
Kania langsung bersorak dengan isak tangisan ketika ia melihat anak buah om Galih bersikap semena-mena dan sangat kasar kepada papanya.
"Jangan sakiti Papa!" ucap Kania.
Kania sungguh tidak terima melihat kekejaman dan kekasaran om Galih kepada papanya.
"Kania ..., tolong Papa, Nak!"
Suara terbata-bata dan wajah ketakutan terlihat jelas di mata Kania.
Kania memperhatikan wajah tampan papanya yang sudah keriput itu saat ini memiliki banyak memar dan luka yang terlihat seperti pukulan dan tonjokan. Wajah papa Haris benar-benar terlihat lemah dan kesakitan.
"Om, saya akan datang kesana sekarang, jadi jangan sakiti Papa!" ucap Kania tegas dan sangat lantang dan emosi yang bergejolak, bahkan wajah Kania terlihat seperti singa yang akan mencekram om Galih.
Gadis manja yang biasanya hidup berkecukupan tanpa adanya masalah itu, saat ini dihadapkan kepada masalah besar yang mengharuskan ia untuk berjuang dengan kemampuannya sendiri, jadi ia tidak boleh terlihat lemah dan tidak berdaya.
"Kamu silahkan datang kesini tanpa melibatkan polisi karena kita akan membahas rencana pernikahan kita yang tertunda," ujar om Galih dengan senyum liciknya.
Om Galih langsung memutuskan panggilan video call setelah ia menyampaikan apa yang menjadi keinginan dan maksud hatinya.
"Kania, apakah di dunia ini kamu juga dihadapkan pada perjodohan?" tanya Syamsul sembari menatap Kania yang saat ini masih terlihat bengong dengan kesadaran yang belum seutuhnya.
"Eh, iya, apa, maaf!"
Kania terlihat kikuk, tidak tahu akan menjawab apa kepada Syamsul karena dalam otaknya saat ini adalah keselamatan papanya.
"Bismillah, Kania, serahkan semuanya kepada Allah. Hanya Allah satu-satunya tempat memohon dan meminta," ucap Syamsul.
Ya, kehadiran Syamsul di sini seperti hiburan bagi Kania. Kata-kata yang keluar dari lisannya seperti energi positif yang memberikan semangat Kepada Kania.
"Uda, bagaimana kalau sekarang kita berangkat?" ucap Kania sembari menatap Syamsul yang saat ini ada di depannya.
Syamsul diam dan terlihat tidak tahu akan melalukan apa-apa di dunia yang ia anggap surga itu.
Kania menarik tangan Syamsul keluar dari apartemen.
"Kita mau kemana Kania?" protes Syamsul.
Lelaki yang datang dari masa lalu itu berusaha melepaskan diri dari Kania, karena ia tidak ingin melanggar batasan antara seorang pria dan seorang wanita yang tidak mukhrim.
"Ikut saja!"
Hanya itu kata-kata yang keluar dari lisan Kania sembari terus menarik tangan Syamsul untuk ikut dengannya.
Dengan langkah berat dan terpaksa, Syamsul berjalan mengikuti langkah kaki Kania tanpa berbicara apapun lagi
Syamsul melihat kiri dan kanan serta sekelilingnya, tempat mewah yang tidak pernah dilihat Syamsul sebelumnya.
'Apakah saat ini aku berada di surga?' ungkap Syamsul di dalam hati.
Syamsul pernah mendengar ceramah dari seorang ustadz kalau surga itu tidak bisa dilihat di dunia ini, akan tetapi Allah menggambarkannya dengan kemewahan dan sejuta keindahan dengan semua kemudahan di sana.
"Uda, apa yang Uda pikirkan?"
Seolah paham dengan sikap Syamsul saat ini, makanya Kania bertanya kepada lelaki yang ada di sebelahnya itu.
Kania melihat kalau saat ini Syamsul tengah heran dan takjub dengan dunia yang dilihatnya.
"Kania, apakah ini surga? Apakah kamu tinggal di dunia seperti ini?" tanya Syamsul sembari menatap Kania dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun.
"Uda, ini adalah duniaku, beberapa abad terlewati setelah zaman yang Uda tinggali. Tapi, ini bukan surga," jelas Kania.
"Kania, jadi ruangan persegi apa ini sehingga kita bisa mengantarkan kita lebih cepat ke tempat tujuan kita?" tanya Syamsul lagi.
"Kamu tinggal bukan di Sumatera Barat 'kan Kania?" tanya Syamsul.
Syamsul tidak mendengarkan bahasa Minang sama sekali, ia juga tidak melihat ada rumah bagonjong disini, jadi ia penasaran sebenarnya Kania tinggal dimana.
"Aku tinggal di Jakarta," jawab Kania.
Kania terlihat panik dan tidak konsentrasi menjawab semua pertanyaan dan rasa penasaran Syamsul karena yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan papanya.
"Kania, kalau aku berhasil menyelamatkan Papamu, apakah kamu mau mengajakku ke monas?"
Syamsul menatap Kania dengan tatapan penuh harap, bagi Syamsul salah satu icon kota Jakarta yang terkenal di kampungnya adalah Monumen Nasional dan Syamsul sangat ingin sekali pergi berkunjung kesana.
"Baiklah, Uda, aku akan mengajak Uda berjalan-jalan keliling kota Jakarta kalau kita berhasil menyelamatkan Papaku."
Kania menatap Syamsul dan berjanji kepada lelaki itu.
Syamsul terlihat senang dan ia menjadi semakin bersemangat untuk melawan om Galih demi menyelamatkan papa Kania.
"Uda, sekarang Uda masuklah ke dalam mobil karena kita akan segera berangkat!"
Kania membukakan pintu untuk Syamsul dan mengajak lelaki itu untuk masuk ke dalam mobil. Sementara Syamsul terus heran dengan semua kemewahan-kemewahan yang ia lihat di masa depan.
Kania kemudian memasangkan sabuk pengaman untuk Syamsul, namun ada keanehan pada diri Keyla, ia merasa jantungnya berdebar dan ia juga merasakan debaran hebat pada jantung Syamsul.
Dak ..., Dik ..., Duk ...!
Detak jantung mereka berdua terdengar serentak dan seirama, terdengar tidak biasa, seperti debaran jantung dua insan yang tengah jatuh cinta.
"Astagfirullahalazim, apa yang terjadi dengan ku? Lelaki ini bukan Alex tapi Syamsul!" ucap Kania menolak dan menyalahkan perasaannya sendiri.
Terlihat Syamsul juga memikirkan hal yang sama seperti apa yang Kania rasakan saat ini.
"Kania, apapkah jantungmu berdetak?" tanya Syamsul polos.
Lelaki yang bernama Syamsul dengan tubuh Alex itu benar-benar terlihat sangat polos sekali.
"Maaf!" ucap Kania dengan nada suara yang semakin bergetar sangat hebat.
Wajah Kania memerah, ia malu dan teramat sangat malu karena sikap Syamsul yang polos malah membuatnya semakin dipermalukan.
"Kita jalan!"
Tanpa menatap Syamsul, Kania melakukan mobil Alex yang ia pinjam dengan kecepatan tinggi.
Kania hanya menatap lurus ke depan dan berharap kalau ia akan segera sampai di tempat di mana papa Haris di sekap.
"Kania, hati-hati!" ujar Syamal memperingatkan.
Hal yang sama seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu di mana Kania melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga ia kembali ke masa lalu.
"Uda tenang saja, tidak terjadi apa-apa!" ujar Keyla dengan rasa percaya tinggi yang ia bawa bersamanya.
"Kania, apakah hatimu saat ini tengah gunda dan banyak beban pikiran? Jika ia maka kamu berzikirlah. Hanya dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang," jelas Syamsul kepada Kania.
Syamsul melihat ketakutan dan kepanikan di wajah cantik Kania.
Kania menolehkan wajahnya menatap Syamsul, ia sangat tahu sekali kalau lelaki yang saat ini ada di sampingnya bukanlah kekasihnya, akan tetapi hati Kania merasa ragu dan dilema untuk menghadapi Syamsul.
"Kania, awas!" teriak Syamsul tiba-tiba.