
"Sayang, dulu aku dan keluargaku sering sekali jalan-jalan ke pantai," ucap Kania sembari mengenang kembali masa lalunya bersama keluarganya yang sangat harmonis.
Mobil papanya melaju dengan kecepatan standar. Ya, jalan-jalan bagi Kania sekeluarga adalah waktu bersantai sembari menikmati pemandangan alam yang sangat dinantikan oleh Kania. Memandang kiri dan kanan sembari menikmati keindahan ciptaan Tuhan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Kania dengan keluarganya.
"Papa, Nia senang deh bisa piknik di ke pantai. Nia pengen lihat kerbau-kerbau yang berkeliaran di sekitar pantai sambil melihat pemandangan gunung yang terlihat dari tepi pantai," ucap Kania dengan raut wajah bahagia.
Kedua orang tua Kania sangat senang melihat putri kesayangannya bermain di pasir putih sembari berlari-lari dan tersenyum bahagia.
"Iya, Papa, Kania rasanya sudah tidak sabar bermain air laut di pasir putih sambil berlari-larian mengikuti irama ombak, rasanya benar-benar sangat menyenangkan," ucap Kania yang terlihat sangat bahagia sekali.
"Anak gadis Mama dan Papa benar-benar udah nggak sabar ya menikmati pantai? Mama senang banget melihat anak Mama bahagia dan ceria seperti ini. Tetaplah berbahagia ya, Nak, bahkan walaupun tidak ada Mama dan Papa kamu harus tetap bahagia ya, Sayang," ucap mama dengan tatapan penuh harap sembari membelai rambut Kania.
"Benar itu kata Mama, walaupun tidak ada Papa dan Mama nanti, kamu harus tetap bahagia, dan yang terpenting kamu harus selalu mendoakan Mama dan Papa karena yang kami butuhkan adalah doa dari anak yang saleha," ucap papa yang juga penuh harap sembari menyetir mobil.
"Mama, Papa, kenapa bicara aneh seperti itu? Mama dan Papa akan menemani Kania sampai kami dewasa, sukses, memiliki suami dan memberikan cucu untuk Mama dan Papa. Kita akan hidup bahagia untuk waktu yang sangat lama. Jadi, Izinkan Kania berbakti kepada Mama dan Papa," ucap Kania sembari tersenyum bahagia.
"Aamiin Ya Allah, semoga Mama dan Papa bisa melihat anak-anak dewasa, hingga memiliki anak cucu yang saleh dan saleha," ucap mama lembut sembari mengelus-elus rambut Kania yang terurai panjang.
"Papa bangga sekali sama anak Papa, karena menjadi anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tua," puji papa dengan memberikan senyuman termanisnya.
Tuhan menyuruh hamba-Nya untuk berbakti kepada kedua orang tua : "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."
Sungguh, Mama selalu mengajarkan agama kepada Kania dalam menjalani kehidupannya ketika Kania kecil, setiap hari akan ada pelajaran-pelajaran yang membuat keimanan Kania semakin terjaga. Akan tetapi setelah mama meninggal kehidupan Kania telah berubah drastis.
Rindu!
Sungguh Kania merindukan masa-masa indah bersama kedua orang tuanya yang waktu itu sangat harmonis.
Kania ingat ketika keluarganya waktu itu harmonis
Setelah asik bercengkrama di mobil, tidak terasa 30 menit waktu di tempuh. Akhirnya Kania dan keluarganya sampai juga di pantai yang berada di pinggir kota Jakarta dengan pemandangan alam yang sangat asri sekali.
Pantai yang menyajikan lukisan alam yang sangat sempurna ciptaan Tuhan Sang Pencipta, pemandangan laut biru dengan langit putih nan cerah serta pemandangan pegunungan bisa dinikmati menjadi satu. Hamparan rumput hijau dengan ratusan pohon kelapa yang menyejukkan mata menyajikan daya tarik sendiri di pantai itu. Yang unik lagi dari pantai ini, kerbau-kerbau jinak berkeliaran saja di tepi pantai. Benar-benar pemandangan unik yang hanya ada di pantai pinggir kota ini.
"Nia udah nggak sabar main air laut," ujar Kania bersemangat.
Wajah Kania merona bahagia, seolah dunia ini adalah miliknya.
"Sayang, hati-hati," sorak mama ketika melihat putri kesayangannya keluar dari mobil.
"Kania, Sayang, hati-hati, jangan jauh-jauh mainnya ya, Nak! teriak papa ketika melihat putri kesayangannya berlarian.
"Siap, Ma, Pa, Kania hanya bermain di sekitar sini kok, Ma," ucap Kania sembari berlari menyusuri pantai.
"Bi, tolong temenin Kania, jaga Kania baik-baik ya, jangan sampai dia terluka!" Terdengar samar suara mama dari kejauhan meminta sang bibi untuk menjaga dan merawat anak kesayangannya itu.
Bibi adalah orang tua kedua bagi Kania, beliau yang merawat dan menjaga Kania ketika kedua orang tuanya sedang bekerja atau tidak ada di rumah. Beliau mencintai dan menyayangi Kania dengan tulus dan sangat peduli dengan Kania, menganggap Kania layaknya putrinya sendiri. Bahkan, Kania juga sangat mencintai dan menyayangi bibi layaknya orang tuanya sendiri. Kania tidak bisa jika tidak ada bibi di rumah, karena Kania sudah sangat bergantung kepada beliau sejak mamanya meninggal dunia.
"Iya, Tuan, Nyonya, Bibi ikut main dulu ya, menemani Non Kania," ucap bibi yang juga ikut berlari mengejar Kania ke tepi pantai.
Bibi sudah tidak sadar kalau dirinya sudah berumur, ia tetap berjiwa muda dan bermain dengan Kania layaknya seorang anak muda yang tidak tahu capek sama sekali.
"Bibi, kejar Kania, Bi ...!" teriak Kania sembari berlari semakin kencang menyusuri setiap sudut pantai yang terasa seperti pantai miliknya sendiri. Sementara bibi dengan semangat empat lima juga ikut mengejar Kania dengan hati dan perasaan yang teramat sangat bahagia.
Dua orang itu terlihat akrab dan terlihat sepertri ibu dan anak kandung itu benar-benar seperti pemandangan indah yang indah untuk diabadikan.
"Bi, Bibi nggak ada capek-capeknya ya," tanya Kania sembari menatap wajah bibi yang terlihat bahagia sekali karena asik bermain dan bercengkrama dengannya.
"Bibi sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini, Non," jelas sang bibi.
Bibi selalu ikut diajak jalan-jalan jika Kania dan keluarganya jalan-jalan. Bagi Kania, bibi sudah seperti keluarganya sendiri, kadang menjadi teman, sahabat, orang tua bahkan tempat curhat dan mengadukan keluh kesah jika mama dan papanya sedang sibuk.
"Bi, Kania senang banget melihat Mama dan Papa selalu mesra setiap hari," ujar Kania sembari tersenyum.
Kania menatap kepada kedua orang tuanya yang saat ini tengah bermesraan sembari menikmati pantai, dimana ombak dan laut putih dengan pemandangan langit menambah kesenangan hati dan jiwa.
Kania berharap semoga kedua orang tuanya bisa selamanya mesra dan menua bersama hingga akhir hayat. Namun, impian Kania tidak bisa menjadi kenyataan, mama Kania telah pergi untuk selamanya. Sejak mama Kania meninggal, papanya menjadi berubah dan sangat rakus akan harta, tidak lagi mencinta dan menyayangi Kania, bahkan ingin menjual Kania hanya untuk memperluas bisnis kepada seorang tua bangka yang sudah bau tanah.
'Mama, Kania sangat rindu sama Mama. Rasanya Kania sangat ingin sekali mengulang masa lalu kita yang dulu sangat indah,' ucap Kania di dalam hati dengam air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Kania benar-benar ingin menemui mamanya dan memeluk beliau dan mengadukan semua kesedihan yang ia rasakan saat ini.
"Kemana aku akan menemui Mama?"