
"Baiklah, Sayang, aku akan mengantarkanmu pulang. Nanati Bibi akan menemani dan menjagamu di rumah, apapun yang kamu inginkan dan apapun yang kamu butuhkan katakanlah kepada Bibi," jelas Alex.
"Ya tentu Mas Alex karena itu adalah tugas yang wajib saya jalankan," jelas bibi dengan senyum bersemangat.
"Iya, Sayang, jangan khawatir, aku hanya ingin me time."
"Apa kamu ajak Lara saja buat menemani kamu?"
Alex sepertinya tidak tega melihat Kania seorang diri di rumahnya tanpa adanya mama dan juga teman.
Sama dengan Alex yang kesepian tanpa ada orang tua lagi di sisinya, Kania juga seperti itu, Kania pasti membutuhkan sosok mamanya yang akan menemani dan memberikan nasehat kepadanya di hari menjelang pernikahan.
"Tidak usah, Sayang, Bibi 'kan ada untuk menemaniku."
"Atau aku yang menemani?"
"Tidak usah, Sayang, kamu pulang saja, kamu juga bituh istirahat dan kamu juga tidak ada yang bantuin di rumah 'kan? Jadi kamu butuh istirahat karena pernikahan kita tidak lama lagi jadi ku harus sehat," ucapku lembut dan sangat sopan agar Alex tidak merasa terusir atau tersinggung.
"Baiklah calon istriku ayang, tapi kalau ada apa-apa segera telepon aku dan kasih kabar ya, Sayang!" pinta Alex sembari mengaitkan kedua tangannya.
"Iya, Sayang," balas Kania dengan senyuman.
"Calon istri, jangan sungkan!"
Tiba-tiba Alex memanggilku dengan panggilan yang berbeda.
Hati Kania lagi-lagi berdebar karena malu karena diperhatikan Alex yang terus menatap Kania.
"Jangan terus tatap-tatapan seperti itu, belum muhrim!"
Bibi membuat Kania dan Alex kembali salah tingkah.
"Yuk, pulang!"
Kania menggindari bibi dan Alex, berjalan cepat menuju parkiran agar wajahnya yang memerah tidak terlihat oleh keduanya.
"Non, tunggu!"
Bibi langsung mengejar Kania, karena beliau sangat paham bagaimana perasaan majikan yang sudah beliau anggap sebagai anak sendiri.
Kania dan Bibi duduk di mobil bagian penumpang, sementara Alex menyetir mobil dengan hati-hati tanpa ada percakapan antara keduanya.
Diam dan hening seperti tidak ada penghuni, begitulah keadaan mereka saat ini.
Alex sesekali menatap wajah cantik Kania dari balik spion mobil, dan Kania juga melakukan hal yang sama, ia menatap Alex dari balik kaca spion.
Selang beberapa puluh menit kemudian sampailah mereka di depan rumah mewah yang terlihat seperti istana milik orang tua Kania.
"Terima kasih banyak, Mas Alex, sudah mengantarkan kami pulang."
"Sama-sama, Bi."
Alex bergegas membukakan pintu mobil untuk Kania agar gadis yang sangat dicintainya itu merasa nyaman. Ya, Alex benar-benar memperlakukan Kania layaknya ratu di hatinya, yang sangat dicintai dan disayanginya.
Perlakuan Alex kepada Kania saat ini mungkin saja sebagai bentuk pembalasan atas masa lalu yang menyakutkan yang diberikan oleh Syamsul kepada Siti. Cinta mereka mungkin tidak bersatu di masa lalu, namun di masa depan mereka berdua berjododoh dengan cinta yang selalu bersemi setiap harinya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Kania lembut ketika ia keluar dari mobil.
"Sayang, yakin tidak ditemani sama Lara saja?" tanya Alex sekalu lagi yang terdengar seperti memastikan.
"Iya, aku tidak apa-apa karena aku sedang ingin menikmati masa-masa sendirian," terang Kania dengan lembut dan penuh dengan keyakinan.
"Aku akan masuk ke rumah setelah kamu pergi, Sayang."
"Kamu saja yang duluan masuk, Sayang," ujar Alex.
"Kamu saja, Sayang."
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit."
"Sayang, hati-hati!"
"Non, Nona, hati-hati kenapa? Bangun, Non!"
Terdengar oleh Kania suara sang bibi tengah memanggil-manggil namanya. Kania merasa panggilan itu terdengar nyata, hingga buyarlah semua yang terjadi dalam seketika. Ya, Kania membuka mata dan melihat ada bibi di depannya, bukan Alex sang kekasih hatinya.
"Non, apa Non bermimpi?" tanya sang bibi heran.
"Mimpi? Maksudnya, Bi?"
Kania melihat sekelilingnya, kamarnya masih terlihat sama dengan warna merah muda yang mengiasinya. Namun, ada yang aneh, Kania melihat banyak slang infus dan alat bantuan pernafasan disekitarnya, bahkan ada seseorang yang terlihat seperti suster tengah ada di kamarnya.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' tanya Kania pada dirinya sendiri.
Kania mengingat berbagai kejadian mulai dari saat ia kecelakaan hingga berbolak-baliknya ia ke masa lalu, hingga kini harus dihadapkan pada kenyataan kalau ia sedang terbaring lemas di atas ranjang dengan infus yang menempel di tangannya.
Kania melihat asisten rumah tangganya sedang krasak-krusuk mencari ponselnya dan menekan tombol ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Tuan, Nona Kania sudah sadar."
Kata-kata, 'sudah sadar,' yang keluar dari lisan bibi membuatku benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin aku dikatakan sudah sadar semantara aku telah sadar sejak lama, bahkan aku sering mondar-mandir di masa lalu dan masa depan.
Ya, semua yang terjadi sekarang seperti kepingan-kepigan puzzle yang harus kususun agar bisa menemukan jawaban dan titik terang dari pertanyaan yang kuajukan.
"Bi, apa yang terjadi kepada saya? Kenapa saya memakai infus seperti ini?"
Kania mencoba bertanya dan memecahkan rasa penasarannya agar hatinya merasa lebih tenang dan damai karena semua yang terjadi pada dirinya terlihat nyata dan bukan mimpi, tapi kenyataan dirinya yang sedang terbaring lemah di kamarnya membuat Kania tidak bisa memikirkan apapun.
"Suster, bisa tolong telepon Dokter," pinta sang bibi sebelum beliau duduk di depanku.
"Dokter? Untuk apa Dokter, Bi?"
Semua yang terjadi benar-benar diluar nalarku, semua tidak bisa kukendalikan dan semua tidak bisa kupikirkan dengan kepalaku.
"Non, Nona Kania jangan banyak bergerak dan berpikir dulu, Nona harus banyak beristirahat agar cepat pulih," ungkap sang bibi dengan senyum tipis dengan wajah yang terlihat sangat lega sekali.
"Bi, bagaimana saya tidak berpikir jika keadaan saya sedang seperti ini. Saya perlu mengetahui sesuatu agar saya tidak penasaran," ungkap Kania memaksa sang bibi untuk jujur kepadanya. Namun, sang asisten rumah tangga hanya diam dalam hening dan kebisuan, bibirnya bergetar ingin mengungkapkan sesuatu namun mulut itu terlalu sulit untuk berbicara.
"Bi, mana Papa dan Alex?"
Kania kemudian teringat dengan dua orang yang sangat dicintainya itu karena ia memang belum melihat batang hidung dari dua orang lelaki yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hati itu.
"Non, Bibi akan menjeaskan semuanya secara perlahan, jadi sekarang Non tenang dulu, karena Nona baru saja sadar dari koma selama lebih dari dua bulan."
"Dua bulan?"
Mata Kania melotot dengan mulut menganga, ekspresi terkejut yang ia tampakkan itu menggambarkan kalau ia tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh sang bibi. Ya, bagaimana mungkin ia koma selama itu sementara selama ini ia selalu bolak-balik ke masa lalu dan masa depan, bahkan ia telah menyusun banyak strategi bersama Alex untuk menghindari perjodohan dengan datuak Maringgih dan juga om Galih, lebih dari itu ia bahkan berniat nikah muda dengan Alex agar ia bisa menghindari pernikahan dengan om Galih.
"Bi, apa maksud Bibi? Jangan main-main dengan saya, Bi!"