
Kania mengelak dan protes karena Alex suka sekali mengacak-acak rambut maupun hijab yang ia kenakan.
"Karena kamu terlihat lucu ketika sedang marah," balas Alex dengan senyum tipis yang membuat Kania kesal.
Kania kemudian meninju-ninju tubuh Alex tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan lelaki itu untuk melampiaskan kekesalannya.
"Emangnya aku badut masak dibilang lucu!"
Kania merajuk dan ia memanyunkan bibirnya karena ia merasa tidak suka diejek oleh Alex.
"Sayang, i love you!"
Alex langsung menarik tangan Kania dan membawanya kedalam pelukannya. Hujan deras yang membuat tubuh kedinginan dan menggigil akhirnya berubah menjadi panas karena pelukan hangat dari yang tersayang.
"Sayang, aku hanya bercanda dan ingin membuatmu tersenyum, itu saja. Jadi, jangan marah ya," ucap Alex sembari menepuk-nepuk pundak Kania dengan lembut.
Kania terdiam karena ia tahu kalau Alex memang melakukan banyak hal untuk menghiburnya.
"Sayang, kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mencintaiku?" goda Alex, berharap mood kekasih hatinya kembali membaik.
"Tidak, aku tidak mencintaimu!" jawab Kania manja yang terdengar malah semakin membuat gelora di hati Alex memuncak.
Dor ..., Dor ..., Dor ....
Petir menyambar hingga membuat Kania ketakutan dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Alex.
"Sayang, kita harus kembali ke kota segera, hujan semakin lebat dan udara terasa sangat dingin, petir juga menyambar-nyambar. Tidak aman bagi kita untuk berada disini," ucap Alex sembari menggenggam tangan Kania.
Lelaki itu membalik dan meminta Kania naik ke punggungnya, karena ia tidak ingin membiarkan Kania berjalan sendiri dengan kaki yang terluka karena duri.
Awalnya Kania tidak mau digendong oleh Revano dan ingin berjalan sendirian karena ia tidak ingin membuat Alex lelah untuk menuruni bukit, namun tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kania selain menuruti keinginan Alex yang tidak lain adalah calon suami Kania.
Ya, Alex, lelaki tampan itu, Ia menggendong Kania di punggungnya dan berjalan menuruni bukit dimana Siti dimakamkan.
Kania merasa sangat senang karena dalam sedih, suka dan dukanya selalu ada Alex yang membantunya, dan itu membuat ia bersyukur.
"Sayang, kamu adalah calon suamiku dan lelaki yang akan menjadi imamku. Setelah ini kita akan menikah dan hidup bahagia selamanya," ujar Kania berbisik di telinga Alex hingga Alex merasa tidak ada beban sedikitpun ketika menggendong Kania.
Alex tersenyum dan terlihat sangat bahagia karena Kania akhirnya mau menikah dengannya dan tidak lagi menunda-nunda rencana baik mereka itu.
"Sayang, kamu serius kan kalau kita akan segera menikah ketika kita kembali ke Jakarta?"
Alex terdengar serius untuk menanyakannya, padahal ia telah berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama.
"Iya, Sayang, kita akan menikah dalam waktu dekat, jadi kamu tidak boleh takut dan khawatir lagi untuk banyak hal yang terjadi."
Dalam hujan, Kania menjelaskan dan meyakinkan Alex bahwa apa yang ia katakan memang benar sekali adanya.
"Terima kasih banyak, Sayang, aku sudah tidak sabar kembali ke Jakarta dan mengurus pernikahan kita," ucap Alex bersemangat.
Kania ingin membuktikan kepada Siti kalau hidupnya bahagia karena ia memiliki seseorang yang sangat tulus yang mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
Begitu juga dengan Alex, ia juga ingin membuktikan kepada Syamsul kalau ia akan membahagiakan Kania dan tidak akan membiarkan kejadian di masa terjadi lagi di masa depan.
"Lantas, bagaimana dengan Papamu, Sayang? Kita tidak mungkin menikah tanpa restu dari oranh tuamu, beliau juga akan menjadi seorang wali, apalagi beliau adalah orang yang berhak menikahkan putrinya," tanya Alex yang terlihat sudah memikirkan banyak karena Alex tidak ingin menikah tanpa restu dan ia ingin meyakinkan papa Kania kalau ia adalah lelaki baik yang pantas untuk Kania.
Dor ..., Dor ..., Dor ...!
Petir menyambar-nyambar dengan kilat yang terlihat jelas dan sangat nyata sekali, hingga membuat Kania dan Alex ketakutan.
Kania menutup matanya dan semakin melingkarkan kedua tangannya di leher Alex.
Langit semakin menggelap dan hujan petir semakin menyambar-nyambar.
"Sayang, aku takut!" rengek Kania membuat Alex juga takut dan panik.
Alex aangat khawatir sekali ketika bumi menjadu sangat gelap dan tidak ada cahaya sama sekali.
"Ya Allah, apa yang terjadi? Kenapa semuanya berubah menjadi gelap? Apakah ini kiamat?" ucap Alex di dalam hati.
Alex tidak ingin berteriak dan tidak ingin berbicara apapun karena ia takut Kania akan merasa semakin takut.
Petir semakin menyambar-nyambar, hingga Alex tersungkur ke tanah bersama Kania.
"Allahuakbar ..., Allahuakbar!"
Kania dan Alex meneriakkan takbir dengan sangat keras karena mereka berdua merasa sangat ketakutan.
Dalam takut itu, Kania merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Kania kemudian membuka matanya dan mendapati dunia gelap gulita tanpa adanya cahaya kecuali cahaya dari petir-petir yang menyambar-nyambar.
"Ya Allah, apakah ini alam kubur?"
Tubuh Kania menggigil dan ia merasa sangat ketakutan ketika ia tidak lagi bisa menatap dan menikmati dunia tempat ia berpijak.
Kania dan Alex kemudian tidak sanggup lagi menahan gelap, dada mereka berdua terasa sangat sesak, hingga keduanya tumbang dan tidak lagi sadarkan diri, tidak tahu lagi apa yang terjadi
"Kania, Nia!"
Suara itu terdengar samar di telinga Kania. Suaranya terdengar seperti seseorang yang sangat Kania kenal dan rindukan.
"Bundo, apakah itu Bundo?"
Kania ingin sekali membuka matanya dan langsung memeluk bundo, mengatakan kepada bundo kalau ia teramat sangat merindukan bundo dan juga abak. Tapi, entah mengapa mata Kania terlalu sulit untuk di buka.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Kenapa dunia ini gelap sekali? Kenapa aku tidak bisa bangun dan membuka mata?" ujar Kania.
Kania merasa tidak senang dengan situasi yang dihadapinya saat ini. Ia sudah lama sekali tidak bertemu dengan abak dan bundo, tetapi kenapa saat ia diberi kesempatan mendengar suara bundo, ia malah tidak diberi kesempatan memeluk bundo.
"Siti, Kania, siapapun kamu, bangunlah, Nak! Bundo dan Abak teramat sangat rindu kepadamu?"
Kania mendengar suara isak tangis bundo. Wanita paruh baya yang merupakan orang tua Kania di masa lalu ternyata juga memiliki kerinduan yang sama kepada dirinya, bahkan beliau sudah tidak lagi peduli yang ada di depannya adalah Siti atau Kania.
Kania merasakan tangan bundo mebepuk-nepuk lembut pipinya, tapi entah mengapa tetap saja Kania tidak bisa membuka matanya.
"Sayang, bangunlah! Bundo rindu!"
Air mata jatuh membasahi pipinya hingga air mata itu juga ikut membasahi pipi Kania.
Air mata itu membuat Kania tersintak dan membuka matanya secara perlahan.
Sedikit demi sedikit bola mata Kania terbuka dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kania menatap bola mata bundo yang sudah penuh dengan air mata.
"Nak, kamu sudah sadar?"