tuanya karena Kania percaya bahwa surga ada di telapak kaki ibu itu nyata adanya.


Mungkin, dahulu Kania kehilangan waktu untuk berbakti kepada mamanya, tapi saat ini Kania bisa berbakti kepada bundo. Bukan karena Kania telah melupakan mamanya atau menggantikan posisi mamanya dengan bundo, tapi Kania menganggap dan menilai bahkan mama dan bundo adalah orang tuanya yang harus ia hormati dan sayangi. Ya, tugas Kania sebagai seorang anak adalah untuk berbakti kepada orang tuanya.


"Bundo, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke sawah setelah pulang dari rumah sakit ini?"


Kania ingin menghibur bundo agar bundo tidak lagi memikirkan abak.


Ya, Kania sangat tahu bagaimana perasaan bundo saat ini ketika kehilangan lelaki yang sangat dicintai dan disayanginya dengan tulus, tentu saja kesedihan dan pilu mendalam yang beliau rasakan. Namun, Kania percaya bundo adalah wanita kuat yang paham dengan agama, bundo tahu kalau segala yang terjadi di dunia ini adalah rencana Allah dan semua rencana Allah adalah yang terbaik.


"Kania, Bundo sedang tidak ingin jalan-jalan. Bundo hanya ingin di rumah saja. Lagian 'kan kita masih berduka," tolak bundo.


Wajah bundo terlihat pucat karena beliau mogok makan dan tidak ingin melakukan kegiatan apapun. Bundo hanya tidur dan mengurung diri di kamar sembari memeluk baju abak, lelaki yang sangat dicintai dan disayanginya dengan sangat tulus penuh cinta dan kasih sayang.


Kania sangat tahu bagaimana perasaan bundo saat ini, karena Kania juga pernah melihat papanya menagis dan mengurung diri di ruang kerjanya sembari memeluk photo mama, wanita yang sangat papa cintai. Waktu itu papa seperti mayat hidup yang tidak bisa melakukan apapun tanpa mama.Ya, mama adalah belahan jiwa papa dan papa tidak bisa melakukan apapun tanpa ada mama di sisinya. Bahkan seiring berjalannya waktu, papa menjadi berubah. Pria baik yang selalu bersikap lembut berubah menjadi lelaki kasar dan bertingkah diluar kebiasaannya.


Kenangan akan perubahan sikap papa membuat beliau menjadi sadar, kalau papa tidak salah sama sekali. Beliau seolah menjual Kania kepada om Galih bukan karena ia jahat, hanya saja hidupnya kesepian dan butuh perhatian, sehingga beliau melakukan sesuatu yang terbilang nekat.


Kania teringat, ketika tidak ada mama lagi di sisi mereka, papanya dan Kania sering bertengkar dan berdebat untuk hal-hal yang tidak penting. Papanya juga jarang sekali pulang ke rumah, bahkan jika mereka bertemu di kantor mereka berdua saling menghindar agar tidak terjadi pertengkaran.


Kania tidak ingin hal seperti itu terjadi kepada bunda. Kania tidak ingin bundo berubah menjadi berbeda seperti papanya. Kania ingin bundo tetap baik dan menjadi sandaran hatinya.


Satu persatu Kania merasakan alasan yang membuat ia tetap bertahan di masa lalu untuk sementara waktu karena memang banyak skali pelajaran yang dapat ia ambil untuk menjadikannya manusia yang lebih baik.


"Bundo, bagaimana kalau kita piknik, biar Kania yang memasak. Bukankah Bundo belum pernah mencoba masakan Kania?"


Kania terus berusaha untuk membuat bundo mau bergerak dan keluar dari kamar, namun nihil. Hasilnya tetap sama, bundo tetap tidak bisa dibujuk sama sekali.