WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Rahasia Yang Menjadi Misteri



Tapi, hati Kania merasa sangat yakin kalau lelaki yang saat ini bersamanya dan menggenggam tangannya bukan lagi Alex, akan tetapi Syamsul.


"Astagfirullahalazim, maaf, Kania!"


Ya, seperti anggapan Kania, ternyata lelaki yang saat ini ada di sampingnya bukan lagi Alex, melainkan Syamsul.


Lelaki itu langsung melepaskan genggaman tangannya dari Kania, karena sebagai seorang muslim dan orang Minangkabau, menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama adalah sebuah keharusan.


"Kania, kenapa kamu datang ke Sumatera Barat?" tanya Syamsul yang penasaran dengan perihal kedatangan Kania ke Sumatera Barat.


"Saya dari masa depan dan saya datang ke masa depan di Sumatera Barat karena ingin mengunjungi makan Siti. Saya mendengar kalau Siti yang berada di masa lalu, akan segera menikah dengan Datuak Maringgih. Jika Siti menolak maka Abak dan Bundo akan disiksa oleh Datuak," jelas Kania.


Kania kemudian berpikir panjang lagi sembari menatap Syamsul, "Kemana Syamsul ketika Siti membutuhkannya?"


Kania bertanya-tanya di dalam hatinya, jika lelaki yang bernama Syamsul itu sangat mencintai Siti, kenapa ia tidak membantu Siti dan mengapa saat ini lelaki itu berada di masa depan.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Kania saat ini, namun ia tidak menemukan jawabannya.


'Apakah aku bertanya kepada Uda Syamsul saja ya, kenapa ia ada disini, kenapa ia datang ke masa depan?' ucap Kania di dalam hati.


"Kania, kenapa dari tadi diam saja? Kita terlebih dahulu mau kemana? Aku akan mengantarkanmu." tanya Syamsul sembari menatap Kania yang saat ini berjalan tepat di sampingnya.


Kania menghentikan langkah kakinya, dengan palan ia duduk di sebuah kursi yang terdapat di taman bandara.


"Uda, aku ingin mencari petunjuk tentang Siti. Apakah kamu tahu dimana Siti di makamkan?"


Kania bertanya serius kepada Syamsul dan menatap wajah Syamsul dengan sejuta tanda tanya. Ya, setidaknya Kania merasa beruntung ada Syamsul saat ini sehingga ia punya teman yang akan membantunya mengunjungi daerah-daerah di Sumatera Barat yang sama sekali tidak ia ketahui.


"Uda, apa Uda bisa membawaku ke makam Siti?"


Kania terus memaksa Syamsul yang saat ini hanya diam dalam kebisuan, seolah tidak tahu di mana tempat Siti di makamkan.


"Nia-Kania, maaf, tapi aku tidak tahu dimana Siti di makamkan," ucap Syamsul dengan nada suara terbata-bata, seolah sedang menyembunyikan sesuatu dari Kania.


'Apakah kehidupan Siti sama persis dengan dongeng masa lalu? Apakah Syamsul benar-benar tidak memperjuangkan cintanya kepada Siti?' ucap Kania di dalam hati sembari terus menatap mata Syamsul.


Sadar diperhatikan oleh Kania, lelaki itu langsung menunduk.


"Uda, apakah Uda benar-benar mencintai Siti?" tanya Kania dengan nada suara sedikit meninggi.


"Kania, Uda mencintai Siti dan Uda ingin sekali menjadikannya istri Uda. Namun ...," Syamsul seketika menghentikan ucapannya, seolah ragu menyampaikan apa yang akan ia sampaikan.


"Apa?"


Kania membesarkan matanya dengan sejuta rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.


"Kania, aku hanya tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkan cintaku kepada Siti," balas Syamsul dengan raut wajah sedih dan penuh dengan rasa penyesalan.


Akhirnya, satu masalah terpecahkan. Kania akhirnya mengetahui alasan Syamsul ada disini dan membantu Kania saat ini yaitu sebuah penyesalan, dimana ketidakberdayaan Syamsul di masa lalu membuat ia tidak bisa memperjuangkan cintanya kepada Siti, sehingga hari ini lelaki tampan itu menjadi menyesal dan menebus kesalahannya dengan membantu Kania dimasa depan.


"Kana, apa aku boleh bertanya kepadamu?"


Syamsul menatap tajam Kania, seolah ada rasa penasaran di hatinya yang ingin sekali ia ketahui jawabannya.


"Iya, Uda mau menanyakan apa?"


Kania membalas tatapan Syamsul, ia ingin sekali segera mengetahui banyak hal dari Syamsul sehingga ia memilih untuk mengikuti alur sesuai dengan keinginan Syamsul.


"Apakah lelaki yang bernama Alex itu sangat berbeda dengan Uda? Dia bukan lelaki lemah bukan?"


Syamsul sepertinya ingin memastikan kehidupannya di masa depan.


Kania menatap Syamsul, kemudian dengan senyuman termanis Kania mengangguk untuk membenarkan pernyataan Syamsul.


"Kania, apakah kamu mau menceritakan kepadaku bagaimana Alex di masa depan?" Syamsul penasaran tentang dirinya di masa depan.


Kania tersenyum manis dan dengan bersemangat ia menceritakan bagaimana kepribadian Alex dimasa depan kepada Syamsul. Kania dengan bangga memuji kekasih hatinya itu.


"Alex adalah lelaki terbaik yang aku miliki dan aku teramat sangat bersyukur karena aku mengenalnya," jelas Kania dengan wajah berbinar-binar.


Penjelasan Kania membuat Syamsul tersenyum.


"Kenapa Uda tersenyum?"


Kania heran sekaligus penasaran dengan sikap Syamsul.


"Disaat aku tidak bisa memperjuangkan cintaku, aku berdoa sambil menitikkan air mata," ucap Syamsul sembari menghentikan ucapannya.


"Apa yang Uda doakan?" tanya Kania semakin penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.


"Aku berdoa dan meminta kepada Allah, jika aku diberikan kesempatan untuk hidup kembali maka aku ingin terlahir menjadi seorang yang sangat mencintai dan menyayangi kekasih hatiku dengan tulus. Lelaki yang mau berkorban dan rela melakukan apa saja untuk seseorang yang dicintainya meskipun hatiku terluka," jelas Syamsul dengan mata berkaca-kaca.


"Uda, apakah Uda menyesal karena telah menyia-nyiakan Siti?"


Kania benar-benar penasaran dengan kebenaran yang terjadi di masa lalu, tentang perasaan dua insan yang saling mencinta akan tetapi tidak bisa bersatu, tentang keterbatasan seseorang yang membuat ia harus membayarnya dengan menyerahkan dirinya. Sungguh, Kania tidak habis pikir dengan semua hal yang terjadi di masa lalu dan Kania tidak ingin lagi kejadian di masa lalu itu kembali menimpanya di masa depan.


"Setelah merantau ke ibu kota, Uda mendapatkan kabar kalau Siti telah meninggal muda. Jadi, Uda menyesal dan tidak lagi bisa hidup tenang untuk selamanya," jelas Syamsul dengan tangisan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Kania terus memperhatikan Syamsul, ada rasa iba dan kesedihan di hatinya yang membuat air matanya juga jatuh membasahi pipinya.


'Siti, apakah kamu menangis dan merasakan kesedihan karena cintamu dan Syamsul di masa lalu tidak bisa bersatu?' tanya Kania di dalam hatinya.


Air mata terus saja jatuh membasahi pipi Kania, tidak bisa ia redam, seolah bukan Kania yang menangis melainkan Siti. Keduanya seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak saling bertamu karena berpisah disebabkan oleh kesalahpahaman.


Syamsul menatap tajam mata Kania, dan tanpa Kania sadari ia juga menatap mata Syamsul. Kania merasakan debaran jantungnya berdetak sangat hebat, dan rasa itu tiba-tiba saja tanpa bisa ia kendalikan.


Syamsul kemudian menggenggam tangan Kania dengan lembut sembari menatap mata gadis cantik itu dengan seksama.