WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Babendi-bendi



'Siti, tolong percaya kepadaku, tolong dukung aku, aku berjanji akan mendukungmu dan aku akan menyelesaikan masalah yang terjadi,' ucap Kania di dalam hati.


'Iya, tapi bagaimana jika Datuak Maringgih tidak berubah pikiran?' Seolah terjadi pergolakan batin antara Kania dan Siti.


'Siti, yakinlah semua akan baik-baik saja,' jelas Kania meyakinkan dirinya sendiri.


'Iya, Keyla, aku berharap semoga Datuak Maringgih membatalkan niatnya,' ucap Siti lembut.


"Kania, semoga saja hubungan percintaan kita bisa lanjut ke jenjang pernikahan ya," ucap Siti dengan penuh pengharapan.


"Siti, oh Siti, kamu melamun ya?"


Kania dikagetkan oleh Fatimah.


"Astaghfirullahalazim," ucap Kania kaget sembari memegang dadanya yang seperti akan copot.


"Habis kamu dari tadi ditanya nggak nyahut, lagi mikirin apa sih?" tanya Fatimah penasaran.


"Tidak apa-apa," jelas Kania berbohong.


"Siti, jangan terlalu memikirkan apa yang aku katakan tadi, aku berdoa untuk kebaikanmu," ucap Fatimah sembari menggenggam tangan Kania dengan lembut.


"Ngomong-ngomong, keluarga kita kemana ya, Fatimah? Kok udah nggak kelihatan lagi ya?" Kania tersadar dan melihat sekelilingnya, tidak ia lihat lagi keluarganya di sana.


"Siti, nggak usah mikirin keluarga kamu mungkin memberikan kita ruang untuk berbicara dari hati ke hati, kan kita udah dewasa, nanti dia juga akan ketemu lagi," ucap Fatimah.


"Baiklah, Fatimah, bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan, aku masih mau main disini?" ucap Kania karena penasaran dengan daerah ini.


"Oke, Siti."


Fatimah dengan senang hati menuruti keinginan Kania yang dianggapnya Siti, gadis yang merupakan teman baiknya.


Kania menatap Fatimah, kemudian merangkul sahabat baiknya itu.


"Siti, aku yakin kamu bakalan menemukan lelaki yang sangat baik yang akan menghapus air mata ini. Lelaki yang akan membuat kamu lupa dengan semua air mata ini karena ia akan menghapus semua air mata kamu dengan kebahagiaan."


Ucapan yang keluar dari mulut Fatimah seperti sebuah vitamin yang menjadi penyemangat dan kekuatan bagi Kania untuk terus maju dan melangkah menjalani kehidupannya.


"Fatimah, aku juga bangga dan bersyukur banget punya sahabat sebaik kamu," puji Kania sembari tersenyum kepada Fatimah yang saat ini tengah memeluknya.


Memiliki satu sahabat baik yang mendukung dan menemani di saat duka maupun bahagia jauh lebih membahagiakan dari pada memiliki banyak teman yang tidak tulus. Ya, begitulah perasaan Siti dan Fatimah, sahabat sejati yang saling melengkapi, saling mendukung dan saling menjaga dengan tulus penuh cinta dan kasih sayang, dan persahabatan sejati itu kini dinikmati juga oleh Kania.


Setelah drama persahabatan itu, tiba-tiba pintu kamar mereka ada yang mengetuk.


"Apakah itu Bundo?" Tebak Fatimah dan Siti serentak dengan saling menatap.


Kedua gadis cantik itu langsung membukakan pintu, karena ia sangat yakin kalau bundo akan merajuk jika mereka berlama-lama.


"Assalamualaikum, Kakak-kakak cantik, apakah udah siap untuk jalan-jalan?" ujar Siska bersemangat dengan senyum menawan yang terpancar di wajah cantiknya, sungguh terlihat imut dan manis untuk gadis seusianya.


"Waalaikumsalam, Siska cantik," jawab Fatimah dan Siti serentak. Siska adalah keluarga jauh Siti yang tinggal di Bukittinggi.


Kedua gadis cantik itu membimbing tangan Siska masuk ke kamar penginapan dengan hati riang gembira.


"Kak, temenin Siska naik bendi ya!" pinta Siska dengan senyum manis.


"Naik bendi?" tanya Kania dan Fatimah lagi memastikan.


Kania si gadis cantik itu tentu saja kaget dengan permintaan Siska, karena ia sendiri tidak pernah membayangkan untuk naik delman di Bukittinggi dengan bau kuda yang sangat tidak enak dicium hidung dan polusi udara juga tentunya.


"Iya, Kak," jawab Siska yakin dan sangat bersemangat.


"Nanti ya, Sayang, kita tanya Abak dan Bundo dulu, kita pergi bareng-bareng sama Abak dan Bundo juga ya, Dek," bujuk Kania.


Kania sebenarnya tidak ingin pergi, selain karena polusi udara, ia tidak ingin bertemu dengan Datuak Maringgih yang mungkin saja datang menghampiri mereka.


"Abak dan Bundo, Om dan Tante, semuanya udah ngizinin kok, please ...," Siska merengek dan memohon kepada Kania.


"Tapi, Sayang," ucap Kania yang tetap berusaha untuk mengelak.


"Temenin aja, Siti, kasihan Siska, ia pengen banget naik bendi," ujar Fatimah.


"Kamu ikut 'kan?"


Kania menatap Fatimah, namun Fatimah mengangkat bahunya pertanda ia tidak setuju dan tidak ingin ikut bersama Siti dan Siska.


"Iih, kamu enak aja, pokoknya harus ikut!" Paksa Kania sembari memanyunkan bibirnya.


Siska sepertinya paling pandai menyatukan dua hati seseorang.


"Please ..., Kak Siti!" Siska terus saja merengek manja.


Akhirnya dengan perdebatan kecil yang tidak akan berakhir itu, Siti mengalah.


"Kakak mau 'kan naik bendi?" Siska menengadahkan wajahnya menatap Siti dengan tatapan penuh harap.


"Iya, Sayang," jawab Kania dengan senyuman.


"Asik ...," Siska berteriak sembari melompat-lompat karena bahagianya.


Kania dan Siska berjalan menyusuri sudut jam gadang tempat para kusir mangkal.


Bendi adalah salah satu kendaraan tradisional masyarakat Minangkabau pada zaman dahulu kala, namun sekarang menjadi salah-satu kendaraan untuk wisatawan saja.


Bendi atau dikenal juga dengan nama delman pada zaman sekarang di tarik oleh kuda yang dikendalikan oleh kusir.


Di kota Bukittinggi, bendi digunakan untuk menarik wisatawan berkeliling mengelilingi dan menikmati keindahan kota Bukittinggi dengan santai.


"Pak, kaliliang kota yo, Pak," ucap Kania kepada sang kusir.


"Oke, Nak," jawab sang kusir.


"Tunggu!"


Di Bukittinggi, sang kusir juga bertindak sebagai pemandu wisata yang menjelaskan tentang berbagai macam keunikan dan keindahan kota Bukittinggi, menjawab semua pertanyaan wisatawan dan menjelaskan dengan sedetail mungkin dengan ramah dan sopan.


"Kak Siti, Siska senang banget bisa naik bendi, sudah lama sekali Siska nggak naik bendi," ucap Siska ceria.


"Sudah berapa lama, Dek?" tanya Kania sembari menatap Siska dengan hangat.


"Sudah 2 tahun Siska nggak naik bendi, Kak," jawab Siska membenarkan.


"Uni juga udah lama nggak jalan-jalan ke Bukittinggi." Fatimah mencoba mengingat-ingat kembali masa terakhirnya jalan-jalan.


"Hmmm ..., nanti sering-sering kesini ya, Kakak, Uni, main sama Siska," ucap Siska.


"Siap, Sayang, sekarang Siska boleh naik bendi sepuasnya," ucap Fatimah sembari mengusap-usap kepala Siska.


"Serius, Uni?" Siska menengadah dan menatap wajah Fatimah untuk meminta kebenaran dari ucapan wanita cantik itu.


"Iya, Sayang, Siska boleh naik bendi sepuasnya hari ini, Uni Fatimah yang akan traktir," ucap Fatimah dengan senyuman manis yang diberikan kepada Siska.


"Aduh, Fatimah, jangan repot-repot," tolak Kania halus dan lembut.


"Nggak repot kok," jawab Fatimah santai dan terlihat tidak mempedulikan sahabat baiknya itu karena ia terlihat asik dengan Siska.


"Boleh kan, Kak Siti?" tanya Siska memohon sembari mengaitkan kedua jarinya sebagai tanda permohonan.


"Iya, Sayang, boleh kok," jawab Kania lagi dengan senyuman.


"Makasih, Kakak Cantik," Siska semakin bersemangat.


"Makasihnya sama Uni Fatimah dong, Sayang," ucap Kania.


"Makasih ya, Uni Fatimah," ucap Siska ramah dan sopan sembari menebarkan senyum manis kepada Fatimah


Mereka berkeliling kota Bukittinggi dengan menggunakan bendi, mulai dari pasar atas, pasar bawah, sekitar kampung cina, sampai ke Pasar Aur. Kami hanya berputar menikmati keindahan alam dan kesejukan udara kota Bukittinggi.


Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?


"Uni, Kakak setelah ini kita ke kebun binatang ya," ucap Siska kepada dua kakaknya itu. Mereka bertiga terlihat sangat akrab dan seperti keluarga kandung yang saling rukun.


"Iya, Siska, nanti kalau Siska udah puas naik bendi, kita ke kebun binatang," jawab Kania.


"Beneran Kak Siti?"


"Tentu, Sayang," ucap Kania bersemangat.


Kania kemudian menarik nafas panjang sembari menutup matanya, dan secara perlahan ia mencoba membuka mata.


'Lift? Alex? Apa aku sekarang di masa depan?' ucap Kania di dalam hati dengan kebingungan yang ia rasakan di hatinya.