WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Ancaman Tua Bangka



"Bi, ini ponsel siapa? Ini bukan milik Kania."


Kania merasa tidak pernah membeli ponsel itu dan yang Kania ingan itu bukan ponsel yang ia gunakan di masa lalu.


"Non, HP Nona sudah rusak, hancur dan terpecah belah pada saat kecelakaan bersama dengan mobil, jadi ponsel Nona yang lama sudah tidak bisa lagi digunakan," jelas sang bibi.


'Apakah semua yang terjadi padaku sebelumnya hanyalah mimpi panjang saat aku dalam keadaan koma?' ucap Kania di dalam hati.


Kania sekarang tidak bisa membedakan dan mencerna apa yang terjadi kepadanya, semua kejadian dan kembalinya Kania ke masa lalu seperti nyata dan benar-benar Kania alami, bahkan samapai terakhir tentang rencana pernikahan Kania dengan Alex juga terasa sangat nyata. Namun, ada hal yang membingungkan Kania, dalam ingatannya ia koma 6 bulan tapi setelah ia sadar sekarang semua orang mengatakan kalau ia koma tiga bulan.


Kania berpikir panjang, dan sebanyak apapun ia memikirkannya, tetap saja ia tidak menemukan jawaban apapun atas apa yang terjadi kepadanya.


'Apakah sebenarnya aku masuk ke lorong waktu dan berhasil mengubah masa lalu, dan saat aku terbangun semuanya berubah hingga hubunganku dengan Papa kembali membaik?' tanya Kania pada dirinya sendiri.


Kania bingung dan sangat pusing, hingga ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Non, ini HP-nya."


Ucapan bibi membuat Kania tersintak dan tersadar dari lamunannya.


"Eh, i-iya, Bi," ucap Kania gugup.


"Non, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kepala Non gatal? Apa karena sudah lama tidak keramas ya?"


Dengan polosnya, bibi mengatakan kalau Kania sudah lama tidak mandi hingga rasa gugup Kania berganti dengan senyuman. Ya, Kania benar-benar merasa sangat terhibur dengan kepolosan sang bibi.


"Non, kenapa malah ketawa?"


Bibi heran dengan tingkah Kania karena berubah menjadi tertawa sendiri. Namun, bibi merasa sangat senang sekali karena ia bisa melihat senyum Kania kembali, senyum manis yang membat wajah Kania terlihat sangat cantik dan berbinar.


"Tida apa-apa kok, Bi, Kania hanya merasa senang akhirnya Kania bisa mendengarkan lelucon Bibi lagi," jelas Kania sembari mengambil ponsel yang ada di tangan bibi.


"Bi, Kania ingin menghubungi Alex, boleh 'kan, Bi?"


Bibi tersenyum kemudian mengangguk, karena papa Haris sekarang sudah mengizinkan Kania untuk berhubungan dan menjalin cinta dengan Alex secara terang-terangan.


"Bi, Kania senang sekali, karena sekarang Kania bisa bertemu dan berkomunikasi dengan Alex setiap hari," ujar Kania dengan senyum indah yang merekah di wajah cantiknya.


"Bibi juga merasa sagat senang sekali, karena Nona bisa kembali sadar dan berubah menjad manusia yang lebih baik sekarang. Tapi, hanya satu pesan Bibi, kalau Non tidak boleh lagi bersikap sombong dan angkuh seperti dulu, Non harus menjadi wanita baik yang dekat dengan Allah," ucap Kania lembut dan terdengar sangat tulus sekali.


"Aduh, anak kesayangan Papa lagi ngomongin apa sih sama Bibi sampai lupa kalau Papanya mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah."


"Papa, maaf, Pa, Kania terlalu bersemangat," balas Kania dengan memasang wajah cerianya.


"Lagi ngomongin apa sih?" tanya papa Haris penasaran melihat kedekatan putri kesayangannya dengan seorang pekerja yang bekerja di rumahnya.


"Tidak ada, Pa, Kania hanya ingin berbagi pengalaman dan cerita bersama Bibi," ucap Kania dengan nada suara yang masih lemah.


Hmmmm ....


Papa Haris menarik nafas panjang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia merasa sangat senang karena putrinya bisa akrab dengan bibi. Ya, setidaknya Kania memiliki teman berbagi dan bercerita tentang banyak hal.


"Kania ingin video call dengan Alex, Pa, tapi ini bukan HP Kania."


Kania memberikan ponsel baru yang sama sekali belum ada kontak siapapun disana.


"Sayang, ini adalah HP kamu, Papa yang membelikannya untuk Kania, jadi Kania bisa berkomunikasi dengan Alex dengan menggunakan HP ini."


Papa Haris meminta Kania memakai ponsel itu karena ponsel itu adalah pengganti ponsel Keyla yang telah rusak.


"Pa, serius ponsel Kania yang lama sudah rusak dan hancur berantakan?"


Kania ingin memastikan kalau apa yang dikatakan oleh bibi benar adanya, karena Kania masih belum yakin dengan kejadian misterius yang terjadi padanya, selain itu ponsel lama Kania berisi tentang semua kenangannya di masa lalu.


"Sayang, untuk apa Papa berbohong, jadi sekarang kamu terima hadiah dari Papa ya, Nak."


"Baik, Pa, terima kasih banyak, Pa."


Kania akhirnya menerima ponsel itu, ia tidak punya pilihan lain selain mengambilnya karena ia ingin sekali segera berhubungan dengan Alex, sang kekasih yang sangat ia sayangi dan cintai dengan segenap hati dan perasaannya.


Ya, Kania menekan keybord ponselnya, menekan nomor HP yang masih ia ingat sampai sekarang, nomor Alex sang kekasih hatinya.


Tiga kali panggilan tidak terjawab, tidak ada yang mengangkat. Sungguh membuat Kania merasa sangat kecewa.


'Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sayang? Kenapa kamu mengabaikan panggilan dariku? Apakah kamu sudah melupakan aku? Apakah kamu tidak mencintaiku lagi?'


Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Kania, karena kerinduannya kepada Alex masih tertahankan.


Kania meletakkan ponselnya kembali di ranjang, wajahnya lansung berubah sendu, ia terlihat tidak bersemangat sama sekali.


"Sayang, apa Alex tidak mengangkat teleponnya?"


Papa Haris bertanya kepada putrinya untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


Kania hanya diam, tidak menjawab pertanyaan papanya sama sekali, karena ia merasa sangat sedih dan kecewa.


"Sayang, Papa yang hubungi Papanya Alex ya."


Papa Haris mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian memencet tombol memanggil sekretaris pribadinya. Beliau menanyakan keadaan dan keberadaan Alex kepada papanya.


"Sayang, Alex sedang tidur, ia baru saja selesai makan dan meminum obat," ucap papa Haris sembari memperlihatkan foto Alex yang saat ini sedang lelap tertidur di ranjang rumah sakit.


Kania menatap foto itu, kekasih yang sangat ia cintai dengan segenap jiwa dan perasaan saat ini sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Ya, walaupun saat ini sedang lelap tertidur, tetap saja Kania bisa melihat kalau Alex sedang merasakan sakit dari seluruh tubuhnya, keadaan yang sama dengan apa yang Kania alami sekarang.


"Pa, apakah Alex sudah lama berbaring seperti itu?" tanya Kania dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi cantiknya.


Kania tidak sanggup melihat lelaki yang sangat dicintainya itu kesakitan, bahkan Kania ingin menggantikan posisi Alex, biarlah ia yang menanggung semua sakit asalkan Alex sehat seperti yang terdapat dalam mimpinya.


'Andai, aku punya obat yang bisa menyembuhkan seseorang dalam hitungan detik seperti yang terjadi padaku di masa lalu,' ucap Kania di dalam hati sembari memikirkan banyak hal.