
'Tidak, Nia, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Papa! Papa telah berubah dan Papa tidak mungkin melakukan hal yang buruk lagi,' ucap Kania di dalam hati sembari menepis rasa takutnya jika sang papa seandainya melakukan hal buruk lagi kepadanya.
"Sayang, kamu akan sekamar dengan Alex, kalian berdua akan dirawat bersama karena Papa khawatir jika Om Galih malah mengambil kalian berdua dari Papa," jelas papa Haris dengan wajah yang penuh dengan sejuta tanda tanya.
'Apa yang sebenarnya tejadi? Apa yang Papa rencanakan?' batin Kania.
Kania berusaha bersikap tenang dan memperhatikan gerak-gerik papanya, karena keyakinan Kania terhadap papanya tidak seutuhnya saat ini, jadi Kania harus bersikap biasa-biasa saja dan menyusun strategi terbaik dengan otaknya agar kecurigaannya kepada papanya bisa ia buktikan.
"Papa, apakah benar kalau Kania dan Alex sekamar?"
Kania memperlihatkan betapa ia merasa sangat senang dan bahagia sekali ketika ia akan dipertemukan dan dirawat dengan Alex di kamar yang sama.
"Iya, Nak, tapi kalian berdua dipisahkan oleh ranjang, jadi kalian berdua tidak boleh dan tidak bisa melakukan apapun," jelas papa Haris sembari membelai pipi putri kesayangannya dengan lembut.
"Terima kasih banyak, Pa."
Kania ingat kata abak dan bundo dari masa lalu, kalau seseorang tetap harus berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun beliau melakukan kesalahan besar karena pada dasarnya setiap manusia pernah berbuat salah dan mereka yang tidak dendam dan mudah memaafkan adalah ia yang paling baik akhlaknya.
"Papa, apakah Kania boleh menikah dengan Alex?"
Gadis belia yang masih SMA, baru berusia tujuh belas tahun seperti Kania, meminta papanya untuk memberikan izin kepadanya untuk menikah muda karena Kania ingat pesan-pesan abak dan bundo kalau obat terbaik bagi dua orang yang sedang jatuh cinta adalah menikah, agar tidak terjadi fitnah, selain itu Kania tidak ingin lagi berpisah dan kehilangan Alex karena bagi Kania, Alex adalah segalanya, lelaki yang baik yang mencintai Kania dengan segenap hati dan perasaannya.
"Sayang, kamu masih SMA, Nak, kamu dan Alex masih punya banyak waktu untuk kalian sekolah dan menggapai cita-cita, jadi kalian berdua tidak perlu tergesa-gesa untuk menikah," ujar papa Haris dengan lembut karena ia sangat tahu bagaimana sifat anak kesayangannya itu, apapun yang Kania inginkan pasti akan ia dapatkan, sama dengan papa Haris.
"Pa, jadi Papa tidak merestui hubungan Nia dengan Alex, Pa?"
Kania memasang ;wajah sedih, ia membelalakkan matanya namun tatapan itu berkaca-kaca, penuh dengan kekecewaan dan sejuta tanda tanya kepada papanya.
"Nak, Papa menyetujui dan merestui hubungan kalian berdua, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk kalian berdua menikah," jelas papa Haris sekali lagi.
Entah apa yang dipikirkan Kania, ia tiba-tiba saja ingin menikah, tapi satu hal yang Keyla ingan kalau tidak ada obat untuk dua orang yang saling mencintai selain menikan dan Kania ingin sekali menikah dengan Alex. Ya, walaupun mereka berdua masih SMA, namun sebentar lagi mereka akan ujian nasional dan akan lulus SMA. Kania merasa kalau ia sudah pantas dan sudah siap untuk menikah, begitu juga dengan Alex.
"Nak, Papa akan mengizikan kamu menikah dengan Alex ketika kalian sudah tamat kuliah, setidaknya kalian berdua telah dewasa dan telah memiliki banyak ilmu, karena berumah tangga tidak hanya saling mesra-mesraan tapi akan banyak cobaan dan rintangan yang akan kalian lewati nantinya," ujar papa Haris.
Keyla merasa aneh dengan semua yang dikatakan papanya, entah mengapa rasanya sangat mengganjal dan Kania tidak suka dengan saran papanya. Bagaimana mungkin waktu itu papanya meminta ia menikah dengan om Galih, sementara sekarang beliau malah melarang Kania untuk menikah.
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kamu bersiap-siap karena kita akan bertemu dengan Alex. Kamu kangen 'kan sama Alex?"
Papa Haris memotong pembicaraan Kania, seolah tidak ingin sang putri melanjutkan ucapannya, sama seperti biasanya, sang papa selalu bersikap egois dan memaksakan pendapat dan keinginan sendiri tanpa memikirkan pendapat dan perasaan Kania.
"Baiklah, Pa."
Kania mengalah, ia menurut kepada papanya, karena ia juga memang sangat mencintai dan menyayangi papanya dengan segenap hati dan perasaannya, apalagi saat ini tujuan papanya adalah untuk membuat ia dan Alex bertemu, bagaimana mungkin Kania akan menolak. Semua rindu telah tertanam di dalam hati, semakin hari semakin membesar dan obat dari rindu hanyalah bertemu, yaitu bertemu degan ia yang dirindukan.
Papa Haris membantu Kania menaiki kursi roda, kemudian beliau mendorong kursi roda itu menuju kamar yang memang telah disiapkan untuk merawat Kania dan juga Alex.
Dak ..., dik ..., duk ....
Perasaan Kania berdetak tidak menentu, ia seperti pertama kali bertemu dengan Alex, hingga seluruh tubuhnya merasa menggigil, bukan karena kedinginan tetapi karena gugup.
Kania meletakkan tangannya di dada, kemudian memejamkan matanya, ia mencoba menenangkan hati dan perasaannya sendiri untuk bersikap biasa dan tidak berlebihan.
'Kania, tenang, kenapa malah grogi seperti ini?' ucap Kania di dalam hati.
Perlahan kepingan-kepingan kenangan kembali muncul di dalam benak Kania, ia ingat pertama kali ia bertemu dengan uda Syamsul di Ranah Minang, seluruh tubuhnya gemetar bahkan ia ingin terbang saja agar bisa menghindar dari uda Syamsul waktu itu, dan kini ia kembali merasakan perasaan serupa kepada kekasihnya sendiri.
"Kania, Sayang, kamu kenapa, Nak?"
Beberapa kali papa Haris memanggil-manggil nama putri kesayangannya, itu namun Kania tidak menyahut, ia masih terbuai dalam khayalan dan kerinduan akan masa lalu yang mungkin saja tidak akan pernah terulang kembali. Papa Haris pun akhirnya paham kalau putri kesayangannya itu sedang melamun dan memikirkan banyak hal, hingga beliau mencoba mengerti san memahami kondisi putri kesayangannya itu.
"Nia, kita sudah sampai di depan kamar, Nak," ucap papa Haris lembut dengan tangan yang beliau letakkan di pundak Kania, karena beliau sangat tahu kalau saat ini sang putri sedang melamun.
"Eh, iya, kenapa, Pa?" jawab Kania gugup.
Wajah Kania memerah, ia merasa malu dengan papanya, karena ia ketahuan melamun dan memikirkan banyak hal. Ada juga rasa yang menggelora di dalam hatinya, rasa rindu yang tersimpan sangat dalam untuk lelaki yang sangat dicintai dan disayanginya dengan segenap hati dan perasaan, lelaki baik yang satu-satunya menjadi kekasih dan sahabat Kania selama ini
"Sayang, apa Kania gugup bertemu dengan Alex?" tanya papa Haris layaknya seorang ayah yang sangat perhatian dan peduli kepada putri kesayangannya.
Papa Haris jongkok dan menatap ke arah putri kesayangannya itu sembari tersenyum tipis, pertanda beliau sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh putri kesayangannya saat ini.