WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Mengenang Masa Lalu



Kecuali hanya diam di ranjangnya.


"Bi, apakah luka Alex juga sangat parah?"


"Iya, Nona, bahkan keadaannya lebih parah dari pada Nona tapi keberuntungan membuat ia lebih dahulu sadar dari pada Nona."


"Apakah Papa tidak marah jika Alex menelpon Kania, Bi?"


"Tidak, Non, Tuan Haris telah setuju dengan hubungan Non dengan Tuan Alex karena sekarang yang terpenting untuk Tuan adalah kebahagiaan Nona."


Kania tidak percaya jika sang papa benar-benar telah berubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, bahkan ia lebih perhatian kepada Kania, karena mungkin sebuah kesalahan yang membuat sang papa menyesal atas apa yang telah ia lakukan kepada putri kandungnya sendiri.


"Benarkah Papa sekarang tidak marah jika Alex menelpon Kania, Bi?"


Kania bersemangat, energi yang selama ini tersimpan saat ia tidur panjang akhirnya kini tertumpah juga.


"Non, jika Nona tidak percaya sama Bibi, nanti Nona tanyakan saja kepada Tuan ya?'


Bibi tersenyum tipis namun tergambar jelas sekali sebuah keikhlasan, terlihat sekali wajah yang penuh dengan kerutan itu tidak mungkin membohongi Kania.


'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semuanya masih sama? Kenapa sekarang aku terus terbayang-bayang dengan bayangan masa lalu?' batin Kania ingin menanyakan banyak hal yang mebuat ia penasaran dengan penasaran yang teramat sagat.


Ingin sekali sekarang Kania berdiskusi dengan Alex tentang apa yang terjadi kepadanya di masa lalu dan di masa depan, termasuk perubahan papanya yang tiba-tiba baik dan membatalkan pernikahan dengan om Galih si tua bangka, namun Kania belum bisa bergerak dan pergi kemana-mana karena saat ini kondisinya juga masih lemah dan dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali.


"Kania, Nia, kamu sudah sadar, Nak?"


Terdengar oleh Kania dari luar kamarnya, suara sang papa terdengar bercampur aduk, mulai dari kebahagiaan sampai rasa khawatir yang sangat berlebihan.


Kania memandang ke arah pintu, menunggu sang papa untuk masuk ke kamarnya dan melihat apa yang terjadi setelah ia koma.


Kania terus memandang ke arah papanya, sosok yang dulu berisi itu terlihat sangat kurus sekali, bahkan papa Haris terlihat seperti orang yang menderita.


"Kania, Papa rindu!"


Papa Haris langsung menghampiri Kania. Tas kerja yang ada di tangannya dijatuhkan ke lantai secara sengaja, matanya berkaca-kaca seperti air mata hampir saja tercurahkan.


Papa Haris langsung memeluk putri kesayangannya dengan penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus sekali.


"Nak, Papa senang sekali, akhirnya kamu sadar, kamu bangun."


Air mata papa Haris jatuh membasahi pipinya, ia tidak kuasa menahan air mata itu karena terharu dan senang melihat putri kesayangannya akhirnya membuka mata setelah lebih dari dua bulan tidak sadarkan diri. Perlahan air mata itu menetes membasahi pipi Kania, air mata yang terasa hangat sengat cinta dan kasih sayang sang papa kepada anak kesayangannya.


Kania hidup dengan dunianya sendiri, dengan uang yang diberikan oleh papanya. Kania bersenang-senang dan sesekali datang ke kantor untuk melaksanakan tugasnya sebagai pewaris tunggal kekayaan orang tuanya.


Kania menikmati kebahagiaan dengan membeli kasih sayang dari teman-temannya, ia suka membelanjakan teman-temannya agar mereka mau menjadi pengikut Kania, sehingga Kania tidak memiliki seorang teman pun yang tulus berteman dengannya, kecuali Alex sang kekasih yang menjadi teman, sahabat dan keluarga untuknya.


'Apakah ini mimpi? Apakah Papa benar-benar memelukku?' ucap Kania di dalam hati.


Kania merasakan ketulusan dari pelukan itu, hingga air mata pun mengalir membasahi pipi Kania. Ia merasa sangat senang dan bahagia sekali karena sang papap akhirnya bisa baik dan berdamai dengannya.


Kania selama ini memang terkesan tidak peduli dengan papanya, namun jauh dari lubuk hati yang paling dalam Kania sangat mencintai dan menyayangi papanya, bahkan Kania selalu berdoa agar suatu saat hubungannya dengan sang papa membaik.


"Nak, Papa minta maaf atas semua yang terjadi antara kita, Papa berjanji tidak akan lagi memaksakan kehendak Papa kepadamu, Nak, apalagi dengan sesuatu yang merugikan kamu, Sayang."


Kata-kata maaf yang penuh dengan penyesalan keluar dari lisan papa Haris, beliau berharap sang anak memberikan maaf kepadanya dan beliau berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa menebus kesalahan dan membuat sang putri kesayangan bahagia selalu.


Kania mendengar papanya menangis terisak, seolah penyesalan itu membuat dada sang papa terasa sesak.


"Papa, Kania sudah memaafkan Papa kok."


Ingin sekali Kania menyampaikan banyak hal kepada papanya, termasuk kebahagiaannya kerena bisa dipeluk oleh papanya, namun entah mengapa lidah Kania terasa sangat kaku sekali hingga yang keluar dari lisan Kania hanya beberapa kata saja.


Kania senang dan merasa sangat bersyukur sekali atas semua nikmat yang Tuhan berikan kepadanya karena Tuhan menjawab semua doa-doanya.


Kania merasakan kembali pelukan dari papanya, pelukan yang terasa sama dengan pelukan abak, hingga Kania merasakan kerinduan kepada abaknya.


'Jika semua yang terjadi kepadaku adalah mimpi, kenapa aku merindukan pelukan Abak? Aku tidak mungkin berkhayal bukan?' ucap Kania di dalam hati sembari bertanya kepada dirinya sendiri.


"Kania, Papa akan melakukan apa saja yang Kania mau sekarang asal itu untuk kebaikan Kania," ucap sang papa yang menyadarkan Kania dari lamunannya akan abak.


Kata-kata yang diucapkan oleh papanya sama persis dengan yang disampaikan oleh abak di masa lalu, bahwa beliau akan melakukan apapun untuk putri kesayangannya asalkan putri kesayangannya bahagia.


'Ya Allah, apakah ini makna dan hikmah dari kembalinya aku ke masa lalu? Apakah kehidupanku berubah di masa depan karena doa Siti dan kedua orang tuanya di masa lalu agar kehidupanku di masa depan menjadi lebih baik di masa lalu?'


Kania mencoba menerka-nerka dan menjawab sendiri pertanyaan yang ditanyakannya pada dirinya sendiri. Kania merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun satu hal yang Kania tahu sekarang, kalau ia bersyukur karena Tuhan benar-benar baik kepadanya, mengembalikan ia ke masa dengan dengan papa yang berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.


"Papa," ucap Kania yang kemudian menjeda ucapannnya.


Papa Haris menelapaskan pelukannya dari Kania, lelaki paruh baya itu duduk di kursi dan menatap ke arah Kania.


Papa Haris membelai rambut Kania dengan lembut, menatap wajah putri kesayangannya dengan seksama. Wajah yang sudah lama tidak beliau lihat dengan cinta ternyata kini telah dewasa dan cantik sekali.