
"Bukannya Uda udah balik ke sawah, Bun?" tanya Kania dengan nada suara yang masih parau.
"Iya, Nak, tapi kata Uda, setelah Ranti pulang sekolah kita berangkat. Sekalian Uda jemput istrinya dulu," jelas bundo.
"Ya udah kalau gitu, Bun. Nia juga udah lama nggak jalan-jalan sama Ranti kan, Bun? Nia udah kangen banget sama ponakan cantik Nia yang selalu ceria itu."
"Iya, Nak, Bundo juga."
"Oh iya Bu, kita masak cemilan yuk. Kita bikinin makanan kesukaan Ranti. Biar Nia yang bikin deh, Bun." Ucap Kania sembari memijit pundak Bundo.
"Emang kamu bisa, Nak? Bukannya kamu anti banget ya sama yang namanya dapur?"
Canda dan apa yang bundo katakan memang benar adanya.
"Jangan salah-salah, Bun, kalau cuma masak puding coklat doang mah kecil, Bun."
"Alah, gayamu, Nak. Masak air aja hangus." Kali ini bundo tertawa sangat lepas.
"Bundo, Nia bisa ya." Kania menggelitik pinggang bundo sehingga mereka berdua tertawa sangat lepas.
"Aduh, Nak, kok malah ngerjain Bundo sih? Hayo katanya mau bikin puding coklat, ngak jadi? Bentar lagi Ranti datang lo." Bundo mengingatkan Kania.
"Habis, Bundo nggak percaya banget sama Nia, kalau puding aja mah kecil, Bun. Santai!"
"Ya udah buktiin dong, Nak." Tantang bundo.
"Oke, Bun. Cheff Nia beraksi." Tingkah Kania semakin membuat bundo tertawa lepas. Kania bahagia bisa membuat bundo tertawa lepas seperti itu dan Kania berharap setelah ini tidak akan ada lagi air mata di mata bundo.
"Nak, Cheff itu apa?" Bundo penasaran dengan kata-kata Kania yang terasa asing di telinga beliau.
"Juru masak dalam bahasa Inggris dinamakan Cheff, Bun," jelas Kania.
Bundo mengangguk-angguk pertanda paham.
"Kalau masak itu harus pake cinta dan perasaan ya, Nak. Biar rasanya juga enak." Ucap bubdo yang tengah asik memperhatikan Kania memainkan kemampuan memasaknya.
"Bundo ada-ada saja, emangnya masak pake perasaan. Emangnya pacaran, Bun?" tawa Kania semakin terbahak-bahak.
"Itulah kamu, Nak. Dibilangin malah ngak percaya. Awas aja ya nanti nanya-nanya sama Bundo." Bundo memainkan trik manyunnya.
"Jadi Bundo nggak mau ngajarin Nia ya, Bun? Kalau gitu nanti cucu pertama kesayangan Bundo nggak jadi dong, makan puding coklat yang enak."
"Kamu bisa aja, Nak. Kalau gitu Bundo bantuin bikin ya!" Bundo melangkahkan kaki menuju dapur.
"Bundo, Stop!" Ucap Kania dengan gerakan tangan ke depan.
"Apaaan sih, Nak. Ngagetin aja, tanggung jawab kalau jantung Bundo copot."
"Maaf, Ibu, maaf, Nia nggak ada maksud ngagetin kok. Nia cuma minta Bundo duduk manis saja disana, biar cheff Nia yang bereaksi. Bundo cukup perhatikan saja dari jauh."
"Gayamu lagi, Nak. Udah kayak cheff beneran aja." Bundo geleng-geleng kepala melihat tingkah Kania putrinya dari masa depan yang tengah bereaksi membuatkan cemilan untuk sang cucu kesayangan beliau.
Begitulah Tuhan mengatur jalan hidup terbaik untuk hamba-Nya, dalam sesaat air mata bisa berganti senyuman karena Tuhan menciptakan ibu sebagai malaikat pelindung yang akan selalu ada dalam suka dan duka, seseorang yang menjadi garda terdepan dalam segala hal. Tuhan juga menciptakan ayah sebagai malaikat tempat mengadu dan berkeluh kesah, seperti sandaran yang menopang setiap duka lara. Begitu juga dengan saudara, pelangkap dari semua pelindung yang dikirimkan Tuhan ke dunia. Tidak salah pepatah yang mengatakan, "Harta yang paling berharga adalah keluarga," karena memang keluarga adalah segalanya. Bahkan, disaat seluruh dunia meninggalkan kita maka keluarga akan tetap ada bersama kita.
"Nak, bagaimana dengan kabar Syamsul?" tanya bundo.
Kania kembali mengingat, kejadian beberapa hari yang lalu.
Ya, sebulan sudah sejak kepergian abak sebulan juga Kania berada di masa lalu, tidak lagi ada kabar tentang Alex dan tidak ada juga kabar tentang Syamsul. Entah apa yang terjadi dengan dua orang itu, tidak ada pesan dan kabar apapun dari keduanya.
Kania juga telah berusaha menghubungi dari posel dan memberikan kabar kepada Syamsul tentang keadaannya saat ini dan tentang kepergian abak, akan tetapi ponsel tidak lagi berfungsi di masa lalu. Ya, sampai saat ini nomor Alex sudah tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan Syamsul, Kania berusaha datangi rumah dan sawah tempat biasa Syamsul bekerja, bahkan mengirimkan surat ke alamat yang orang tua Syamsul berikan di pulau Jawa, namun lelaki itu juga tidak merespon sama sekali. Entah apa yang terjadi, dua lelaki itu benar-benar telah mengecewakan dan mematahkan hati Kania.
“Assalamualaikum, Bundo,” sapa Kania kepada bundonya Syamsul.
“Waalaikumsalam, Nak Gadis,” jawab bundo Syamsul ramah sembari tersenyum kepada Kania.
“Rajin banget, Amak,” ucap Kania sembari mendekati amaknya Syamsul yang tengah menata tanaman hiasnya.
“Maklumlah ibu-ibu, ya beginilah kerjaannya.” Amak Syamsul tersenyum bersemangat memamerkan tanaman hiasnya.
“Gimana kabarnya, Bundo? Makin cantik, makin awet muda kayaknya.”
“Bisa aja kamu mujinya, Nak.” Senyum amak semakin merekah.
“Oh iya, Bun, sebenarnya Siti ke sini mau nanya sesuatu sama Amak. Siti boleh bertanya kan, Mak?” pinta Kania dengan penuh harap.
“Mau nanya apa, Nak Siti?” tanya amak Syamsul penasaran.
Tidak ada yang tahu tentang berita kematian Siti, karena gadis cantik itu meninggal di pelabuhan ketika ingin ikut bersama Syamsul ke pulau Jawa.
“Amak, Uda Syamsul merantau kemana ya, Mak? Sudah sebulan Siti tak lagi bisa menghubunginya, kata teman-temannya, dia juga telah jarang nampak sejak sebulan yang lalu, jadi Siti nggak tahu mau cari dia kemana, Mak.” Wajah Kania terlihat murung dan sedih, karena ada perasaan tidak enak di dalam hatinya tentang apa yang akan terjadi dengan hubungan Siti dan Syamsul.
“Syamsul sudah tidak tinggal di sini lagi sejak sebulan yang lalu, Nak. Amak juga tidak tahu dia kemana, yang jelas ia meminta izin untuk pergi merantau bersamamu, Nak."
“Siti tidak jadi ikut dengannya, jadi Siti tidak bisa menghubungi Uda Syamsul lagi, Mak. Apa Amak punya alamatnya? Mungkin dia mengirimkan surat, Mak?" tanya Kania penasaran mewakili Siti.
“Sebentar ya, Nak,” amak masuk ke dalam rumah dengan membawa selembar kertas surat dalam beberapa saat.
“Gimana, Mak, apakah ada alamatnya” tanya Kania penasaran.
“Ada, Nak,” amak mejelaskan.
“Boleh Siti minta alamatnya, Mak?” pinta Kania dengan nada bergetar, karena sedikit demi sedikit ia bisa memecahkan misteri kepergian Syamsul meninggalkan Siti.
“Ini Nak Siti,” amak Syamsul memberikan kertas itu kepada Siti.
“Terima kasih, Mak,” ucap Kania sembari tersenyum sangat manis sekali. Senyum yang menenangkan dan meneduhkan bagi siapa saja yang memandangnya.
“Sama-sama, Nak,” balas amak Syamsul dengan senyuman.