
Gunawan, papanya Alex datang menghapiri papa Haris dengan wajah yang terlihat sangat panik, takut dan khawatir karena seluruh ruangan berantakan, dipenuhi dengan pecahan kaca yang berserakan.
Alex yang berada di kursi roda ikut heran dan berpikir panjang mengenai apa yang terjadi dengan papa Haris, namun sebagai seorang anak ia tidak berhak bertanya dan ikut campur urusan orang dewasa walaupun sebenarnya rasa penasaran tengah menghantui hati dan perasannya saat ini.
"Kamu sudah datang, Gunawan?"
Papa Haris berdiri kemudian menatap pak Gunawan dengan sejuta beban yang ingin ia ceritakan.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kita antarkan Alex dulu ke kamarnya, ia akan dirawat disini bersama dengan Kania," ucap papa Haris.
"Dirawat disini? Maksudnya?"
Alex heran dengan apa yang disampaikan oleh papa Haris, karena seingatnya kalau ia dibawa bertemu dengan Kania hanya untuk melihat keadaan Kania dan memastikan gadis cantik yang tidak lain adalah kekasihnya itu beraa dalam keadaan baik-baik saja.
"Nak, maafin Papa ya, Papa harus merahasikan ini sama kamu, Papa tidak menceritakan kepada kamu kalau kamu akan dirawat di rumah ini bersama dengan Kania karena anak buah Pak Galih berkeliaran mencari tahu keberadaan kamu dan Kania, jadi untuk sementara kamu bersembunyi dulu di rumah ini bersama Kania sampai Papa dan Tuan Haris menemukan cara terbaik untuk membebaskan Kania dari Tuan Galih," jelas Gunawan.
Sebagai seorang anak, Alex sangat paham dengan apa yang disampaikan oleh papanya, hanya saja ia terkejut dibawa mendadak ke rumah Kania sekalian dirawat dan bermalam bersama Kania. Ya, tentu saja Alex merasa sangat senang dan bahagia karena ia bisa melihat kekasih yang sangat ia sayangi dan cintai dengan segenap hati setiap saat sehingga kerinduannya terhadap Kania bisa ia lepaskan setiap saat.
"Nak Alex, tolong beri semangat kepada Kania, karena Om sangat tahu kalau Kania sangat menurut sama kamu," pinta papa Haris sembari meletakkab tangannya di pundak Alex, seolah ia memberikan tanggung jawab dan beban yang sangat besar untuk Alex emban karena Kania adalah anak yang sangat ia sayangi dan cintai dengan segenap hati dan perasaannya.
Alex menengadah, menatap papa Haris yang berdiri tepat di sampingnya, lelaki yang selama ini selalu Kania ceritakan dan bangga-banggakan, lelaki yang mungkin suatu hari nanti akan menjadi mertuanya. Ya, dengan tegas Alex mengatakan kalau ia berjanji akan menjaga dan melindungi Kania dengan segenap jiwa dan perasaannya.
"Terima kasih banyak, Nak, Om merasa sangat senang dan beruntung sekali karena Kania bisa kenal dan dekat dengan kamu, Nak."
Papa Haris menatap wajah Alex dengan seksama, mengungkapkan betapa ia sangat bahagia dan bersyukur memiliki Alex yang menjadi kekasih sekaligus sahabat anaknya.
"Saya yang merasa sangat bersyukur dan beruntung karena saya bisa dekat dengan gadis cantik dan sempurna seperti Kania," balas Alex membanggakan kekasihnya itu.
Bagi seorang anak sekretaris seperti Alex, bisa dekat dengan Kania adalah salah satu anugrah terbesar yang sangat ia syukuri, seperti sebuah mimpi yang berubah menjadi kenyataan yang membuat Alex tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang terjadi.
"Sekarang Om antarkan kamu ke kamar ya."
Papa Haris mendorong kursi roda Alex, membawa lelaki tampan itu menuju sebuah kamar dimana ia dan Kania akan dirawat bersama.
Namun, ada rasa tidak enak di hati Alex, feeling di hatinya mengatakan kalau papa Haris sedang merencanakan sesuatu yang tidak benar kepadanya dan Kania.
'Ah, sudahlah, jangan berburuk sangka, Alex!' ucap Alex di dalam hati sembari mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan kata-kata positif karena Alex tidak ingin merusak hati dan perasaannya.
"Alex, kamu istirahat disini ya, sebentar lagi Om juga akan memindahkan Kania kesini," ucap papa Haris sembari menunjuk kepada dua buah ranjang king yang berukuran sedang di kamar yang cukup besar dan luas. Ya, rumah papa Haris memang sangat besar seperti istana, bahkan kamar perawatan ini hampir sama besar dengan ruang tamu Alex di apartemen.
"Baik, Pa," jawab Alex menurut.
Papa Gunawan kemudian membantu putranya berdiri dari kursi roda untuk berbaring di ranjang yang memang disediakan untuknya.
"Terima kasih banyak, Pa," ucap Alex sembari tersenyum kepada papanya yang saat ini sedang menyelimutinya.
"Sekarang kamu tunggu disini ya, Om Haris akan menjemput Kania ke kamarnya."
Papa Haris berjalan menuju kamar Kania dengan penuh bersemangat, seperti tidak sabar untuk mempertemukan Kania dengan Alex.
"Kania, Sayang, Alex udah datang, Nak," ucap papa Haris dengan lantang dan nada suara ceria karena terlalu bersemangat.
"Bibi, bisa tolong lebih cepat, Papa udah datang, Bi," ucap Kania dengan rasa panik yang ia rasakan di hatinya.
Ya, Kania saat ini sedang berdandan, ia meminta sang asisten menyisir dan menguncir rambutnya, agar rambutnya terlihat rapi. Kania ingin terlihat segar dan cantik ketika menemui Alex.
"Sayang, Ale-"
Papa Haris menghentikan ucapannya ketika beliau melihat sang anak sedang berdandan. Papa Haris paham kalau anaknya sekarang telah gadis dan salah satu kebahagiaan tersendiri oleh seorang wanita jika ia bisa berdandan dan terlihat cantik dihadapan sang kekasih yang sangat ia cintai dan ia sayangi dengan segenap hati dan perasaan, dan papa Haris paham dan mengerti dengan apa yang ia lihat sekarang ini.
"Pa, tunggu ya, Kania masih dandan, Kania ingin terlihat cantik dihadapan Alex," ucap Kania lembut dengan senyum tipis dan malu-malu. Kania merasa kalau ia seperti ketahuan melakukan sesuatu dihadapan papanya namun keinginan untuk tetap cantik membuat Keyla menahan rasa malunya karena ia yakin kalau papanya akan paham dan akan pengerti dengan situasi dan kondisi Kania yang ingin terlihat cantik dan sempurna di mata Alex.
"Iya, Nak."
Papa Haris tersenyum manis, melihat tingkah putrinya yang manis, semanis bidarari dengan kecantikan alami.
"Sayang, kamu tetap akan cantik meski tanpa dandanan," puji papa Haris kepada putri kesayangannya.
Kania tersipu malu, ia merasa sangat bahagia dan senang sekali karena mendapatkan pujian dari papanya.
Ya, sebagai seorang wanita, Kania merasa sangat tersanjung jika ia dipuji oleh orang-rang terdekatnya, apalagi pujian itu membuat Keyla ingin melambung ke udara.
"Nak, sekarang Nia pindah kamar ya," ucap papa Haris sembari manatap putri kesayangannya dengan seksama.
"Pin-dah, Pa? Pindah kemana?" tanya Kania ragu.
Kania takut jika papa Haris mengantarkannya ke rumah sakit, atau mungkin menyerahkannya kepada om Galih. Ya, perasaan Kania merasa tidak tenang, seolah papanya sedang merencanakan sesuatu yang licik kepadanya, pikiran yang sangat sama dengan apa yang Alex pikirkan.