WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Terpesona



Lagi dan lagi Kania mengemudi tanpa kendali. Pikiran dan hatinya sedang tidak sejalan saat ini. Ia hampir saja menabrak seseorang yang tiba-tiba lewat dengan mengenakan sepeda motor tepat di depan meraka.


"Astagfirullahalazim," ucap Kania sembari mengurut dadanya.


Kania menutup matanya dalam beberapa detik, kemudian kembali membuka matanya secara perlahan.


"Uda, kita ada dimana?"


Kania kaget, kalau ia saat ini tidak lagi berada di masa depan ketika membuka matanya.


Udara sejuk dan segar, pemandangan bukit hijau yang menyejukkan mata, hamparan sawah yang luas membuat Kania terpana bahwa Allah Maha Sumpurna. Maka Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?


Kania penasaran dan ia memutuskan keluar dari mobilnya. Ia berjalan pelan untuk menikmati keindahan alam hingga lupa kalau ia dan Syamsul tadi sedang bersama.


Sepanjang jalan terlihat para petani tengah memetik daun teh dengan keranjang besar dipunggungnya. Mereka terlihat kuat dan bersemangat. Kania selalu tertegun dengan para petani-petani hebat yang bekerja keras meski bercucuran peluh dan keringat tapi mereka merasa sangat bahagia.


Sementara Syamsul yang masih kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, akhirnya mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Ia membukakan pintu mobil dan merasakan udara di masa lalu terasa berbeda, hari ini sejuk dan dingin.


"Kania, tunggu!" sorak Syamsul yang berlari menghampiri Kania.


"Kamu kedinginan?" tanya Syamsul yang melihat Kania tengah melipat tangan.


"Sedikit, Uda. Tapi nggak apa-apa kok, udaranya sejuk, aku suka. Pemandangan asri seperti ini yang selalu aku rindukan," jawab Kania lembut.


"Aduh, Kania, rasanya baru beberapa jam kita di masa depan, kamu udah kangen kampung aja, padahal kita belum memecahkan teka-teki misteri dua masa yang berbeda ini," ucap Syamsul sembari menggaruk-garuk kepalanya.


Kania kemudian melihat jam tangannya, ternyata di masa lalu waktu menunjukkan pukul 10.30 Wib.


Kania ingin sekali salat dhuha di musala yang berada di bukit itu. Musala yang menyajikan pemandangan sawah yang asri. Pemandangan yang biasanya ia lihat di televisi saja.


"Uda, aku ingin ke musala dulu, boleh?" Kania tatap wajah calon suamiku dengan penuh kelembutan.


"Iya, tentu boleh." Senyum hangat selalu tergambar di wajah lelaki tampan itu.


Mereka berdua berjalan melangkahkan kaki selangkah demi selangkah menuju musala At-Taqwa yang terletak di ketinggian 2.000 meter dan konon katanya musala ini sudah ada sejak tahun 1987, sampai ke zaman moderen. Musala yang menjadi tujuan wisata religi bagi para pelancong yang ingin menikmati pemandangan sawah atau cuma sekedar tempat singgah untuk menenangkan pikiran dari penat dan hiruk-pikuk dunia.


"Kania, Uda penasaran bagaimana bisa kita bisa berpindah ke dua masa dalam waktu berdekatan seperti ini," ujar Syamsul yang masih terlihat penasaran di sela-sela perjalanan mereka menuju musala.


"Aku juga tidak tahu, Uda. Saat ini yang aku inginkan hanya menghadap sang pencinta," ucap Kania dengan tekat yang sangat kuat. Entah itu energi dari Siti, atau memang dirinyalah yang ingin berubah.


Ya, walaupun Kania juga penasaran dengan dua dimensi waktu yang berbeda itu, tetap saja Kania tidak bisa melakukan apapun selain fokus untuk menghadap sang pencipta karena baik di masa lalu maupun masa depan Tuhan tetaplah satu yaitu Allah.


"Abak dan Bundo sangat disiplin mendidik kamu ya," ucap Syamsul terpesona menatap wajah Kania.


"Aku juga tidak tahu, Uda, sekarang ini aku adalah Kania atau Siti," balas Kania datar tanpa menatap Syamsul.


"Kania ataupun Siti, aku tahu kamu adalah wanita baik," puji Syamsul.


"Kami diajarkan sedadi kecil, terutama perihal salat lima waktu, jika kami malas maka kedua orang tua kami tidak segan-segannya memukul kaki kami dengan lidi, agar kami melaksanakan salat. Abak juga rutin mengajarkan kami mengaji sehabis salat magrib. Abak dan Amak menjadikan agama dan adat istiadat sebagai panutan untuk menjalani kehidupan, kata beliau agar kita tidak salah arah," jelas Syamsul dengan semangat ketika membahas kedua orang tua yang sangat disayanginya.


Iri!


Kania merasa sangat iri dengan orang-orang di kampung yang benar-benar di sayangi dan diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Ikatan antara orang tua dan anak benar-benar sangat kental sekali, hingga rasa saling menyayangi terimat erat.


"Uda beruntung banget ya memiliki orang tua seperti itu."


Kania menunduk dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Kania, kamu juga beruntung, kamu memiliki harta benda dan kemewahan yang tidak kami miliki. Coba kamu lihat Siti, ia harus menikah dengan Datuak Maringgih karena keluarganya tidak punya uang untuk membayar hutang kepada rentenir," ucap Syamsul.


Kata-kata Syamsul benar-benar membuatku tersentil dan merasa malu dengan diriku sendiri.


Kania menatap Syamsul, ia terpesona dengan lelaki yang ada di sampingnya itu. Lelaki yang mirip sekali dengan Alex, kekasih hati yang akan menjadi calon suaminya kelak. Namun, lelaki itu bukanlah kekasihnya, melainkan seseorang yang berasal dari masa lalu.


Kania ingin sekali memecahkan banyak misteri dan ingin segera menjalankan kehidupan normal di dunianya, akan tetapi waktu berubah-ubah, terkadang ia di masa depan namun terkadang ia dikembalikan ke masa lalu. Namun, ada banyak hal yang Kania syukuri, salah satunya adalah pertemuannya dengan kedua orang tua Siti yang membuat ia belajar dan mendalami agama dan adat istiadat, kemudian ia diperkenalkan dengan Syamsul, lelaki yang datang sebagai malaikat baik dan membantunya menyelesaikan banyak persoalan.


"Kania, kok bengong?"


Syamsul menggoyang-goyangkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajah Kania, tapi Kania seolah melayang dan tidak menyadari itu dalam beberapa saat.


"Kania!" ucap Syamsul sekali lagi hingga Kania kaget.


"Astagfirullahalazim."


Kania memegang dadanya, saking kagetnya Kania merasa kalau jantungnya serasa akan copot.


"Kania, kamu kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?"


Syamsul merasa aneh dengan sikap Kania. Ia seolah paham dengan apa yang saat ini Kania rasakan di hatinya.


"Uda, kita sudah ada di depan musala, aku izin ke dalam terlebih dahulu," ujar Kania.


Kania pamit dan mempercepat langkah kakinya, ia malu kepada Syamsul dan ia juga tidak ingin ditanya apapun oleh Syamsul untuk saat ini.


Kania melangkahkan kaki kanannya ketika masuki musala, kemudian ia mengambil wudhu. Setelah itu Kania menggelar sajadah yang terlihat sederhana dan mengenakan mukena seadanya.


'Andai aku bisa membawakan perlengkapan salat untuk digunakan di musala ini pasti akan banyak jemaah yang merasa sangat senang,' ujar Kania di dalam hati.


Kania kemudian salat dan menghadap sang pencipta dengan membawa sejuta beban yang ingin ia kadukan diantaranya adalah papanya yang tengah disekap dan Alex yang entah berada di mana saat ini.


Kania tidak tahu akan melakukan apapun saat ini selain meminta bantuan dan petunjuk dari sang pencipta.


'Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan sekarang? Hamba benar-benar ingin menyelamatkan Papa hamba, akan tetapi bagaimana caranya? Hamba juga ingin membebaskan Siti dan keluarganya dari hutang, tapi hamba belum mempunyai ide apapun untuk menyelesaikan semua masalah ini, apa yang harus hamba lakukan?' ucap Kania berdoa di dalam hati.