WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Makan Bersama



Kania merasa sangat senang dan bahagia karena satu persatu dirinya telah berubah menjadi manusia yang lebih baik.


Kembali ke masa lalu membuat Kania berubah banyak menjadi manusia yang lebih baik.


'Abak, Bunda, lihatlah, Kania kembali ke masa depan dengan bahagia dengan Papa dan Alex,' ucap Kania di dalam hati.


Andai ada mama, abak dan bundo disini saat ini tentu saja mereka akan merasa senang dan bahagia.


"Non, Bibi merasa sangat senang dan bahagia melihat Non menjadi gadis yang lebih baik ketika bangun dari koma."


Dengan wajah berkaca-kaca, bibi mengungkapkan bagaimana perasaannya hari ini.


"Apakah yang terjadi kepada Papa selama Kania koma?"


Rasa penasaran membuat Kania mempertanyakan banyak hal termasuk saat dimana ia koma.


Bibi menjelaskan kalau papa Haris merasa sangat menyesal karena memaksakan kehendaknya untuk menikahkan Kania dengan Om Galih hanya karena uang. Papa Haris juga menjadi lebih dekat dengan Allah, berdoa setiap hari dan meminta kepada Allah semoga putri kesayangannya diberikan kesehatan dan kesembuhan. Jika putrinya sembuh maka ia berjanji akan mengabulkan apa saja keinginan Kania karena baginya kebahagiaan Kania adalah yang terpenting.


Setiap hari papa Haris dan Alex merawat Kania dengan setulus hatinya. Meski dokter mengatakan tidak ada lagi harapan bagi Kania untuk hidup, tapi keduanya percaya kalau Kania akan kembali hidup karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


"Masyaallah, berarti doaku dari masa lalu diijabah oleh Allah. Aku berdoa agar Papa dan Alex jadi akur," ucapku di dalam hati.


"Sekarang Non berbahagialah! Jalani kehidupan baru yang lebih baik bersama Mas Alex. Menikahlah dan lahirkanlah keturunan yang saleh dan saleha karena Tuan Haris sebenarnya setiap hari merasakan kesepian yang teramat sangat di rumah yang besar ini," jelas sang bibi.


Kini Kania bertekat, kalaupun ia menikah dengan Alex, ia tidak akan pergi dari rumah ini dan meninggalkan papanya karena ia tidak ingin membuat papanya kesepian dan hidup sendirian di hari tuanya.


"Non, Bibi merasa kalau Non Kania telah berubah menjadi manusia yang sangat berbeda, tidak seperti yang dulu. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Non semasa koma?"


Seperti memiliki telepati, bibi terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepadaku.


"Tidak terjadi apa-apa, Bi, hanya saja Kania merasa Tuhan memberikan Kania kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik," jelas Kania sembari tersenyum kepada bibi.


"Bibi turut senang mendengarnya, Non," balas bibi yang juga tidak kalah bahagianya dengan senyum menawan.


"Bi, apa boleh Kania meminta tolong lagi?"


"Tentu boleh, Non, apa yang bisa Bibi bantu?"


"Apa Bibi bisa membantu Kania berdiri karena Kania ingin melihat wajah Kania di cermin."


Sebagai seorang wanita, melihat wajah di cermin sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan, apalagi Kania adalah tipe wanita yang sangat mengandalkan dan peduli sekali dengan penampilannya untuk menunjang pekerjaannya.


"Tentu, Non."


Bibi membantu Kania berdiri dan membawa Kania ke depan cermin berukiran besar yang ada di kamar Kania.


Kania melihat wajahnya di cermin, tubuhnya terlihat kurus dan pucat, mungkin karena ia hanya mendapatkan makanan dari infus. Badan Kania juga terlihat sangat lemah sekali, namun senyum manis tidak pernah hilang dari wajah Kania. Kania merasa sangat bersyukur bisa kembali bangun untuk merubah hidupnya menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Kania percaya, semua yang terjadi di hidupnya menjadi pelajaran untuknya menjadi manusia yang lebih baik.


"Bibi, apakah Kania pantas menjadi istrinya Alex?" Pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh Kania kalau mamanya masih ada. Ia ingin kata-kata penguat dan penyemangat yang membuatnya yakin kalau pilihannya adalah pilihan yang tepat.


"Tentu saja, karena Mas Alex memang diciptakan untuk Non Kania, kalian berdua tidak akan pernah dipisahkan walaupun banyak halangan dan rintangan yang menghalangi," ucap bibi seolah ia mengetahui banyak hal tentang hubungan Kania dan Alex.


Bibi tersenyum sembari menatap Kania dengan tatapan yang penuh makna. Entah mengapa Kania merasa kalau bibi akhir-akhir ini malah terlihat seperti bundo yang datang dari masa lalu.


"Non, apa boleh bibi memeluk Non?"


Dengan tatapan dan mata berbinar, bibi berharap Kania mengizinkannya untuk memeluk Kania.


"Tentu boleh, Bi," balas Kania dengan senyum indah dan menawan.


Kania memeluk Bibi dengan erat dan mengatakan kepada bibi kalau ia sangat bersyukur sekali ada bibi disini untuk menjaga dan menemaninya.


"Bibi sayang sekali sama Non, Bibi juga merasa sangat bersyukur sekali karena Non kembali dengan keadaan yang lebih baik seperti ini. Tetaplah berbahagia, karena banyak orang yang mengharapkan Non tersenyum bahagia," ucap bibi sembari menepuk-nepuk pundak Kania.


Kania merasakan pelukan bibi terasa seperti pelukan bundo, hingga kerinduan Kania kepada bundo bisa sedikit terobati.


Kania merasa sangat bahagia sekali karena hidupnya dipenuhi oleh orang-orang baik yang sangat mencintai dan menyayanginya dengan sangat tulus tanpa pamrih.


"Bi, apakah Papa dan Alex sudah siap memasak ya?"


Kania merasa perutnya sudah mulai keroncongan dan ingin segera mencicipi makanan.


"Apa Bibi coba lihat, Non?" ucap Bibi.


Kania mengangguk, ia berharap bisa segera makan karena ia merasa benar-benar sangat lapar saat ini.


"Baiklah, Non, Bibi keluar dulu ya, Non berbaringlah lagi!"


Bibi membatu Kania kembali berbaring di atas ranjangnya karena Kania memang masih belum kuat sama sekali.


Setelah bibi meninggalkan kamarnya, Kania kemudian mengenang masa-masa indahnya ketika berada di masa lalu bersama dengan abak dan bunda, kedua orang tua yang sangat disayanginya.


Kania kemudian teringat dengan momen masa kecilnya bersama dengan mama dan papanya. Ia ingat dimana mamanya sangat memanjakan Kania dan memperlakukan Kania layaknya seorang putri. Kania ingin sekali kembali merasakan pelukan mamanya, bahkan walaupun dalam mimpi sesaat Kania ingin bertemu dengan mamanya.


Tok ..., Tok ..., Tok ....


Lamunan Kania disadarkan ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Sayang, masakannya udah masak, hidangannya juga sedang ditata oleh Bibi di halaman. Yuk kita keluar!"


Alex datang dengan senyuman dan mengabarkan kepada Kania kalau semuanya telah beres dan Kania bisa menyantap makanannya.


"Baiklah, Sayang, aku juga sudah tidak sabar ingin segera makan, rasanya lapar sekali," ucap Kania lembut sembari melemparkan senyuman terbaiknya kepada Alex.


"Aku bantuin ya!"


Alex menggotong tubuh Kania dan mendorong gadis cantik itu menggunakan kursi roda untuk sampai di taman.


"Terima kasih, Sayang."


Kania merasa sangat senang karena Alex memperlakukannya dengan baik, penuh cinta dan kasih sayang yang sangat tulus. Ya, dia adalah Kania bukan Siti Nurbaya. Kania adalah gadis yang sangat beruntung yang mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sangat tulus dari Alex.