WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Harapan Siti



Melihat semangat Kania, Siti menjadi tersenyum bahagia, karena ia melihat ketulusan di masa depannya.


"Kalau begini aku bisa pergi dengan tenang," ucap Siti dengan nada sedih dan wajah yang ditundukkan.


"Siti, kenapa kamu terlihat sedih? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Kania.


Kania juga ingin Siti berbahagia dan tidak lagi menangis, karena air mata Siti terlalu berharga untuk mengeluarkan air mata kesedihan.


"Kania, jujur, aku sangat ingin sekali membantu Abak dan Bundo melunasi seluruh hutang-hutang kepada Datuak Maringgih," jelas Siti.


Kania seolah merasakan kesedihan yang saat ini Siti rasakan. Kania juga sangat ingin sekali membebaskan Siti dan keluarganya dari jeratan hutang, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


"Kania, nanti setelah aku tiada, tolong jaga Abak dan Bundo sampai keduanya juga meninggalkan dunia ini," mohon Siti.


Seperti seseorang yang akan pergi untuk selamanya, Siti meminta Kania untuk menjaga kedua orang tuanya sekaligus meminta bantuan untuk melunasi seluruh hutang agar orang tua Siti, agar mereka bisa bebas dari penjara datuak maringgih.


"Siti, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu berkata yang tidak-tidak seperti itu? Kamu akan hidup lama dan menjaga kedua orang tuamu untuk waktu yang lama," ucap Kania dengan kekhawatiran yang ia bawa bersamanya.


"Kania apakah kamu tidak mau merawat Abak dan Bundo untukku?"


Siti terlihat sedih dan sangat kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Kania. Namun, Kania tidak mempunyai maksud untuk menolak keinginan Siti, karena kedua orang tua Siti telah dianggap oleh Kania sebagai orang tuanya sendiri.


"Siti, kita berada di dua dimensi waktu yang berbeda. Aku tidak bisa datang dan pergi semau ku ke masa lalu dan masa depan. Andai aku dibiarkan berada di masa lalu, maka aku akan menjaga Abak dan Bundo tanpa kamu minta. Akan tetapi, jika aku berada diasa depan dan tidak diperkenankan lagi untuk kembali ke masa lalu, maka aku harus bagaimana? Lagian aku juga Papa yang juga harus kujaga," jelas Kania memberikan pengertian kepada Siti agar gadis itu mengerti.


Sementara itu, Siti terdiam, seolah mencerna apa yang dikatakan oleh Kania kepadanya.


"Kania, apakah kamu tidak bisa tetap berada di masa lalu saja?"


Dengan penuh harap, Siti memohon kepada Kania untuk tetap berada di masa lalu, menjaga abak dan bundo selama tidak ada Siti, hingga akhir hayat.


Bukannya Kania tidak ingin, hanya saja keinginan Siti itu terlalu mustahil untuk dikabulkan oleh Kania, karena Kania juga punya papa dan masa depan yang menunggunya. Kania punya impian dan ia akan segera menikah dengan Alex jika sudah waktunya.


"Siti, bukankah kamu ingin bahagia? Bukankah kamu memintaku untuk berbahagia?"


Kania menggenggam tangan Siti dan menatap mata yang berkaca-kaca itu. Kania menghapus air mata Siti dan berusaha meyakinkan Siti tentang apa yang menjadi keputusannya saat ini.


"Iya, aku ingin diriku di masa depan berbahagia, tapi penyesalanku di masa lalu salah satunya adalah meninggalkan kedua orang tuaku dalam tangisan dan air mata."


Dengan wajah sedih dan mata yang tadinya berkaca-kaca, Siti mengungkapkan perasaan dan penyesalan hatinya.


"Siti, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Apakah yang terjadi kepadamu di masa lalu? Kamu jadi menikah dengan Datuak Maringgih bukan?"


Kania penasaran tentang kesedihan yang dialami oleh Siti. Jika wanita itu jadi menikah dengan datuak Maringgih seperti yang terdapat dalam dongeng dan film Siti Nurbaya yang pernah Kania tonton, otomatis kedua orang tua Siti akan dibebaskan dari sekapan. Akan tetapi, tangisan dan air mata yang keluar dari mata Siti terlihat berbeda, seolah ada beban berat yang membuat Siti menyesal dengan apa yang telah terjadi.


"Siti, jujur sama aku, sebenarnya apa yang terjadi?"


Kania menatap tajam mata Siti, namun gadis itu memalingkan wajahnya dari Kania, seolah ingin menyembunyikan sesuatu.


Entah apa yang sebenarnya terjadi membuat Kania semakin penasaran dan ingin tahu banyak Hal.


Kania kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Siti.


"Siti, tatap mataku!"


Dengan nada suara tinggi, Kania meminta Siti menatap matanya. Akan tetapi gadis itu tetap tidak menatap Kania.


Kania tidak suka masa lalunya lemah dan menangis tanpa alasan yang jelas seperti itu.


"Siti, angkat wajahmu, sekarang!"


Bentakan Kania membuat Siti menurut. Siti mengangkat wajahnya secara perlahan dengan air mata yang telah bercucuran membasahi pipinya.


"Kania, maafkan aku!" ujar Siti dengan nada suara terbata-bata dalam isak tangisan.


Kania tidak tega, ia merasa iba dengan air mata yang jatuh membasahi pipi Siti, ia seolah merasakan kesedihan Siti, hingga tanpa ia sadari air mata pun membanjiri pipi Kania.


'Kenapa aku ikut-ikutan menangis?' ucap Kania di dalam hati dengan dada yang terasa sangat sesak sekali.


"Kania, jika kamu kembali ke masa lalu, maka masuklah ke kamarku, bukalah lemari pengantin karena aku meninggalkan sepucuk surat," ucap Siti dalam isak tangisnya.


Kania benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Siti, namun Kania merasakan sebuah masalah besar telah terjadi dan penyesalan saat ini menghantui Siti.


"Siti, jelaskan kepadaku, sebenarnya apa yang terjadi?" bentak Kania dengan mata yang memerah dan berair.


"Maaf, Kania, waktuku telah habis, aku harus pergi!"


Siti membalikkan badannya dari Kania, kemudian berlari meninggalkan Kania sendirian.


"Siti, tunggu! Jangan lari dari masalah!"


Teriakan Kania tidak dihiraukan oleh Siti, ia terus berlari meninggalkan Kania. Sementara Kania berusaha mengejar Siti, akan tetapi secara perlahan bayangan Siti menghilang.


"Siti ...!" teriak Kania hingga ia membuka matanya kembali.


"Astagfirullahalazim," ucap Kania ketika ia bangun dari tidurnya.


Mata Kania telah berair dengan keringat dingin.


"Ternyata aku bermimpi," ucap Kania sembari memegang dadanya yang berdetak sangat kencang.


Kania menatap kesebelahnya, ia melihat Alex juga tengah terbaring.


"Sayang ..., Sayang ..., bangun!"


Kania memanggil-manggil nama Alex sembari menepuk-nepuk lembut pipi kekasihnya itu.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi kepada kita? Kenapa kamu ikut-ikutan tidak sadarkan diri seperti ini? Bangun, Sayang, jangan tinggalkan aku!"


Kania berteriak, ia menangis hingga air matanya jatuh membasahi pipi kekasihnya itu, hingga lelaki tampan itu tersadar.


Perlahan air mata Kania membuat Alex tersadar dan membuka matanya.


"Sa-Sayang, apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?"


Alex mengangkat tangannya secara perlahan, kemudian menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi Kania.


"Alhamdulillah, kamu kembali, Sayang."


Kania langsung memeluk Alex dengan erat, ia merasa sangat senang sekali karena kekasih hati yang sangat dicintainya itu kembali sebagai Alex yang sesungguhnya, bukan sebagai Syamsul, dan itu membuat Kania merasa lega karena ia tidak sendirian sekarang.