WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Menyusun Strategi



Alex menceritakan kepada Kania kalau Kania mendapatkan penanganan khusus dengan penjagaan yang ketat hingga dibawa pulang ke rumah dengan perawatan yang juga tidak kalau canggih dari rumah sakit, jadi Alex meyakini kalau tidak seorang pun teman sekolah mereka yang menjenguk mereka, bahkan teman se-gank dengan Kania tidak menampakkan batang hidungnya sekalipun dihadapan Kania.


'Apakah mereka hanya ada untukku disaat senang? Apakah mereka tidak tulus berteman denganku?' ucap Kania di dalam hati dengan rasa sedih yang ia bawa bersamanya.


Huft ...


Kania memejamkan matanya kemudian menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri sendiri.


'Ah, sudahlah! Aku tidak membutuhkan siapa-siapa sekarang kecuali keluargaku dan Alex,' ucap Kania di dalam hati sembari mengurut dadanya.


Kania tersebyum kepada Alex karena saat ini ia sangat merindukan kekasih yang snagat dicintai dan disayanginya dengan segenap hati dan perasaan, apalagi mereka telah lama tidak berjumpa.


"Sayang, aku merindukanmu," ucap Alex sembari menjalankan kursi rodanya menuju ke arah Kania. Ia ingin melepaskan kerinduan terhadap kekasih yang sangat dicintainya itu, sementara itu Kania hanya diam dengan tubuh menggigil dan kedinginan, bukan karena demam tapi karena merasa grogi bertemu dengan Alex, bahkan perasaan yang ia rasakan sekarang sama dengan saat pertama kali ia bertemu dan jadian dengan Alex dulu.


"Sayang, apakah aku boleh memelukmu?" ucap Alex dengan nada suara lembut.


Alex kini mendekati Kania, berada di depan Kania sembari menggenggam tangan Kania dengan hangat, penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus.


Alex mencium tangan Kania, kemudian menatap wajah Kania dengan sejuta kerinduan yang akhirnya mulai terlepaskan.


Alex terlihat ingin memeluk Kania, namun keadaan mereka berdua sedang tidak bisa untuk berpelukan sehingga keduanya hanya bisa menahan kerinduan dengan hanya melihat sepuas hati.


"Tapi, apakah maksud Papa menempatkan kita berdua pada ruangan ini? Bahkan Papa meninggalkan kita berdua disini. Apakah Papa punya rencana lain?" ucap Kania tiba-tiba hingga Alex juga ikut merasakan kalau apa yang dikatakan oleh Kania memang benar adanya.


"Sayang, apakah kamu memikirkan hal yang mungkin saja sama denganku?"


Alex mulai curiga, karena bagaimana pun juga om Galih tidak akan dengan mudahnya menyerah atas pernikahannya dengan Kania, apalagi si tua bangka itu telah kehabisan banyak uang untuk berinvestasi di keluarga Kania.


"Iya, aku percaya Papaku bisa berubah menjadi lebih baik, tapi tidak dengan Om Galih, ia tidak akan dengan mudahnya melepaskan aku," ujar Kania dengan sejuta rasa penasaran dan kecurigaan di dalam hatinya.


"Sayang, apakah kita perlu menyusun siasat dan rencana rahasia?"


Alex mengatakan kalau mereka harus menyediakan payung sebelum hujan, dimana mereka harua menyusun rencana yang sangat matang agar tidak terjebak dalam perangkap om Galih, apalagi papa Alex dan papa Kania bertingkah aneh dengan sikap manis yang terlihat tidak biasa.


"Sayang, aku ada ide," ungkap Alex.


Alex mengayuh kursi rodanya, kemudian berjalan mendekati Kania, duduk sejajar dengan Kania.


Alex mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kania, ia ingin membisikkan sesuatu yang sedang ia pikirkan dan ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.


"Bagaimana, apakah kamu setuju dengan rencanaku?" ucap Alex dengan senyuman.


Alex seolah tidak berbisik dengan Kania, tetapi sedang mencium pipi Kania, hingga Kania pun membalas senyuman Alex agar gerakan keduanya tidak mencurigai.


"Alex, aku berpikir kalau semua masalah telah selesai ketika aku kembali ke masa depan, namun ternyata hidupku masih penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran, apalagi Om Galih bukan lawan yang mudah untuk kita seperti Datuak Maringgih," jelas Kania dengan wajah yang tertunduk dan merasa bersedih dengan apa yang terjadi pada dirinya dan nasip hidup yang dialaminya.


"Sayang, kamu tidak usah takut dan kamu tidak perlu khawatir karena kita berdua akan menghadapinya bersama-sama," ucap Alex serius dan sangat meyakinkan sekali.


"Bagaimana jika Om Galih sedang mencariku sekarang dan tetap meminta Papa menikahkan ku dengan tua bangka itu?"


Kania takut dan merasa tidak siap jika ia harus menikah dengan lelaki yang seumuran dengan ayahnya, sedangkan ia masih SMA dan mempunyai satu cinta yang nanti akan menjadi suaminya yaitu Alex.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kita akan menikah setelah tamat SMA, aku juga akan memperjuangkan kamu dan meminta restu Papamu untuk mau menikah mu denganku."


Alex benar-benar telah yakin dan sangat siap sekali menikahi Kania bahkan jika diizinkan ia ingin menikahi Kania sekarang juga.


"Sayang, kamu tidak mengenal Om Galih, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan aku," jelas Kania dengan rasa ketakutan yang ia bawa bersamanya.


"Aku memang tidak mengenal tua bangka itu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, kalau aku juga tidak akan menyerah untuk memperjuangkan cinta kita, bahkan aku juga akan melakukan apapun demi mempertahankanmu disisiku."


Kata-kata yang terdengar seperti lelucon karena keluar dari lisan anak SMA seperti Alex, tapi Alex tidak bercanda, ia berkata serius dan ia adalah lelaki yang sangat menjaga janjinya kepada orang lain.


"Kania, aku mencintaimu dan teramat sangat mencintaimu, jadi tolong percaya kepadaku!"


Alex menggenggam tangan Kania, mencium tangan itu berkali-kali sebagai bentuk ungkapan keseriusan dan pembuktian Alex kepada Kania.


Kania paham dan Kania sangat tahu kalau Alex pasti tidak akan mungkin mengkhianati Kania dan ia juga tidak akan mengkin menghancurkan janji yang pernah ia ucapkan dari mulutnya sendiri.


'Kania, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membiarkan Alex menyentuh tanganmu seperti itu? Kalian tidak mukhrim dan kalian berdua tidak boleh bersentuhan seperti itu,' ucapan nyaring itu terdengar seperti anak panah yang menusuk Kania tepat di hatinya. Ia terngiang-ngiang dengan pesan-pesan Siti kepadanya, bahkan abak dan juga bundo juga sering sekali mengatakan kepadanya untuk tidak mendekati zina.


Kania langsung menarik tangannya, ia tidak mengizinkan Alex untuk menyentuhnya apalagi menciumnya, bukan karena ia benci atau tidak suka kepada Alex, hanya saja ia merasa kalau apa yang mereka lakukan sekarang tidak benar, apalagi saat ini mereka berdua ditinggalkan di ruangan tertutup tanpa ditemani siapapun.


"Sayang, apakah ada yang salah? Apa aku melakukan kesalahan kepadamu?" ucap Alex dengan rasa heran dan kaget yang ia rasakan pada dirinya.


"Sayang, maaf, aku tidak ada maksud untuk mengejutkanmu, aku hanya teringat pesan Abak dan Bundo, kalau kita berdua tidak pantas melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti ini," ucap Kania.


"Maksudnya? Apakah ada yang salah denganku?"