
Kania tercengang, mulutnya menganga dan membayangkan banyak hal ketika Alex membawanya pulang ke apartemen padahal mereka berdua masih SMA dan mereka belum menikah.
"Alex?"
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Kania sebagai bentuk ungkapan kagetnya.
Kania hanya membayangkan dua hal, yang pertama rumahnya sudah tidak lagi ada dan yang kedua ia akan di usir dari rumah karena sikapnya.
Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi Kania, ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya sekarang kecuali menangis.
"Sayang, jangan menangis!" ucap Alex sembari menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi Kania.
"Apa aku telah di usir dari rumahku sendiri? Apa Om Galih yang melakukan semua ini?" tanya Kania dalam isak tangisnya.
Kaniaj marah bercampur sedih, namun tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain pasrah.
Kania ingat pesan bundo kalau ia harus tetap sabar dan menghadapi semuanya dengan kepala dingin.
"Kania, Om turut prihatin, tapi sebaiknya kamu lebih baik fokuslah mencari Papamu terlebih dahulu," ucap sang dokter di sela-sela tangis Kania sebelum meninggalkan ruang inapnya.
Alex merangkul Kania dan menjadi garda terdepan untuk menjaga Kania.
"Sayang, aku ingin kamu menceritakan semua yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri," pinta Kania dengan isak tangis dan rengekannya.
"Aku akan menceritakan semuanya setelah kita sampai di apartemen," jelas Alex.
"Tapi, aku tidak bisa pergi ke apartemen, kita belum menikah!" ujar Kania lagi dengan kegelisahannya.
Kania ingat di Ranah Minang kalau seorang wanita dan laki-laki yang belum menikah benar-benar sangat dijaga untuk tidak berdua-duaan agar tidak terjadi fitnah dan godaan setan.
"Kania, aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu, aku juga tahu batasan untuk hubungan kita. Namun, saat ini kamu akan kemana? Rumahmu di sita dan aku tidak tahu Papamu di mana. Perusahaanmu saat ini juga dikuasai oleh Pak Galih. Papaku sebagai sekretaris Papamu bahkan tidak diizinkan masuk ke perusahaan," jelas Alex.
"Sayang, tolong bantu aku dan dampingilah aku. Aku ingin mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Namun, saat ini yang ingin aku lakukan terlebih dahulu adalah menemukan Papa," ujar Kania.
Kania ingin mengambil kembali apa yang menjadi miliknya tanpa harus menikah dengan om Galih. Kania juga akan kembali ke masa lalu untuk menyelesaikan misinya agar hidupnya di masa depan juga berubah.
"Tapi, kita perlu strategi untuk melawan Pak Galih," ujar Alex.
Alex adalah pria yang sangat cerdas dan ia sangat tahu sekali kalau pak Galih adalah orang yang sangat licik dan tidak mudah dilawan kecuali dengan strategi yang sangat tepat.
"Iya, aku tahu, tapi kita berdua tidak mungkin berada dalam satu rumah bersama, kita belum menikah kita bukan mukhrim!"
Kania menyampaikan apa yang terasa di hatinya, perasaan yang belum pernah diungkapnya sebelumnya. Sesuatu yang ia pelajari dari Ranah Minang, tentang adat istiadat dan sopan santun serta pedoman hidup berdasarkan al-qur'an dan hadist.
"Kania, Sayang!"
Alex merasa heran dengan kata-kata yang keluar dari lisan Kania. Seolah bukan Kania yang berbicara.
Alex sangat mengenal Kania dan ia sangat tahu sekali bagaimana sifat Kania selama ini, pengetahuan agama Kania sangat kurang dan Alex sering mengajari Kania, namun keegoisan dan sifat keras kepala Kania membuat ia sulit menerima ilmu agama.
"Kania, aku punya dua apartemen dan lokasinya bersebelahan, kita tidak tinggal bersama," jelas Alex.
Kania mengurut dadanya, seolah lega dengan apa yang disampaikan oleh Alex.
Selama mereka menjadi pasangan kekasih, Kania sekalipun tidak diizinkan oleh Alex berkunjung ke apartement-nya, karena menghindari fitnah. Apalagi mereka menjalankan hubungan tersembunyi karena kedua orang tua mereka adalah atasan dan sekretaris. Lagian Alex adalah tipe lelaki yang sangat baik yang sangat menjaga dan menghormati wanita yang dicintainya. Ia juga sangat memuliakan orang tuanya, namun sejak ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu, ia terpuruk dan merasa sendirian. Ia kesepian karena sang papa sibuk dan hanya Kania seorang yang ia miliki saat ini.
"Sayang ...!"
"Kalau begitu, aku akan mengurus administrasi dulu, kamu istirahatlah, Sayang!" ujar Alex sembari mengacak-acak rambut Kania.
"Sayang, kenapa sih kamu hobi banget mengacak-acak rambutku," protes Kania sembari memanyunkan mulutnya kepada Alex.
Alex tersenyum dan merasa sangat bahagia karena bisa melihat senyum dan sifat manja dari kekasihnya.
"Ya udah, Sayang, kamu tunggu di sini ya!" ujar Alex sembari tersenyum.
Alex meninggalkan ruang rawat inap Kania dengan senyum semeringah di wajahnya, sementara Kania saat ini tengah membereskan semua barang-barangnya sebelum kembali pulang.
Kania kemudian melihat ponselnya, ponsel yang selalu ada di saku celananya baik di dunia masa lalu maupun di masa depan.
Kania mencoba menghubungi papanya, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Khawatir!
Kania merasa sangat takut jika terjadi hal yang buruk kepada papanya.
Kania kemudian mengirimkan pesan si singkat kepada papanya.
"Papa, Kania rindu!"
Hanya itu kata-kata singkat yang Kania kirimkan kepada papanya, berharap papanya membalas atau menghubunginya.
'Abak, Bundo, bersabarlah! Kania akan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah di masa lalu dan masa depan,' ujar Kania di dalam hati.
Selang beberapa menit kemudian, Alex datang dengan senyum semeringah di wajahnya.
"Sayang, segala administrasi telah di urus, bagaimana kalau kita pulang sekarang?" ujar Alex lembut.
Kania mengangguk karena ia telah menyerahkan semuanya kepada Alex, ia percaya lelaki yang sangat dicintainya itu akan melakukan yamg terbaik untuknya.
Alex mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Kania, dan tanpa pikir panjang, gadis cantik itu langsung mengikuti Alex dengan senyum semeringah di wajah cantiknya.
Ya, kerinduan Kania akan kekasih hatinya itu akhirnya terobati juga dan untuk waktu yang ada sekarang Kania ingin menghabiskan waktu-waktu terindahnya bersama Alex sebelum ia kembali ke masa lalu.
"Sayang, rasanya saat ini kamu terlihat seperti Kania yang sangat berbeda, jauh lebih dewasa," ujar Alex di sela-sela perjalanan mereka menuju loby rumah sakit.
"Banyak hal yang ingin aku ceritakanh kepadamu, dan mungkin saja penjelasanku tidak masuk akal. Tapi, aku juga bingung akan mulai menceritakannya dari mana," jawab Kania di dalam hati sembari menengadahkan wajahnya menatap Alex yang berjalan di sampingnya.
"Sayang, apa aku setampan itu hingga kamu terus menatapku tanpa menjawab pertanyaanku?"
Alex membuyarkan lamunan Kania. Ya, apa yang dikatakan oleh Alex tidak ada yang salah karena lelaki itu memang sangat tampan dan sangat dicintai oleh Kania.
"Aku mencintaimu, Alex!"
Kata-kata yang keluar dari lisan Kania membuat Alex bergetar dan tersipu malu, wajahnya memerah dan dengan senyum merekah di wajahnya.
Kanka adalah wanita yang sangat jarang sekali mengatakan kata-kata cinta kepada kekasihnya itu selama ini, hanya Alex saja yang selalu mengatakan kata-kata cinta untuknya.
Alex benar-benar merasa heran dengan sikap kekasihnya. Ia melepaskan tangan Kania dan menatap mata gadis cantik yang ada di depannya itu dengan seksama.
"Kania, ini beneran kamu 'kan?"