
"Tidak ada, Pak!" ucap Kania dan Alex serentak.
"Wah, kalian berdua pacaran ya?" tebak pak Adrian.
"Siapa yang pacaran?" ucap Kania protes dan tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh pak Adrian, karena saat ini Kania harus bersikap profesional dalam urusan yang berhubungan dengan pekerjaan.
"Kalian lah siapa lagi! Emang saya, pacar saya bahkan nggak ada disini?" celetuk pak Adrian dengan senyuman menggoda sehingga membuat Kania terlihat semakin kesal dan emosi.
Pak Adrian kemudian mendekati Kania dan Alex, ia kemudian menyelinap di tengah-tengah mereka tapi mereka berdua memalingkan wajah dan badannya dari pak Adrian, mereka berdua memunggungi pak Adrian yang membuat pak Adrian merasa lucu dengan sikap dua orang anak rekan kerja yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Pak Adrian kemudian memainkan jurus menggelitik kedua anak rekan kerja yang ia anggap anak dan sahabatnya itu, hingga mereka berdua tertawa lepas dan kegirangan. Tidak mau kalah, Kania dan Alex juga ikut membalas menggelitik pak Adrian sehingga terjadilah pemandangan lucu yang membuat mereka semua tertawa bahagia.
"Ampun, Kania ...!" teriak pak Adrian.
"Ampun KKania. .," Alex juga tidak mau kalah meminta ampun.
"Nia, Alex sudah! Saya sudah tidak kuat, bagaimana kalau sekarang kita makan malam dulu. Kalian mau makan bukan?" ucap pak Adrian yang terdengar tegas sembari mengangkat tangannya pertanda menyerah.
Kania dan Alex langsung terdiam dan berhenti. Secepat kilat mereka langsung berhenti dan bersikap layaknya seorang profesional dalam urusan pekerjaan.
Mereka bertiga berjalan tempat makan untuk menikmati hidangan makanan yang telah disediakan sembari menunggu ikan yang mereka bakar siap untuk disantap.
"Kurang ah, kita pesan makanan lain yuk!" ucap pak Adrian.
"Baik, Pak," jawab Kania dan Alex serentak.
"Kania, kamu disini saja, biar saya dan Alex yang memesan makanan," ucap pak Adrian.
"Baik, Pak," Kania menurut dan tidak jadi mengikuti pak Adrian dan Alex yang saat ini sedang memesan makanan.
Kania kemudian memilih berada di outdoor, ia membentangkan tikar di halaman yang ukurannya memang sangat luas, cocok sekali untuk dijadikan lesehan.
Kania dibantu oleh pelayan restoran untuk menata hidangan makanan yang terlihat enak dan lezat itu.
Sementara itu di halaman villa terlihat para pelayan lelaki tengah mempersiapkan perlengkapan untuk membakar api unggun. Semua ini mengingatkan Kania kepada mamanya, karena dulu mereka sering melakukan kegiatan seperti ini kala liburan.
Kania memasuki villa dan menuju dapur, ia lihat mamanya tengah memanaskan air.
Kania berjalan datangi mamanya dan ia peluk mamanya dari belakang sembari menyandarkan pipinya di bahu mamanya.
"Mama," ucap Kania sembari memeluk mamanya.
Rasanya sehari ini ia tidak bermanja dan bercengkrama dengan mamanya, hingga ia merindukan mamanya.
"Anak gadis Mama dari mana saja, dari tadi sibuk bermain kayaknya," ucap mama Kania.
Mama Kania membalikkan badannya dan menatap wajah Kania yang cantik, kemudian mama mencium pipi Kania, putri kesayangannya itu.
"Mama, Kania kangen sama Mama," ucap Kania lembut. Kali ini Kania melingkarkan tangannya di tangan mamanya.
"Masyaallah, anak manja! Baru sedetik aja nggak ngelihat Mama udah bilang kangen aja kamu, Nak," sela papa Haris sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya nih, Pa, Nia mah sebenarnya dari tadi sibuk di sekolah sama kayak Papa yang sibuk dikantor," adu mama kepada papa Haris.
"Iih..., Papa, apaan sih, siapa juga yang pacaran, Pa," bantah Kania dengan wajah cemberut.
"Beneran, Nia, apa iya kamu pacaran, Nak?" tanya mama dengan raut wajah penasaran.
Papa dan mama memang tidak suka melihat Kania berpacaran karena kata mama berpacaran itu mendekati zina dan Allah sangat tidak suka itu.
"Nggak kok, Ma, Pa," ucap Kania dengan nada lembut untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu tahukan Mama sangat melarang kamu berpacaran, karena tidak bermanfaat sama sekali," ujar mama Kania.
"Iya, Ma, Nia tahu kok. Nia nggak pacaran kok, Ma," ucap Kania membela diri.
"Nia nggak pacaran kok, Ma. Cuma dilamar sama anak Pak Adrian, sebentar lagi Nia bakalan menikah, Ma," goda papa Haris.
"Iih, Papa apaan sih, nggak ko, Ma!"
"Benar kok Ma apa yang Papa bilang, Pak Adrian emang melamar Nia," Papa kembali membenarkan ucapannya.
"Apa itu benar, Nak?" tanya mama Kania dengan raut wajah penasaran.
Mama mendekati Kania dan menatap tajam mata Kania. Kania harus jujur kepada mamanya karena ia tidak bisa berbohong kepada mamanya, kalaupun ia berbohong mama tidak akan mempercayainya karena raut wajah Kania terlihat jelas kalau ia berbohong.
"Nak, lihat mata Mama dan jawab pertanyaan Mama," ucap mama lembut namun terlihat serius.
"Iya, Ma!" jawab Kania lembut.
"Masyaallah, Nak. Kamu harus salat istikharah nih," jawab mama.
"Mengapa harus salat istikharah, Ma?" tanya Kania penasaran.
"Karena Satria juga sudah melamar Nia ke Mama dan juga Papa. Jadi, Nia harus meminta petunjuk Allah untuk memilihkan yang terbaik untuk Kania menurut Allah, pasrah dan berserah dirilah kepada Allah, karena Allah maha membolak-balikkan hati, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak, hanya dengan mengatakan Kun Fayakun semua akan terjadi, mudah bagi Allah membalikkan keadaan bahkan lebih mudah dari membalikkan telapak tangan," jelas mama Kania panjang lebar.
"Masyaallah, Ma. Kania masih SMA, belum siap menikah. Sekarang Kania hanya pengen belajar banyak hal dari Mama, ajari Kania tentang islam ya, Ma," ucapa Kania sembari mendekati mamanya dan langsung memeluk mamanya.
"Iya, Sayang. Kita bisa sama-sama belajar, Nak." Senyum merekah dari wajah cantik dan ramah mama Kania.
"Ma, apaka istiqarah itu hanya untuk menentukan dua pilihan?" tanya Kania lagi penasaran.
"Istiqarah tidak hanya untuk menentukan dua pilihan tapi untuk menguatkan hati pada pilihan itu. Kalau masalah baru kenal atau bagaimananya, bukankah banyak orang yang menikah karena dijodohkan dan ada juga yang prosesnya taaruf sebelum memutuskan menikah. Alhamdulillah, sampai hari ini Mama melihat banyak keluarga bahagia-bahagia saja. Yang namanya masalah dan pertengkaran pasti ada, nanya saja menyatukan dua kepala, tapi kembali lagi kepada niat, kita itu menikah untuk apa? Untuk melepaskan status jomblo atau menyempurnakan agama dan beribadah kepada Allah?"
Penjelasan mama Kania memang sangat apik, penyampaian sederhana yang mudah di mengerti dan di pahami oleh orang awam seperti kami yang tidak terlalu paham dengan ilmu fikih.
"Tentu saja Kania ingin menikah untuk beribadah kepada Allah, Ma," jawab Kania tegas.
"Jika niatnya karena Allah, maka bismillah saja, Nak. Insaallah jalannya akan dipermudah oleh Allah," jelas mama Kania sembari menepuk-nepuk pundak putri kesayangannya.
Hanya saja Kania belum siap menikah untuk waktu dekat, karena saat ini hatinya terpaut pada sosok lelaki tampan yang juga sudah melamarnya dan ia masih ingin sekali sukses dulu sebelum menikah, apalagi ia harus membantu Siti.
Sungguh, mengenang masa-masa indah bersama mamanya membuat Kania merindukan mamanya yang sangat disayanginya itu. Mama yang sudah pergi saat Kania baru kelas satu SMA, saat Kania baru saja belajar agama. Namun, ketika mamanya pergi, hidup Kania menjadi berantakan.
"Mama, Nia rindu," ucap Kania sembari meneteskan air mata.