WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Ingin Terlihat Cantik



Kania mengangguk, wajahnya semakin memerah karena ketahuan oleh papanya. Kania langsung menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari sang papa. Sungguh, sikap Kania saat ini lebih seperti Siti dari pada Kania yang sesungguhnya.


"Kania udah cantik kok, Nak."


Papa Haris tidak henti-hentinya memuji sang putri, karena beliau berusaha mengembalikan rasa percaya diri sang putri yang saat ini memang setipis kulit ari.


"Sekarang kita masuk ya, Nak?"


Kania mengangguk, karena separuh hatinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alex.


Ya, dengan menarik nafas panjang dan mengucapkan bismillah, Kania menyiapkan mentalnya untuk bertemu lagi dengan Alex. Sosok lelaki tampan yang tidak lain adalah kekasih hati yang sangat dicintai dan disayangi dengan segenap hati itu saat ini juga sedang berada di kursi roda. Ia menggenakan pakaian kemeja polos berwarna biru yang merupakan warna favoritnya. Wajah Alex penuh dengan luka yang masih dalam proses penyembuhan, namun senyumannya masih tetap sama, senyum manis yang terlihat sangat indah mempesona sekali.


Ya, Alex tersenyum kepada Kania, sorot matanya memperlihatkan kebahagiaan dengan pandangan yang tidak beralih dari Kania sedikitpun.


'Kenapa Alex terlihat semakin tampan dan mempesona?' ucap Kania di dalam hati dengan debaran jantung yang tidak biasa.


Ingin sekali rasanya Kania berlari dan menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Alex, namun apalah daya dan kuasa, saat ini ia hanya bisa duduk di kursi roda dengan bantuan dari papanya.


"Kania, aku sangat merindukanmu, Sayang, senang rasanya bisa melihatmu bangun kembali."


Itulah kata-kata pertama yang keluar dari lisan Alex, bahkan kata-kata itu spontan saja ia ucapkan tanpa malu kepada kedua orang tua.


"Kalau begitu Papa dan Pak Gunawan keluar dulu sebentar, kalian mengobrollah selama lima belas menit sebelum kalian berdua beristirahat," ucap papa Haris dan pak Gunawan, sembari berlalu pergi meninggalkan Kania dan Alex.


Kania dan Alex merasa sangat bersyukur sekali karena keduanya diberikan kesempatan untuk berbicara dan saling mengungkapkan rasa rindu di hati masing-masing.


"Sayang, aku merindukanmu," ucap Alex sekali lagi dengan jarak sekitar setengah meter dari Kania.


Dengan lemah Alex mengangkat tangannya, kemudian dengan sisa-sisa tenanga dan energi yang ia miliki, ia menggenggam tangan Kania, mencium dan meluapkan kerinduan dan kasih sayang yang selama ini ia simpan jauh di relung hatinya yang terdalam.


Sementara itu Kania hanya diam dalam kebisuannya, ia menerima saja berbagai perlakuan dan cinta yang Alex berikan kepadanya karena tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa saat ini Kania sangat bersyukur dan bahagia bisa bertemu lagi dengan Alex.


"Sayang, kenapa kamu hanya diam? Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Alex yang mengharapkan sebuah pengakuan dari Kania.


Sebuah pengakuan yang diungkapkan dengan kata-kata sangat diharapkan oleh seseorang sebagai pembuktian dari perasaannya saat ini, dan Alex sangat ingin sekali mendengarkannya dari mulut Kania, kekasih hati yang sangat dicintai dan disayanginya.


"Sayang, kenapa kamu menangis?"


Alex melihat air mata jatuh membasahi pipi Kania, hingga hatinya merasa sangat iba. Ada juga rasa bersalah yang menghantui hati dan perasaannya karena mungkin saja Kania tersinggung dengan apa yang dipertanyakannya kepada kekasihnya itu.


Ingin sekali rasanya Alex berjalan menghampiri Kania dan memeluk kekasih hatinya itu, mengatakan kata maaf dan kata-kata yang dapat menghibur hati dan perasaan Kania, karena Alex tidak akan tega melihat kekasih hatinya tersedih dan menangis, namun apalah daya karena saat ini Alex dan Kania sama-sama duduk di kursi roda dan tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari siapapun.


"Kania, maaf, Sayang, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Alex dengan wajah yang sangat penuh dengan rasa bersalah.


Kania menyeka air matanya, terlihat sekali kalau ia sedang mengumpulkan kata-kata untuk disampaikan kepada Alex.


"Jangan mengatakan apapun jika itu terlalu sulit, Nia!" timpal Alex.


Alex tidak ingin membebani Kania untuk hal yang membuat Kania tertekan dan hanya memuaskan hasrat dan keinginannya saja.


"Sayang, tahukah kamu betapa aku sangat ingin sekali memelukmu, mengatakan padamu kalau aku teramat sangat mencintai dan menyayangimu dengan segenap hati. Aku juga ingin mengungkapkan betapa aku sangat dan sangat merindukanmu. Harusnya kamu tahu tanpa aku katakan," ucap Kania dan isak tangisnya.


Kania tersedu-sedu, ia menangis dan mengungkapkan isi hatinya lewat deraian air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Sayang, maafkan aku, aku hanya tidak percaya diri, aku takut rasamu berubah kepadaku," ujar Alex.


Alex mengayuh kursi rodanya untuk berjalan mendekati Kania.


Dak ..., Dik ..., Duk ....


Jantung Kania dan Alex berdetak tidak menentu. Keduanya seolah seperti dua insan yang sedang jatuh cinta ketika pertama kali bertemu. Bahkan keduanya saling malu-malu dengan rona pipi memerah.


"Sayang!"


Alex menggenggam tangan Kania, mencoba mengungkapkan isi hati dan perasaaannya lewat sentuhan lembut yang mendebarkan dada.


"Sayang, aku senang bisa bertemu lagi denganmu."


Alex menatap mata Kania dengan kehangatan dan kelembutan cinta dan kasih sayangnya, kemudian mencium punggung tangan Kania dengan cinta tulus.


Kerinduan yang selama ini terpendam akhirnya tercurahkan juga, Alex dan Kania seperti kembali ke masa-masa pertama kali mereka jadian, saling kasmaran dan salin mencintai dengan segenap perasaan. Ya, perasaan berbunga-bunga hingga dunia terasa milik berdua.


"Kania, Sayang, terima kasih banyak karena telah sadar dan kembali ke masa depan," ucap Alex tiba-tiba.


Kania kaget, semua orng mengatakan kalau ia tengah koma dan bermimpi panjang, tapi Alex berbeda, ia seperti tahu apa yang terjadi kepada Kania.


"Masa depan?" tanya Kania dengan rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.


"Sayang, meskipun semua orang tidak percaya sama kamu, tapi aku tahu semua yang terjadi padamu," jelas Kania dengan rasa kaget yang hampir saja membuat jantungnya copot.


"Sayang, apakah kamu juga ikut ke masa lalu bersama denganku?" tanya Kania dengan semua rasa penasaran yang ia bawa bersamanya, sementara itu Alex hanya bisa mengangguk.


Alex paham dengan apa yang terjadi kepada Kania, karena semua yang terjadi seperti mimpi dan tidak ada yang percaya kepada mereka, tapi satu hal yang keduanya yakini kalau ada hikmah dari kembalinya mereka ke masa lalu, setidaknya mereka bisa menyusun rancana ke depan untuk hidup yang lebih baik.


"Sayang, aku rindu ke sekolah, aku rindu dengan teman-temanku," ucap Kania tiba-tiba.


Kania penasaran, apakah teman-temannya datang menjenguknya dalam keadaan sakit seperti ini, karena dalam keadaan sehat semua orang mendekatinya. Namun, ketika ia sakit semua orang menjauhinya.


"Aku juga tidak tahu, karena aku juga tidak sadarkan diri untuk beberapa waktu, dan setelah aku sadar, kita berdua dipisahkan."